Jumat, 29 Mei 2015

You! Please Stop Disturbing Me



Tsuki Proudly Presents

‘YOU! PLEASE STOP DISTURBING ME!’
Hoshi Haruka | Ryosuke Yamada (Hey! Say JUMP)
Tsuki Akiyama | Yuto Nakajima | Kei Inoo | Hikaru Yaotome | Other..
“Ini fanfic pertamaku yang aku share diblog. Sebenarnya fanfic ini aku buat untuk sahabatku Hoshi sebagai kenang-kenangan. Aku harap semua terhibur dengan fanfic gaje dan sedikit khayal ini. Dan yang terpenting, jangan lupa komentarnya ya. Arigatou Gozaimasu”

Happy Reading ^^

 

          Kereta api listrik memang transportasi yang paling nyaman dan ekonomis, tidak ada yang namanya saling berdesakan mencari tempat. Bebas melihat pemandangan alam yang terbentang sepanjang jalur kereta. Oleh karena itu banyak orang yang memilih transportasi ini untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Begitu pula seorang siswi SMA tingkat 2 yang satu ini. Seperti biasa ia memilih sisi tempat duduk yang dekat dengan jendela. Jari-jari lentiknya sesekali mengetuk-ketuk bingkai jendela dan bibirnya bersenandung lirih seirama ketukan jemarinya.
          Angin berhembus lembut dari celah jendela kereta yang sedikit terbuka, membelai lembut poni gadis itu. Cahaya matahari pun mulai semakin terang, terdengar beberapa kicau burung yang bersahut-sahutan menyambutnya. Benar-benar pagi yang indah.
          Pemandangan alam itu mulai menghilang sedikit demi sedikit tergantikan oleh gedung-gedung modern yang berjajar rapi, tanda sebentar lagi kereta akan berhenti. Gadis itu mengambil tasnya, kemudian merapikan seragamnya. Tak butuh waktu lama lagi, kereta pun berhenti dengan mulus di depan stasiun. Semua orang yang tujuannya di daerah sekitar situ pun turun, namun beberapa masih duduk di tempatnya menunggu pemberhentian selanjutnya.
          Gadis itu pun turun.
          “Haahh” ia menghela nafas lega sambil menatap sekeliling tempat yang selalu menjadi tujuannya sebelum tujuan utamanya itu.  Ia kembali merapikan seragamnya. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.
          “Ohayou gozaimasu” sapanya pada bapak penjual karcis yang selalu setia ditempatnya melayani para pengguna jasa kereta.
          “Ohayou! Hati-hati ya!” kata bapak itu. Seperti biasanya.
          Gadis itu menanggapinya dengan senyum simpulnya tak lupa lambaian tangan mungilnya itu.
          Setelah keluar dari area stasiun, ia masih harus berjalan kaki sekitar 150 meter lagi untuk menuju sekolah. Tapi terkadang ada temannya yang menawarinya bantuan, maksudnya dengan senang hati memboncengnya sampai ke sekolah. Dan itu tidak selalu di terimanya, karena dia merasa semua orang membantu hanya untuk mendapat imbalan, atau kalau ada maunya saja.
          “Ka~~~” teriak seseorang dari belakang. Mendengar nama itu disebut, gadis itu langsung tahu siapa orang yang memanggilnya itu. Dia benar-benar tidak suka di panggil dengan sebutan itu. Dia pun tidak peduli dan terus berjalan.
          “Ohayou~” sapa seorang lelaki dengan santai sambil memelankan sepedanya agar bisa menyamai langkah gadis itu. Gadis itu hanya diam sambil terus berjalan dan memegangi tali tasnya.
          “Hei... kenapa Ka terlihat sangat kesal? Apa aku berbuat kesalahan hari ini? Ahh, kurasa tidak, kita kan baru bertemu” cerocos lelaki itu. Gadis itu menghentikan langkahnya, dan menatap tajam lelaki disampingnya itu. Seketika lelaki itu menghentikan sepedanya juga dan balik menatap tajam gadis itu. Mereka saling beradu tatapan mata. Namun akhirnya si Gadis sudah tidak tahan dan membuang pandangannya kearah lain. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak semakin membuat Gadis itu kesal.
          “Hei! Apa yang kau tertawakan?” kerasnya.
          “Hahaha... kau itu benar-benar lucu... selalu mengajakku beradu tatapan mata tapi kau juga yang menyerah... hahaha... Ka yang lucu.. hahaha” tawa lelaki itu membuat darah gadis itu panas.
          “Apa kau tidak tahu namaku?” teriaknya.
          “Tahu. Nama lengkapmu Hoshi Haruka, kau biasa di panggil Hoshi, kau adalah teman sekelasku, anak aneh tapi lucu. Hahahah” ujar lelaki itu di sambung tawa menjengkelkannya.
          “Hhh. Benar. Lalu kenapa kau memanggilku seperti itu? Ka? Apa itu. Panggil seperti orang lain saja. Benar-benar membuat kupingku gatal” rutuk gadis itu sambil melanjutkan langkahnya.
          “Oh. Kenapa? Itu kan lucu. Haru.... Kaaa~~~ ” canda lelaki itu menjadi. Gadis itu langsung menutup kedua telinganya dan berlari menuju gedung sekolah.
          “Ka~~~. Tunggu aku... Kaa~~~ “ goda lelaki itu sambil mengayuh sepedanya menuju tempat parkir.

          Hoshi Haruka. Itulah nama lengkap gadis itu. Ia biasa di panggil Hoshi. Dari namanya, berarti bintang di musim semi, karena dia memang lahir di musim semi, dan saat itu bintang begitu indah bersinar di langit.
          Dan, lelaki tadi, namanya adalah Ryosuke Yamada. Siswa paling jahil dan cukup populer di sekolah. Dia selalu bisa kabur dari masalah hanya karena ketampanan dan keimutannya. Tapi itu semua tidak berpengaruh pada Hoshi. Dan, dia adalah teman paling menyebalkan baginya.

          Hoshi berjalan menuju kelas dengan kesal. Ia mengganti sepatunya di depan kelas sesuai peraturan yang ada. Saat mengambil sepatu ganti di lokernya, tak sengaja ia melihat loker milik Ryosuke yang terlihat begitu meriah dengan tempelan stiker berisi kata-kata yang ya, memuakkan.
          “Hhh. Semua orang pasti sedang tidak waras. Dasar menyebalkan” umpatnya sambil merobek beberapa kertas yang menempel diloker Ryosuke. Setelah itu ia meremasnya dengan kesal dan membuangnya ke tempat sampah tak jauh darinya.
          “Kau... cemburu, ya?” tanya seseorang membuat Hoshi kaget. Ia semakin terkejut lagi saat melihat orang yang berbicara padanya itu.
          “Y..yuu..to?” gagapnya sambil menyembunyikan tangannya.
          “Kenapa kau mencabuti kertas-kertas itu?” tanya orang yang di panggil Yuto itu.
          “Aaa... tidak. Hanya kebetulan saja tadi jatuh dan aku memungutnya. Tidak bagus kalau lantainya kotor kan?” ujar Hoshi mencari alasan. Yuto masih menatapnya tak percaya.
          ‘Aduh, kenapa harus ketahuan sama dia sih? Hhh’ gerutu Hoshi dalam hati. Ia hanya tersenyum garing pada Yuto. Yuto hanya mengangguk, mengerti. Hoshi bernafas lega.
          “Ohayou! Yuto!” teriak seseorang yang tak lain adalah Ryosuke. Yuto melambaikan tangan kearahnya. Melihat Ryosuke semakin mendekat Hoshi langsung masuk kedalam kelas.
          “Hei... Ka~~” panggil Ryosuke lagi. Tapi tak di hiraukan Hoshi.
          “Berhentilah memanggilnya seperti itu” nasehat Yuto.
          “Kenapa? Itu lucu kan? Dan Simple” jawab Ryosuke sambil mengganti sepatunya. Ia hanya menatap sekilas semua stiker dan surat di lokernya lalu masuk diikuti Yuto.
          “Ohayou!” sapanya pada semua teman-teman sekelasnya.
          “Ohayou~!” jawab beberapa temannya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh kelas mencari sesuatu dan akhirnya melihat seorang yang tengah di carinya sedang sibuk merapikan alat-alat kebersihan. Ia pun menghampirinya.
          Ia tersenyum evil, seakan merencanakan sesuatu.
BRAAKK. Tiba-tiba dengan sengaja ia membuat kakinya tersandung kaki kursi dan jatuh menubruk tempat alat kebersihan itu, membuat semuanya kembali berantakan.
“Auhh” rintihnya. Semua orang menatapnya aneh. Sedang orang yang baru saja merapikan semua alat itu menatapnya kesal. Orang itu tak lain adalah Hoshi.
“Hei. Tolong aku! Apa kau tidak lihat aku baru saja terjatuh?” acting Ryosuke. Hoshi hanya tersenyum kecut dan kembali merapikan semua alat-alat itu lalu keluar dengan cueknya. “Hahh. Benar-benar, gadis itu” kesal Ryosuke sambil berdiri.
Yuto menghampirinya sambil tersenyum geli. “Kau adalah orang paling aneh. Haha” ucapnya di sambung tawanya. Ryosuke hanya memberikan gaya polosnya, lalu duduk di bangkunya sambil sesekali mengintip keluar jendela memperhatikan seseorang.
...
‘Kapan hari-hariku di sekolah bisa tenang?’ batin Hoshi sambil menyirami tanaman bunga di depannya.
“Butuh bantuan?” tanya seorang gadis dari belakangnya, ia pun berbalik.
“Ya?” tanya Hoshi memastikan yang didengarnya. Seorang siswi tersenyum padanya. Tapi ia malah memberikan tatapan bingung.
“Butuh bantuan?” tanya gadis itu lagi. “Ahh....” belum sempat menjawab gadis itu mengambil selang air dari tangan Hoshi dan mulai menyirami tanamannya. Hoshi masih saja menatapnya heran.
“Uhm. Maaf sudah membuatmu bingung. Namaku Tsuki Akiyama, aku siswi baru tingkat 2, kelas 2.4” ucap gadis itu. “Oh. Benarkah?. Uhm, aku Hoshi Haruka dari kelas 2.1” jawab Hoshi agak canggung. “Oh. Jadi kau sekelas dengan Ryosuke-niichan?” tanya gadis bernama Tsuki itu. “Ha? Oniichan? Kau kenal dengannya?” tanya Hoshi spontan.
“Hmm. Dia adalah sepupuku. Itu juga alasanku di sekolahkan disini, agar ada yang menjagaku. Apa kau teman dekatnya?” . “Oh. Bukan, aku bukan teman dekatnya” jawab Hoshi cuek lalu mengambil pupuk dan menaburkannya ketanaman-tanaman itu.
“Oh, begitu? Kudengar dia cukup populer di sekolah ini” kata Tsuki sambil membantu Hoshi menabur pupuk.
‘Haha. Populer?’ batin Hoshi.
“Ngomong-ngomong. Kenapa kau disini? Bukankah sekarang kelasmu sedang pelajaran olahraga ya?” tanyanya.
“iya, tapi aku kan murid baru dan aku belum punya seragam sendiri. Jadi untuk sementara aku belum ikut pelajaran. Dan daripada bosan aku jalan-jalan dan melihatmu sedang sibuk merawat tanaman ini sendirian. Makanya aku ingin membantumu” jelas Tsuki panjang lebar. Hoshi hanya mengangguk mendengarnya.
“ah. Sudah selesai. Tapi aku harus kembali kekelas. Maaf ya, aku harus meninggalkanmu” kata Hoshi dengan nada menyesal.
“Tak apa. Oh ya, kau benar sekelas dengan Ryosuke-niichan kan?” tanya Tsuki lagi. Hoshi hanya mengangguk. Tsuki tersenyum sumringah lalu mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
“Tolong titip ini ke Ryosuke-niichan ya” ucapnya sambil menyerahkan sepotong kertas berwarna cobalt blue. “Tapi...” kata Hoshi bermaksud menolak. “Arigatou~” ucap Tsuki yang langsung pergi meninggalkan Hoshi yang diam terbengong-bengong.
“apaan ini? Memang aku tukang pos? Enak saja. Haahh. Kalau kubuang kasihan dia. Tapi kalu aku menyerahkan ini padanya, nanti salah paham lagi.Ahh menyebalkan” Hoshi berargument sendiri. Ia pun segera kembali kekelas.
...
Jam istirahat, seperti biasa disibukkan dengan kegiatan makan siang. Dan seperti kebanyakan siswa perempuan, Hoshi selalu membawa bekal makan siangnya. Ia duduk dibangkunya sambil membuka kotak bekalnya.
“Itadakimasu~~” ucapnya pada dirinya sendiri dan memulai menyantap makanannya.
Ya, selalu sendiri. Walaupun terkadang membosankan, tapi, ia mencoba membuatnya terlihat menyenangkan.
“Ryo-kun, cobalah bekal yang ku buat ini. Ini semua menggunakan bahan dari sayuran dan daging impor. Ayo cobalah”
“Ryo-kun, aku punya kepiting saus tiram, makanan kesukaanmu. Cobalah, ini kubuat special untukmu”
“Ryo-kun, coba ini” .”Coba yang ini juga” . “Ryo-kun~”
Riuh para siswi teman sekelasnya bersahut-sahutan mencoba mendapatkan perhatian sang bintang sekolah. Sedang yang di kerumuni hanya senyum-senyum dan tak bisa menolak semua makanan itu. Dan, itu membuat semua siswa laki-laki lain iri, tapi mereka juga tidak melakukan apapun, dan lebih memilih menonton acara harian itu.
“Tch. Memangnya dia itu raja apa? Mereka semua pasti bermasalah dengan penglihatannya, ah, atau mungkin juga otaknya. Tch” gumam Hoshi sambil sesekali melirik kearah kerumunan itu.
“Kau tak mau membagi bekalmu? Aku juga ingin seperti Ryosuke” kata Yuto yang tiba-tiba sudah duduk di depan Hoshi dengan wajah memelas. Hoshi yang sempat kaget melemparkan senyumnya. “Kau mau?” tanya Hoshi sambil menyumpit sepotong tenpura jamurnya dan menunjukkannya pada Yuto.
“Aaa~~” Yuto membuka mulutnya dan segera Hoshi menyuapkan tenpura itu. Yuto pun tersenyum sambil mengunyah makanannya. Hoshi juga membalas senyumnya. Ia merasa bahagia setiap kali ada Yuto di sampingnya. Karena selama ini ia merasa Yuto selalu tahu apa yang di rasakannya.
“Kau.. itu memang aneh. Kau selalu memilih sendiri daripada bersosialisasi dengan yang lainnya. Tapi kau selalu bisa melakukannya. Sebenarnya kau itu orang seperti apa sih?” tanya Yuto.
“Ah, tidak juga. Dan aku hanya orang biasa, ya seperti yang lainnya” jawab Hoshi sambil menatap makanannya. ‘hhh. Terkadang aku juga merasa kesepian seperti ini’ batinnya.
“Kau pasti merasa kesepian, kan?” tebak Yuto membuat Hoshi menatapnya heran. Kenapa Yuto selalu tahu apa yang di pikirkannya. Melihat ekspresinya itu Yuto tersenyum simpul.
“Santai saja. Kalau kau butuh teman untuk menghapus kesepianmu, kau bisa mencariku. Jangan sungkan. OK” ujar Yuto membuat Hoshi tercekat, ia hampir tak bisa menelan makanan yang sudah sampai di pangkal  mulutnya. ‘Dia begitu baik. Apa yang harus ku katakan?’
“Boleh aku minta lagi? Tenpura jamurnya benar-benar enak” ucap Yuto membuyarkan lamunan Hoshi. “Oh, ini. Silakan!” kata Hoshi agak gugup. ‘Mimpi apa aku semalam?’ batinnya. Akhirnya ia menikmati bekal makan siangnya bersama Yuto.
Sedang sang bintang masih saja disibukkan dengan para fans girls fanatiknya itu. Ia sesekali mencari celah untuk melihat apa yang di lakukan sahabat karibnya, Yuto, itu. Terkadang ia jadi iri dengannya yang terlihat bebas. Tapi, sepertinya tidak ada pilihan lain baginya.
~o0o~
          “Jaa mata~~~” teriak Hoshi sambil berlari seperti buru-buru, takut ketinggalan sesuatu. Yuto yang di pamiti hanya melambaikan tangannya. Lalu kemudian berjalan menuju tempat parkir sepedanya.
          “Yuto~~” panggil Ryosuke sambil berlari kecil menghampirinya. “Hmm” jawabnya.
          “Apa kau dan Ka~... punya hubungan spesial?”
          Yuto mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan sahabatnya itu. “Mungkin. Kenapa?” tanyanya balik.
          “Oh. Tidak apa-apa. Baguslah. Apa kau tidak merasa aneh dekat dengannya? Gadis pendiam, dan terlihat begitu egois. Apa kau tidak takut?”
          “Apa yang harus di takutkan? Dia memang pendiam, tapi tidak egois. Kurasa dia merasa kesepian saja, karena dia tidak mudah bergaul. Lagipula aku hanya ingin menjadi temannya”
          “Apa? Jadi, kalian tidak pacaran?” tanya Ryosuke yang tiba-tiba bersemangat.
          “Tidak. Tapi, ada apa denganmu? Apa, jangan-jangan kau menyukainya?”
          “Tidak. Siapa bilang. Kau tahu aku ini siapa kan? Ada banyak gadis lebih menarik dari pada dia, untuk apa aku menyukainya?” Ryosuke segera mengambil sepedanya.
          Mereka pun pulang bersama. Karena rumah mereka juga cukup dekat. Mereka berteman sejak kecil, jadi mereka sangat mengenal satu sama lain dan sangat akrab sekali, meskipun sifat mereka agak bertolak belakang, tapi mereka tetap bisa menjaga persahabatan mereka. Obrolan mereka terus berlanjut hingga di perjalanan.
          “Benarkah kau tidak menyukainya? Kau yakin?” goda Yuto.
          “Kubilang tidak ya tidak. Kenapa masih membahas hal itu, sih?” kesal Ryosuke.
          “Pembohong payah. Kalau kau tidak menyukainya, kenapa kau selalu mencari perhatiannya? Selalu beracting ini itu di depannya. Tapi selalu gagal, dan kalau sudah begitu, selalu saja menjahilinya, mencoba membuatnya malu, tapi tetap tidak berhasil karena hasil akhirnya selalu di cuekin” ujar Yuto panjang lebar. Ryosuke berfikir sebentar.
“Itu... itu karena aku hanya ingin mengetes seberapa tidak peduli dan egoisnya gadis itu. Tidak ada alasan lain. Iya, tidak ada” ucapnya,  dan kemudian hanya mendengus kesal kepada Yuto.
          “Baiklah. Ternyata kau benar-benar tidak menyukainya. Kalau begitu, aku yang akan memilikinya”
          “Apa?”
          “Aku akan menyatakan perasaanku padanya besok. Wuhu~~~” teriak Yuto sambil mempercepat laju sepedanya.
          “Hei. Apa yang akan kau lakukan? Kau bilang tadi hanya menganggapnya sebagai teman? Hei, Yuto! Hahh, menyebalkan” Teriak Ryosuke, ikut mempercepat laju sepedanya.
          ....
          “Konnichiwa~~” sapa Hoshi pada bapak penjaga stasiun sambil terus berlari menuju kereta yang hampir saja berjalan meninggalkan stasiun.
          Kereta masih berjalan pelan saat ia mau masuk. “Tunggu~~!” teriaknya. Sambil terus berlari. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan mengajaknya melompat kedalam kereta.
          “Huhh.Arigatou gozaimasu” ucapnya sambil mengatur nafas.
          “Dou ita” jawab lelaki yang membantunya itu. Hoshi memandang wajah lelaki itu lekat, seolah pernah mengenalnya,dan lelaki itu terus saja tersenyum padanya lalu mengajaknya duduk.
          Masih keadaan yang sama.
          “Kenapa kau melihatiku seperti itu?”
          “Ohh. Tidak”
          “Kenapa? Kau pura-pura lupa padaku?” tanya lelaki itu semakin membuat Hoshi membulatkan matanya.
          “Hhh. Berapa tahun, ya? 5 tahun? Benar. Aku saja masih jelas mengingat wajahmu. Tapi, kau? Dasar otak ikan” ujar lelaki itu.
          “Hehh! Dasar tidak tahu sopan santun. Apa kau memperlakukan seorang wanita yang baru kau kenal seperti itu?” keras Hoshi dengan mata berkobar.
          “Tch”
          Tapi sebentar kemudian ia tersenyum lebar dan langsung memeluk lelaki di depannya itu.
          “Oniichan~!” girangnya.
          “Oh. Ternyata kau masih ingat. Imotou-chan” kata lelaki yang ternyata adalah kakak Hoshi, yang sudah lama berpisah darinya. Namanya Yaotome Hikaru. Setelah puas melepas rindu mereka pun melepaskan pelukan mereka.
          “Kau sudah besar ternyata” ucap Hikka sambil mengacak-acak rambut adiknya.
          “Ahh. Jangan seperti ini. Bagaimana sekolahmu di Osaka?”
          “Lebih menyenangkan daripada disini. Dan terasa bebas dari gangguan Ikan sepertimu”
          “Masih saja memanggilku begitu. Aku ini sudah jauh lebih pintar. Kalau lebih menyenangkan disana kenapa pulang?”
          “Hwoo? Tetap saja jadi ikan pemarah. Kalau begini siapa yang mau jadi pacarmu?”
          “Tch. Kau meremehkanku. Tentu saja aku sudah punya pacar, dan yang pasti tidak menyebalkan sepertimu”
          “Benarkah? Kau tidak bisa berbohong dariku”
          “Ah. Sudahlah. Baru datang sudah membuatku kesal”
          “Iya iya. Kalau benar kau sudah punya pacar, kau harus mengenalkannya padaku besok. Bagaimana?”
          “Apa? Tapi?”                  
          “Jangan bilang kau benar-benar berbohong”
          Hoshi semakin ciut. ‘Aduh, apa yang sudah kukatakan? Bagaimana sekarang? Oniichan tidak pernah main-main dengan ucapannya’ bingungnya.
          “Baiklah. Lihat saja besok” ucapnya seketika. Hikka tersenyum menggoda. Setelah itu mereka hanya diam dan menatap keluar jendela. Hoshi sedang sibuk memikirkan cara untuk besok, ia harus mencari seseorang yang rela berpura-pura menjadi pacarnya. Tapi itu adalah hal yang benar-benar sulit. Pasalnya dia hampir tidak punya teman, karena memang dia selalu sendiri. Sesekali dia mendesah, menciptakan semburat uap air di kaca jendela kereta api listrik langganannya itu. Kalau waktu bisa di ulang, ia pasti akan menarik semua ucapannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia tidak boleh mundur dari kakaknya, karena ia memang tidak pernah terkalahkan. Dan, sekarang dia hanya bisa memutar otak jeniusnya untuk menemukan jawaban semua masalahnya.
          Sedang Hikka, kakaknya hanya tersenyum memperhatikan wajah bingung adiknya itu. Walaupun sudah 5 tahun dia tinggal terpisah dengan adiknya, ia masih tahu jelas sifat adiknya yang tak pernah mau kalah. Dan saat ini ia tahu bahwa adiknya sedang berbohong, tapi ia diam saja. Dia akan menunggu apa yang akan dilakukan adiknya besok, dan menangkap basah semua kebohongannya seperti si Jenius Detective Conan. Bagaimanapun dia suka menjahili adiknya itu, ia sangat sayang padanya dan rela berkorban apapun demi adik tercintanya itu.
~o0o~
          “Hoshi-chan.... jangan lupa janjimu besok ya...!” bisik Hikka disambung smirknya saat selesai makan malam. Hoshi yang masih sibuk merapikan peralatan makannya hanya tersenyum kecut lalu beranjak menuju dapur. Meninggalkan kakak dan juga ibunya.
          “Kau menjahili adikmu lagi?” tanya ibunya. Hikka tersenyum manis lalu membuka koran di depannya.
          “Okasan?” panggilnya pada ibunya. “Ada apa?” jawab ibunya.
          “Okasan tak pernah memberitahu dia kan tentang....” Hikka sedikit berbisik lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Seolah tahu apa yang di maksud putranya, ibunya tersenyum sejuk. Ya, benar-benar melegakan melihat senyum ibunya itu. Hikka menghembuskan nafas lega.
          “Sudahlah jangan khawatir. Ibu tak kan pernah menceritakannya. Tapi, nanti kau sendiri yang harus mengatakannya pada adikmu. Karena tak selamanya kau bisa menyembunyikan hal itu” ucap ibunya dengan lembut sambil memegang pundak putranya itu. Kembali Hikka menimpalinya dengan senyum manisnya.
          Hoshi yang baru dari dapur menghentikan langkahnya di depan pintu penghubung dapur dan ruang keluarga dimana Hikka dan Ibunya tengah sibuk bercengkerama. ‘Mungkin lebih enak kalau tidak ada dia disini. Oniichan yang menyebalkan. Lihat saja dia bertingkah seperti anak kecil didepan Okasan. Apa dia tidak sadar umur? Hhh untung saja dia kakakku, kalau tidak mungkin aku sudah mengusirnya’ argument kedongkolan hatinya bertubi-tubi terekam sambil memperhatikan kedua anggota keluarganya itu dengan tatapan kesal.
          Hikka yang menyadari tengah di perhatikan adiknya, melirik kearahnya dengan smirknya. “A..ku..tung..gu..be..sok..” eja Hikka tanpa suara, hanya gerakan mulut. Hoshi segera menghampiri mereka dan membawakan beberapa buah jeruk dalam keranjang dan juga satu keranjang lagi untuk tempat sampah sebagai pencuci mulut. Setelah selesai meletakkannya di meja, ia mengambil 1 buah lalu di bawanya pergi.
          “Mau kemana?” tanya Ibunya.
          “Belajar. Besok aku ada ulangan, setelah itu aku langsung tidur. Oyasumi” ujarnya datar dan enggan menatap kakaknya itu. “Baiklah. Oyasumi. Ii yume o mite” ucap ibunya. “Hai” jawab Hoshi sambil menaiki tangga menuju lantai dua,kamarnya. “Hooi. Kau tidak mengucapkan selamat malam padaku?” tanya Hikka agak berteriak. “Oyasumi, Oniichan” ucap Hoshi sambil menunjukkan wajah imutnya dan senyum lembutnya pada kakaknya itu. Lalu melanjutkan langkahnya ke kamarnya. ‘Tunggu aku di mimpimu. Aku benar-benar ingin mencuci otakmu agar kau melupakan apa yang kuucapkan hari ini’ umpatnya.
          Ia duduk di depan meja belajarnya, lalu membuka tasnya untuk mengganti jadwal buat besok. Seperti biasanya ia membuka bukunya sebentar untuk mengingat pelajaran yang diajarkan hari ini. Tiba-tiba sebuah kertas terjatuh. Ia pun memungutnya. Sebentar ia memperhatikan dan membolak-balik kertas berwarna cobalt blue itu. “Hhh. Aku lupa memberikan ini. Ahhh, tapi aku malas bertemu dengan orang menyebalkan itu. Dan,kenapa gadis itu membuatku repot seperti ini” gerutunya.
          Kalau benar kau sudah punya pacar, kau harus mengenalkannya padaku besok” “Hoshi-chan.... jangan lupa janjimu besok ya...!” “A..ku..tung..gu..be..sok..”
          Kata-kata kakaknya kembali terngiang di telinganya, dan saat itu sebuah ide muncul dalam benaknya. Namun,sebentar kemudian ia mendesah dan memukul kepalanya sendiri.
          “Mana mungkin aku memintanya berpura-pura menjadi pacarku? Orang menyebalkan seperti dia. Bagus juga Yuto..” mengucap nama itu, bagai sebuah lampu keluar dari pikirannya dan menyala terang.
          “Yuto... yeah Yuto. Dia.... tapi apa dia mau membantu? Benarkah? Ahhh... Ini menyebalkan. Tapi.. ini jalan terakhirku.... ahh apa yang harus kulakukan?” katanya frustasi sambil mengacak rambutnya, lalu merebahkan tubuhnya keranjang tidurnya.
          “Baiklah, ini keputusannya. Aku akan mencobanya. Semoga dia mau.... hhhh” ia mendengus kasar lalu menarik selimutnya dan mencoba tidur. Ia berharap akan bermimpi indah malam ini. Karena memang seharian ini cukup menyebalkan baginya. #OyasumiNasai
~o0o~
          Hari ini, untuk pertama kalinya Hoshi diantar kakaknya menuju stasiun. Sebenarnya ia merasa bahagia karena punya teman ngobrol, tapi, akan jauh lebih baik kalau dia pergi sendiri. Ya, agar kakaknya tidak mengikutinya dan mencari tahu siapa pacarnya. Pacar? Benar pacar khayalan, yang belum tentu ditemukannya.
          Mereka berjalan beriringan, sesekali Hikka bersenandung membuat Hoshi semakin takut dan bingung. Suara Hikka memang sangat merdu, bahkan siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung meleleh.
          Sesampainya di stasiun Hoshi menghadap kakaknya.
          “Oniichan. Jaa mata... oh ya, hari ini aku ada pelajaran tambahan, jadi pulang agak telat. Tolong katakan pada Okasan, ya” ucapnya.
          “Baiklah. Aku akan menyusulmu nanti. Jam 5 sore kan? itu waktu pulang saat ada pelajaran tambahan, kan?” kata Hikka tak lupa senyumnya. Hoshi menatapnya kecut.
          “Tak usah. Aku mungkin pulang lebih malam”
          “Aku akan menunggumu”
          “Pasti akan membosankan”
          “Aku punya teman di sekitar daerah itu, jadi aku bisa menunggumu disana, sekalian berkunjung kerumahnya. Ya, lama aku tidak berjumpa dengannya. Jadi kau jangan khawatir”
          Hoshi tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mendengus kasar.
          “Jangan bilang kau mau melarikan diri” bidik Hikka sedikit berbisik.
          ‘Hiks..hiks... menyebalkan’ batin Hoshi. Ia tersenyum pada kakaknya. “Baiklah. Jemput aku dan jangan sampai telat” tegas Hoshi yang langsung masuk kedalam kereta yang mulai bergerak pelan meninggalkan stasiun.
          “Tentu saja. Ki o tsukete ne!” teriak Hikka sambil melambaikan tangannya yang semakin melemah seiring menjauhnya kereta yang membawa adiknya itu. Ia mengeluarkan smirk andalannya lalu masuk kedalam sebuah lorong kecil dekat stasiun.
          ......
          ‘Yuto... kau harus membantuku. Ya, sekali ini saja’ harap Hoshi.
          ......
          Ryosuke duduk disebuah bangku dibawah pohon sakura yang sedang mekar dengan indahnya. Sesekali ia menengadahkan kepalanya menatap ranting-ranting kokoh diatasnya. Sesekali ia menatap sepedanya, kemudian kearah jalanan. Lalu menoleh kearah kanan dimana sebuah gedung tak terlalu besar berdiri kokoh. Gedung yang tak pernah sepi pengunjung. Sesekali terdengar suara peluit kereta yang akan berhenti ataupun pergi.
          Sebuah kelopak sakura jatuh dihadapannya. Ia hanya memandanginya saja, lalu sebentar kemudian tersenyum bahagia. Matanya terlihat berbinar. Seolah kelopak yang jatuh itu mengingatkannya pada sesuatu. Tapi pandangannya teralihkan saat melihat seseorang keluar dari gedung yang biasa disebut stasiun itu. Segera ia mengambil sepedanya dan bergegas menyusul orang itu.
          “Ka~~!” panggilnya sambil mengayuh pedalnya. Ya benar, orang itu adalah Hoshi.
          Hoshi tidak mendengar panggilan Ryosuke. Ia masih sibuk dengan pergulatan pikirannya. ‘Aku harus bisa... aku bisa’ yakinnya dalam hati.
          “Ohayou! Ka~!” kata Ryosuke lagi berhasil membuat Hoshi terkejut setengah mati dan refleks hampir melompat. Membuat Ryosuke menatapnya bingung.
          “Hhh. Ka sedang melamun ya?” goda Ryosuke dengan suara yang lucu.
          “Ahh. Kenapa kau selalu berangkat bersamaan denganku sih? Bukankah rumahmu dekat? Kau kan bisa berangkat lebih siang. Apa jangan-jangan kau menungguku?” ketus Hoshi membuat Ryosuke agak terkejut dengan kalimat terakhirnya.
          “Wah... bagaimana kau bisa tahu?”
          “Apa?” ucap Hoshi agak terkejut.
          “Jangan bingung. Aku memang selalu menunggumu karena aku bisa berangkat bersamamu dan mengganggumu. Itu menyenangkan sekali. Hitung-hitung sebagai tambahan semangat dipagi hari” ujar Ryosuke santai. Mendengar itu dengan cepat Hoshi memukul lengan Ryosuke dan hampir membuat Ryosuke terjatuh dari sepedanya.
          “Enak sekali kau mempermainkanku. Hari ini perasaanku sedang tidak baik. Jadi kumohon jangan ganggu aku” tegas Hoshi lalu berjalan cepat meninggalkan Ryosuke sambil komat-kamit mengumpat sesuatu dan terlihat lucu. Sedang Ryosuke menatapnya penuh arti sambil memegangi lengannya yang sedikit nyeri akibat pukulan super dari Hoshi. “Ada apa denganmu?” lirihnya lalu melanjutkan perjalannya dan memilih mendahului Hoshi, “Jaa...” teriaknya saat melewati Hoshi.
          “Menyebalkan” umpat Hoshi sambil terus melangkahkan kakinya menuju kelasnya dengan lesu. Ia menyusuri koridor kelas sambil menunduk dan sesekali membuang nafas kasar. Ia tak menghiraukan tatapan orang-orang yang melewatinya. Hingga...
          “Hoshi... chan!” panggil seseorang dari arah belakang. Segera ia memutar tubuhnya kearah orang yang memanggilnya itu. Seorang gadis berjalan cepat kearahnya, ya, dia mengenal gadis itu. Dia adalah siswi baru yang kemarin, dan... ‘Auhh. Aku belum menyerahkan surat ini.. Aduh...’ batinnya lalu memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkahnya mencoba menghindari gadis itu.
          Tapi, gadis itu semakin dekat dan dekat hinnga ia sampai di depan Hoshi.
          “Hoshi-chan” pekiknya girang. “O..ohayou” jawab Hoshi agak gagap dan tetap menunduk. “oh. Ada apa denganmu? Kau sakit?” tanya gadis itu sambil mencoba mencari arah pandangan Hoshi. Hoshi hanya menggeleng pelan. Gadis itu pun hanya mendengus kasar.
          “Oh. Untuk kemarin... Hontou arigatou ne” ucap gadis itu membuat Hoshi langsung menatapnya.
          “Untuk  aapa?” tanyanya.
          “Ck. Kau sudah memberikan suratku pada Ryosuke-niichan” Hoshi semakin membulatkan matanya.
          “Tt-ta-pi..”
          Gadis itu berjalan mendahuluinya, sedang Hoshi masih bingung, jelas-jelas suratnya masih ada di dalam tasnya sekarang. Lalu bagaimana? Karena ia penasaran ia pun mengikuti siswa baru bernama Tsuki itu.
          “Kau tahu. Saat aku akan pindah kesini, Ryosuke-niichan sudah berjanji padaku untuk memberiku kejutan dihari pertama aku masuk sekolah. Karena aku tidak sabaran dan takut dia lupa, aku menulis surat untuknya sekedar untuk mengingat janjinya. Dan kemarin aku sudah mendapatkannya” ujar Tsuki dengan segala kebahagiaan yang menggebu-gebu. Dan itu cukup menjelaskan semua pertanyaan Hoshi.
          “Ahh... Hai. Dou ita. Omedetou” jawab Hoshi dengan senyum garing. Tsuki tersenyum simpul. Mereka pun terus berjalan beriringan menuju kelas. Eits, tunggu, bukankah kelas Tsuki ada di lorong pertama? Lalu kenapa ia terus berjalan menuju lorong kedua, letak kelas Hoshi?
          “Oh. Kelasmu kan?”
          “Eee... aku mau menyapa Ryosuke-niichan. Oh, pasti menyenangkan punya pacar seperti dia. Sayangnya dia adalah sepupuku” gumam Tsuki membuat Hoshi sedikit muak.
          ‘Tch. Pacar seperti dia?’ suara batin Hoshi menyapa. ‘Apa? Pacar? Oniichan? Y-y-yu-to? Ahh!’ segera ia mengganti sepatunya dan memasuki kelas mencari Yuto. Sedang Tsuki hanya menatapnya aneh.
          Hoshi masuk kedalam kelas dan memutar pandangannya keseluruh penjuru kelas. “Apa dia belum datang?” gumamnya lalu keluar lagi. Ia sangat terkejut saat melihat siswi baru itu sedang asyik bercanda dengan Yuto dan... ya Ryosuke. Tapi, mereka terlihat begitu akrab. Dan sesekali gadis itu menautkan tangannya kelengan Yuto dan berkata-kata manja. ‘menjijikkan’ batin Hoshi begidik.
          “Apa hubungan mereka? Apa mereka pacaran? Ah, tidak, mungkin mereka hanya dekat saja. Tapi, apa itu tidak berlebihan? Hhaah, lalu aku harus bagaimana sekarang?. Tunggu. Tsuki adalah sepupu Ryosuke, dan Yuto adalah teman dekat Ryosuke, jadi,mungkin mereka teman lama. Iya mungkin itu. Ahh apa yang aku pikirkan?” lirihnya berargument sendiri. Ia pun duduk dibangkunya lalu meletakkan kepalanya diatas meja dan memejamkan matanya.
          “Ohayou~” suara sapaan dengan frekuensi yang tak asing di telinga Hoshi itu sudah bergema, dan ia tetap dalam posisinya. Sedang para siswi kelasnya sibuk mengerumuni orang itu.
          “Ohayou!” suara berfrekuensi ini membuatnya kaget karena sangat dekat dengannya. Ia segera membuka matanya dan menatap orang yang tak lain adalah orang yang sangat dinantikannya saat ini. Yuto. Ia hanya melemparkan senyumnya lalu merapikan posisi duduknya sambil memperhatikan Yuto duduk di bangkunya yang terletak di sebelah kirinya. Ia terus menatapnya dengan ragu. ‘Sekarang? Atau kapan?’ pikirnya.
          “Ada masalah ya?” tanya Yuto yang merasa diperhatikan.
          “Oh... i-itu.. bisa a-aku mi-minta ban-tuan-mu?” tanya Hoshi memberanikan diri.
          “Tak perlu menanyakan hal itu. Tentu saja aku akan membantumu. Apa?” tanya Yuto dengan senyum damainya. Hoshi tersenyum lalu menarik nafas dalam untuk mengumpulkan tenaga.
          “Aku dan kakakku sedang bertaruh, dan... a-..”
          “Yuto-niichan. Jaa...!” teriak seseorang dari luar tiba-tiba, membuat Yuto mengalihkan pandangannya. Hoshi kehilangan tenaganya. Benar-benar pengganggu.
          “Hai... Jaa...!” balas Yuto dengan senyum manisnya, tak lupa lambaian tangannya.
          ‘Gadis itu’ rutuk hati Hoshi. Yuto kembali memperhatikannya. “maaf. Sampai dimana tadi? Oh, sampai kau sedang bertaruh pada kakakmu, dan... “ kata Yuto mengisyaratkan agar Hoshi melanjutkan kalimatnya yang tertunda.
          “Oh..” Hoshi kehilangan kekuatan untuk mengatakannya. “Kau mau minta aku membantumu apa?” tanya Yuto. “I...tu...” sungguh sulit bagi Hoshi untuk mengeluarkannya.
          Ryosuke terus mencoba menghindari semua gadis-gadis lebay di sekelilingnya dan menuju bangkunya. Ia memperhatikan sahabatnya dan juga Hoshi yang terlihat tengah membicarakan hal yang serius. Ia melangkahkan kakinya kebangkunya yang tepat dibelakang Yuto. ‘Ia akan melakukan ucapannya kemarin?’pikir Ryosuke sambil memperhatikan dua orang didepannya.
          “Bagaimana?” tanya Yuto.
          ‘Hahh. Jadi dia benar-benar melakukannya’ batin Ryosuke lagi, apalagi melihat eksperesi Hoshi yang terlihat ragu dan malu-malu, ya,terlihat jelas pipinya yang mulai memerah.
          “Uhmm... a..aku..” ragu Hoshi.
          Entah kenapa justru Ryosuke yang merasakan detak jantungnya begitu cepat menunggu sesuatu kata keluar dari mulut Hoshi.
          “Apa?” tanya Yuto penasaran.
          ‘Wah. Dia itu benar-benar memaksa. Dasar kejam’ umpat Ryosuke, padahal dirinya juga tak sabaran.
          “A-ku.. ma..” Ryosuke benar-benar tidak tahan mendengarnya.
          “Don’t love me run runaway Koi ga kowai nara. Runaway  Don't look back Saa dou suru?” senandungnya merdu membuat semua gadis meleleh. Tapi hal ini membuat Hoshi semakin ciut.
          ‘Orang ini benar-benar’ kesal Hoshi.Yuto tersenyum mendengar sahabat anehnya itu berbuat hal gila lagi.
          “AAA... Ryo-kun!” teriak histeris para gadis alay. Ryosuke terus menyanyi dan refleks anak laki-laki lain memukul-mukul meja ataupun benda-benda lain menciptakan instrumen musik yang cukup clop dengan lagu dari Ryosuke membuat kelas menjadi gaduh. Yuto pun tak ketinggalan. Ia diajak Ryosuke untuk bernyanyi. Dan suara mereka benar-benar indah. Semua terlihat bergembira. Tapi, Hoshi tidak. “Ini akan sulit” lirihnya sambil menutup kedua telinganya dan menumpukan kepalanya diatas meja. “Ya. Mungkin nanti” lirihnya lagi.
          ....
          Jam istirahat Hoshi menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku. Ya, cukup banyak. Dan ia harus membawanya sendiri.
          “Ohh... apa Ka butuh bantuan?” goda Ryosuke dengan nada merayu andalannya. “Arigatou” ketus Hoshi.
          “Sou ka? Ok. Kau kan gadis yang kuat. Ganbatte!” Ryosuke menyemangati Hoshi lalu pergi sambil bersiul-siul. “Ahh” umpat Hoshi mencoba mengangkat semua buku itu. Tiba-tiba saja bebannya jadi ringan.
          “Yuto?” lirihnya saat melihat seseorang membantunya.
          “Ikou!” kata Yuto mendahuluinya menuju perpustakaan, ia mengekor di belakangnya.
          ....
          “Arigatou Sensei!” ucap Hoshi pada penjaga perpustakaan setelah selesai mengembalikan buku-buku itu. Lantas ia menghampiri Yuto yang berada di dekat pintu menunggunya.
          “Doumo Arigatou!” ucapnya pada Yuto. “Un” jawab Yuto singkat. Mereka berjalan beriringan menuju kelas. ‘Baiklah sekarang saatnya’ batin Hoshi.
          “Yuto... tentang yang tadi...” ucapnya. Yuto mengalihkan pandangannya kearahnya.
          “Oh... Hai. Rasanya banyak sekali gangguan. Baiklah, katakan sekarang!”
          “Bisakahkauberpura-puramenjadipacarkuuntukhariini?” kata Hoshi cepat tanpa jeda, sehingga kalimatnya tak tecerna sempurna ditelinga Yuto. “Ha?” Yuto menatapnya aneh. Sedang Hoshi menundukkan wajahnya. ‘Hhhh. Apa yang sudah kukatakan?’
          “Kau tadi bicara apa? Aku tidak mengerti?” Yuto menggaruk kepalanya. “Apa?” ‘Hhh, apa aku harus mengulanginya lagi?’ desahnya.
          “Un.. Bisakah kau berpu-....”
          “Yuto-niichan!!” teriak seseorang. Lagi. Hoshi kembali mendengus sebal.
          Seorang gadis yang tak lain adalah Tsuki itu datang lagi. Dan benar saja, Yuto langsung teralihkan olehnya. Rasanya saat ini Hoshi ingin berteriak di depan mereka semua.
          ‘AAA. BISAKAH KALIAN MEMBERIKU KESEMPATAN SEKALI SAJA !’ ya, ia tak bisa benar-benar melakukannya, dan memilih untuk pergi. “Sebaiknya aku kekelas dulu” pamitnya,
          “Oh. Hoshi-chan!” panggil Tsuki dengan tatapan heran. Tapi, Hoshi pura-pura tak mendengar. ‘Apa dia tidak bisa mengerti masalahku?’ umpatnya.
         
          Ditengah rasa sebalnya Ryosuke kembali datang dan mengganggunya. Ia terus saja mengikuti kemanapun Hoshi pergi, bergerak, ataupun sebagainya. Membuat Hoshi benar-benar mendidih. Tapi, ia mencoba meredam marahnya sambil meringkuk menyembunyikan wajahnya diantara dua lengannya.
          “Ka adalah gadis yang aneh. Ka adalah gadis yang egois. Ka adalah gadis yang sombong” Ucap Ryosuke seakan mendeklamasikan puisi di hadapan ribuan penonton. Namun, sesekali ia menatap haru gadis di depannya. ‘Apa Yuto menyakitinya? Baru saja menyatakan perasaannya sudah membuatnya sedih?’ batinnya.
          “Hoii... Ka? Apa kau juga menyukai Nakajima Yuto?” tanya Ryosuke lirih. Dan saat itu Hoshi mengangkat kepalanya dan menatap datar kearah Ryosuke. “Bisakah kau pergi? Aku benar-benar tidak ingin mendengar celotehmu” ucapnya tak kalah datar. “Oh. Hai” ucap Ryosuke seketika lalu melangkahkan kakinya pergi. Namun beberapa langkah ia berjalan, ia membalikkan badannya. “Yuto menyakitimu?” tanyanya. “KUBILANG PERGIII !!” teriak Hoshi garang. Ryosuke segera berlari. “AAA ada singa mengamuk.. tolong!!!” teriaknya di selingi tawanya. “AAAA” frustasi Hoshi. Ia pun menulis surat untuk Yuto. Ya, daripada tidak punya kesempatan untuk mengatakannya kan lebih baik begini.
          Tanpa ia sadari Ryosuke masih berdiri di dekat pintu masuk kelas. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan teman anehnya itu. Ia melihat Hoshi tengah sibuk menulis di bukunya dan kemudian menyobek kertas itu dan melipatnya dengan rapih. Pasti itu sebuah surat. “Itu untuk Yuto, ya? Ada-ada saja” ucapnya sedikit terkekeh, namun sebentar kemudian menatapnya tak rela. Ia pun pergi.

         “Yuto!” panggil Ryosuke saat melihat Yuto tengah duduk di sudut taman sekolah bersama Tsuki. Yuto menoleh kearahnya dan tersenyum.
          “Ryosuke-niichan” ucap Tsuki tak lupa senyumnya.
          “Hehh! Dasar kejam. Apa kau tidak punya hati, huh?” keras Ryosuke dengan marah. Yuto yang tidak tahu apa-apa menatapnya bingung. “Apa ada kesalahan di sarafmu?” canda Yuto.
          “Tau tuh. Kenapa Ryosuke-niichan yang baru datang sudah marah-marah seenaknya?” sambung Tsuki yang ikut bingung.
          “Ah. Sudah jangan bercanda. Bukankah kau tadi sudah mengungkapkan perasaanmu kepada si Ka? Tapi sekarang kau malah berduaan dengan Tsuki. Aku benar-benar malu menjadi temanmu!” ujar Ryosuke panjang lebar. Namun tiba-tiba Yuto tertawa sekeras-kerasnya, membuat dua orang disekitarnya itu tercengang heran.
          “Apa benar Yuto-niichan menyukai Hoshi?” tanya Tsuki.
          “Dasar saraf. Kau itu benar-benar gila” tambah Ryosuke dengan kesal.
          “HAHAHAHA. Kurasa kau benar-benar menyukainya. Kau terlihat begitu khawatir dengannya. Dan, kau juga bodoh, cepat sekali percaya dengan perkataanku kemarin. HAHAHAHA!” ujar Yuto tanpa berhenti tertawa. “Apa maksudmu?” tegas Ryosuke.
          “Oh, temanku. Aku mengenalmu dengan baik. Kau itu terlalu kekanakan. Kau tidak menyadari perasaanmu sendiri”
          “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan,huh? Berhentilah main-main. Kulihat tadi dia menulis surat untukmu”
          “Un. Surat?” tanya Yuto. “Iya. Mungkin itu jawaban dari pertanyaanmu tadi”
          “Pertanyaan?” Yuto mengernyitkan keningnya.
          “Ash. Kau ini benar-benar orang aneh. Bukankah kau tadi mengungkapkan perasaanmu padanya dan dia masih ragu menjawabnya, atau mungkin grogi. Mungkin, ia membalasnya lewat surat itu” jelas Ryosuke dengan nada kesal.
          Kembali Yuto tertawa keras.
          ‘Sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan?’ batin Tsuki yang hanya menjadi penonton acara debat dua temannya itu.
          “Baiklah. Sekarang kita luruskan masalah ini. Dengar baik-baik. Aku tidak menyatakan perasaanku pada Hoshi hari ini.”
          “Tapi, tadi kalian bicara serius sekali”
          “Itu karena Hoshi ingin minta bantuanku. Tapi, selalu saja ada gangguan saat ia ingin mengatakannya”
          “Jadi, tadi...?”
          “Itulah kau. Selalu mengambil kesimpulan asal-asalan tanpa memahami hal sebenarnya. Lagipula kemarin aku hanya melakukan tes kejujuran hati padamu”
          Ryosuke terdiam. “Benarkah?” tanyanya lagi.
          “Apa aku terlihat seperti pembohong?” ujar Yuto santai.
          “Lalu, surat itu?” . “Mungkin ia ingin menulis permintaannya, daripada ada gangguan lagi. Tapi sepertinya itu masalah serius. Eh. Kau benar-benar menyukainya ya?” goda Yuto.
          “Jadi kalian sama-sama menyukai Hoshi?” simpul Tsuki.
          “Aku hanya menganggapnya teman. Kurasa Tuan Populer yang menyukainya” terang Yuto.
          Ryosuke hanya diam lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Rasanya begitu lega mendengar penjelasan Yuto. Entah kenapa ia merasa sangat senang. Atau mungkin benar itu karena ia jatuh cinta pada Hoshi. Ia tersenyum gaje lalu kembali kekelas.
          ......
          Jam sekolah sudah hampir habis, jam kelas tambahan juga. Ini membuat Hoshi takut. Pasalnya belum ada respon dari Yuto. Apa dia tidak membaca suratnya? ‘AAAAhhh’ frustasi Hoshi. Ia masih enggan melangkahkan kakinya keluar gedung sekolah, takut-takut kalau kakaknya sudah menunggunya. “Apa kubilang kalau dia tidak masuk karena sakit ya?” pikirnya. “Ah, iya. Begitu saja” ucapnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan gedung itu.
          “Oh. Hoshi!” panggil Yuto. Hoshi menoleh lalu menunduk karena malu kalau-kalau Yuto membaca suratnya tadi.
          “Sudah mau pulang, ya?” tanya Yuto sambil membarengi langkahnya. “Un” angguk Hoshi.
          “Tentang tadi... aku akan membantumu. Tapi... aku ke toilet dulu ya. Kau tunggu saja di depan!” Yuto langsung berlari pergi. Hoshi masih tercengang dengan apa yang dikatakan Yuto baru saja. “Jadi dia benar-benar mau? Hahh.. Yuto. Arigatou Gozaimashita” lirihnya girang. Setelah itu ia segera berlari keluar mencari kakaknya, yang mungkin sudah menunggunya dan menunjukkan padanya bahwa dia tidak bohong. Walaupun memang itu bohong.
          Di depan sekolah. Hikka baru saja menutup panggilan teleponnya. “Dimana, gadis itu?” gumamnya lalu menyandarkan tubuhnya di tembok gerbang sekolah Hoshi.
          “Oniichan!!” seru Hoshi dengan senyum sumringah menghampiri kakaknya. Hikka tersenyum menyambutnya.
          “Dimana dia?” tanya Hikka langsung.
          “Tenang saja. Dia akan segera datang. Dia sedang pergi ke toilet” jawab Hoshi senang.
          “Kau tidak bohong kan?” goda Kakaknya. “Sudah dibilang tidak ya tidak. Lihat saja nanti” gerutu Hoshi. “Baiklah” singkat Hikka tak lupa smirk andalannya.
          Tak lama kemudian...
          “Hoshi~!!” panggil Ryosuke sambil menaiki sepedanya menuju kearahnya. Aneh, tidak biasanya Ryosuke memanggil namanya dengan benar.
          ‘Untuk apa dia kesini?. Tidak biasanya dia memanggilku seperti itu’ kesal Hoshi dengan tatapan tajamnya pada Ryosuke. Hikka menatapnya seolah tak asing dengan wajah itu.
          “Dia. Pacarmu?” tanya Hikka. “A....” belum sempat menjawab Ryosuke sudah berhenti di hadapannya dan juga kakaknya.
          “Yamada?” pekik Hikka.
          “Ha? Hikka-niichan?” pekik Ryosuke juga.
          “Benar. Ini kau. Jadi, kau adalah pacar adikku? Wah, kebetulan sekali?”
          “Apa?” kaget Hoshi. “Tapi... Oniichan... dia...”
          Ryosuke hanya tersenyum malu-malu. “Jadi,Hoshi adalah adik Hikka-niichan?” ucapnya.
          ‘Chh. Dia berulah lagi’
          “Oniichan. Bagaimana kau bisa kenal dengan orang ini?” tanya Hoshi.
          “Dia saudara temanku yang kubilang waktu itu” jelas Hikka. Hoshi mengangguk lalu menatap kesal kearah Ryosuke.
          “Apa kau tahan dengan sifat anehnya?” tanya Hikka sedikit berbisik.
          “Oh. Ya... begitulah” jawab Ryosuke seadanya.
          “Apa yang kau katakan? Dan apa yang kau lakukan disini?” pekik Hoshi.
          “Kau lihat kan? dia selalu seperti itu padaku” adu Ryosuke. “Heeehhh!!!!” teriak Hoshi.
          “Sudah sudah. Aku rasa kau benar-benar tidak berbohong. Dan aku merasa lega kalau orang yang akan menjagamu adalah Yamada. Dia adalah lelaki yang baik” ujar Hikka.
          “Oniichan....” keluh Hoshi. ‘Hhh. Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Kenapa jadi begini? Kemana Yuto? Dan dia, kenapa mengaku-ngaku seperti itu. Chh. Lihat saja gayanya sok manis, sok baik, sok akrab’ umpatnya dalam hati.
          “Kami pulang dulu ya. Aku bawa Hoshi pulang dulu. Besok kau bisa membawanya lagi” pamit Hikka. “Sudahlah. Ayo pulang!” paksa Hoshi sambil menarik tangan kakaknya. Ryosuke tersenyum simpul menatap kepergian mereka. “Hanya pura-pura ya?” gumamnya diselingi senyum miris. Ia pun melanjutkan jalannya.
~o0o~
          ‘Aaaa. Aku terjebak dalam permainanku sendiri. Kenapa harus dia?. Ashh’ frustasi Hoshi. Ia mencorat-coret kertas di depannya.
          ‘Tidak. Itu kan cuma untuk hari ini saja. Benar, cuma hari ini saja. Dan kenapa aku harus khawatir. Lupakan Hoshi. Semua sudah selesai. Besok akan seperti biasa’ yakinnya dalam hati.
          “GANBATTE” semangatnya. Setelah itu ia mengerjakan semua tugasnya.
          ....
          “Selesai” ucapnya lalu menutup bukunya dan berjalan menuju ranjangnya. Ia menghenyakkan tubuhnya dengan kasar. “Aah nyamannya”. Ia menarik selimut putihnya hingga menutupi tubuhnya sebatas leher. Ia mencoba memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa. Ia menatap langit-langit kamarnya. Lama. Namun masih tidak ada tanda-tanda ngantuk. Ia pun duduk dengan malas dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya sambil membawa selimutnya.
          Ia duduk disana berbalut selimut. Ia mulai menghitung bintang. Haha, itu hal yang aneh. Mustahil orang bisa menghitung bintang. Tapi, itu adalah salah satu cara Hoshi agar bisa tertidur.
          “...99, 100,...” ,...... “205...206... 2.... ah ini menyebalkan biasanya hitungan ke 159 aku sudah merasa ngantuk. Hahh, kenapa aku tidak bisa tidur?” kesalnya.
          “Ah. Sebaiknya aku menghitung lagi, mungkin yang kedua berhasil. 1, 2, 3,...”
          “...190, 191,...” ia menghentikan hitungannya dan mendesah. Jam dinding menunjukkan pukul 22.10 . karena lelah disitu ditambah hawa dingin angin malam yang menusuk ia memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya lagi. Lalu meraih gelas minum yang selalu tersedia dimejanya.
          “Ah. Habis” rutuknya setelah tahu gelasnya kosong. Ia pun terpaksa turun untuk mengambil minuman.
          Setelah mengambil air minum di dapur ia pun kembali. Tapi ia menghentikan langkahnya saat melihat lampu kamar kakaknya masih menyala. Ia pun berjalan pelan menuju kamar itu.
          Ia mendengar sayup-sayup suara gitar. Ya,memang kamar kakaknya itu adalah ruangan kedap suara agar tidak mengganggu sekitar.
          “Oniichan? Kau belum tidur?” lirih Hoshi sambil perlahan membuka pintu kamar kakaknya. Ia sangat terkejut saat melihat kakaknya tengah menangis sambil bermain gitarnya. Mengetahui ada orang masuk, Hikka langsung menyembunyikan wajahnya dan menghapus air matanya.
          “Oniichan? Ada apa?” tanya Hoshi sambil duduk disamping kakaknya.
          “Tidak ada. Kenapa kau belum tidur?” tanya Hikka mencoba mengalihkan pembicaraan. Hoshi masih menatapnya tak percaya.
          “Apa selama 5 tahun ini, Oniichan punya masalah? Apa? Ceritakan padaku!”
          “Hhh. Tidak ada. Aku hanya meresapi lagu yang aku ciptakan. Bukankah menyanyi itu juga harus dengan perasaan” ujar Hikka.
          “Un. Benarkah? Oniichan tidak bohong kan?”. Hikka hanya menggeleng pelan.
          “Lalu kau? Kenapa belum tidur?”
          “Aku juga tidak tahu” Hoshi mendesah. “Hhh. Kau memikirkan Yamada, ya?”
          “Oniichan. Kenapa membicarakannya sih?” . “Kenapa? Bukankah dia itu pacarmu?”
          ‘Hhh. Benar juga. Aku masih harus berpura-pura’ Hoshi pun tersenyum garing. “Aaa. Tapi, bagaimana Oniichan kenal dengannya?” tanyanya.
          “Kan sudah kukatakan tadi, kalau dia itu adalah adik temanku. Adik sepupunya. Sedang adiknya kandungnya adalah perempuan dan seumuran denganmu”
          “Apa... namanya Tsuki? Un, Tsuki Akiyama?”
          “Bagaimana kau bisa tahu?” ‘Hn. Sudah kuduga’
          “Dia juga sekolah disekolahku. Baru 3 hari yang lalu” . “Memang dia baru kembali ke Kyoto ini bebareng denganku dan Kei” . Hoshi manggut-manggut.
          “Kenapa sekarang kau tidak tidur? Bukankah besok sekolah?” . “Kalau saja bisa aku sudah tidur lelap sekarang”
          “Baiklah. Sekarang tidurlah disini. Aku akan menyanyikan sebuah lullaby untukmu” Hikka menunjuk ranjangnya. Hoshi pun tersenyum senang lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman diatas ranjang itu. Tak lupa Hikka menutupkan selimut ketubuh adik kesayangannya itu. Dan mulai menyanyikan lagu tidur dengan suara merdunya.
          ♪ Futari Gake no Bashou – Hey! Say! JUMP ♪
          “Oyasumi Nasai” ucap Hikka setelah memastikan adiknya telah tertidur pulas. Ia membelai lembut rambut adiknya itu. Lalu pergi keluar.
~o0o~
          “Okasan? Apa Oniichan sedang punya masalah?” tanya Hoshi pada ibunya. “Tidak. Dia bilang sangat terkejut melihatmu masuk kekamarnya saat dia sedang mencoba meresapi lagu yang dibuatnya. Benarkah?” ibu Hoshi balik bertanya. “Un, jadi benar tidak ada apa-apa?” Hoshi tersenyum.
          “Oh ya. Benar kamu sudah punya pacar? Kenapa tidak pernah bilang pada Haha?” Hoshi menatap ibunya terkejut.
          ‘Ash. Kenapa Haha bisa tahu? Oniichan? Ash. Ini menyebalkan’ rutuk Hoshi, ia hanya tersenyum paksa menimpali pertanyaan ibunya. “Kata Hikka, dia pemuda yang baik. Kapan-kapan ajak dia main kesini. Perkenalkan pada Haha, ne?” . “Apa?”
          “Kenapa?”
          “Ti-tidak. Tapi, apa Okaasan tidak marah? Atau melarangku pacaran dulu dan mementingkan sekolah dulu?”
          “Kenapa harus marah, itu kan memang proses kehidupan untuk menjadi lebih dewasa. Tapi, yang terpenting kau tetap harus menjaga sikap. Jangan sampai ada hal yang membuatmu hancur karena sikapmu itu” nasehat ibunya.
          “Haii” jawab Hoshi lemas. ‘Semua mendukung? Kalau saja itu adalah Yuto. Aku pasti ikut senang. Ah, kenapa aku pikirkan?. Suatu hari nanti aku akan bilang kalau kami sudah putus. Ah, kurasa secepatnya aku akan mengatakannya pada mereka’ pikir Hoshi sambil memakai sepatunya.
          “Okaasan. Oniichan sudah berangkat, ya?”
          “Iya. Dia ada Konser di distrik Kyoto”
          “Ash. Padahal aku ingin sekali menontonnya. Masa hanya bisa menonton latihannya saja”
          “ya, nanti pasti ada waktu. Sudah cepat pergi sebelum ketinggalan kereta. Ini bekalnya, Haha membuat porsi 2 orang. Berbagilah dengan pacarmu” ucap Ibu Hoshi sambil memberikan bekal makanan Hoshi.
          “Okaasan. Tidak perlu seperti ini” rutuk Hoshi menerima bekalnya.
          “Sudah. Cepat berangkat” suruh ibunya.
          “Ittekimasu” ucap Hoshi lesu.
          “Hai. Itterasai. Ki o tsukete, ne!” jawab ibunya sambil melambaikan tangannya. ‘Selalu semangat, ya!’ batin Ibu Hoshi lalu masuk kedalam rumah.
          ......
          Sinar matahari pagi bersinar cerah melewati celah dedaunan pepohonan di sepanjang jalan menuju gedung sekolah. Seperti biasanya, angin pagi musim semi berhembus lembut. Membuat hati begitu damai. Tapi, tidak dengan Hoshi. Ia terlihat begitu lesu dan tak bersemangat. Apalagi kalau nanti bertemu Si Menyebalkan Ryosuke. Dan, dia akan menanyakan kenapa kemarin dia tiba-tiba memanggilnya seperti itu. Apa dia sengaja untuk menjadikannya bahan lelucon lagi. Kalau benar, lihat saja apa yang akan dilakukan singa betina saat mengoyak mangsanya.
          “Ohayou~~!”
          Mendengar itu Hoshi langsung menoleh dan menatapnya tajam. Ya, benar. Itu Ryosuke.
          “Ryosuke Yamada!” ucapanya agak lembut, tapi tatapan matanya masih setajam burung elang.
          “Hwaa. Setelah kemarin kau jadi lembut padaku. Oh iya. Kita sekarang kan pacaran” ucap Ryosuke dengan senyum smirknya.
          “Hhehe. Benarkah? Oh, iya. Mungkin aku lupa” ucap Hoshi. ‘Aneh tidak biasanya dia seperti ini’ gumam Ryosuke.
          “Uhm tapi kemarin kenapa kau memanggilku dengan benar? Kenapa tidak memanggilku KAA seperti biasanya?”
          “Oh, itu... karena aku ingin saja”
          “Benarkah? Tidak ada maksud lain?” tanya Hoshi dengan tatapan mengancam.
          Ryosuke hanya menanggapinya dengan senyumnya, sedang pikirannya melayang ke hari kemarin.
         
          #FLASHBACK_ON
          “Ah. Untuk apa Yuto menyuruhku menunggu disini?” gumam Ryosuke sambil menatap sepatunya sedang tubuhnya ia sandarkan di tiang penyangga gedung parkiran sepeda.
          Tap. Tap. Tap. Terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat kearahnya.
          “Ryosuke!” ucap orang itu sambil mengatur nafasnya.
          “Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu? Dan untuk apa kau menyuruhku menunggumu disini?” tanya Ryosuke.
          Yuto menunjukkan selembar kertas padanya. “Apa ini?” Ryosuke membaca isinya.
Sebentar ia mengernyitkan keningnya .

Yuto-kun.
Soal tadi, tentang hal yang ingin kubicarakan. Aku sudah salah bicara pada kakakku. Dan tanpa sengaja aku menerima tantangannya. Kalau aku yang kalah, maka aku akan berangkat sekolah jalan kaki. Kau tahu kan rumahku sangat jauh, dan itu tidak mungkin kulakukan. Aku tidak boleh kalah.
Makanya, aku minta bantuanmu untuk hari ini saja. Setelah itu tidak lagi. Aku janji.
Kumohon kau mau berpura-pura jadi pacarku untuk hari ini saja dan menunjukkannya pada kakakku. Onegaishimasu. Onegaishimasu.
Gomenasai sudah lancang. Onegaishimasu.

Hoshi Haruka

Ryosuke tertawa setelah membacanya.
          “Haha. Untuk apa kau menunjukkan ini? Dia memang gadis yang aneh” gumam Ryosuke diantara tawanya.
          “Kau, benar-benar menyukai Hoshi kan? makanya aku menunjukkan ini. Kau yang akan membantunya menyelesaikan masalahnya” ujar Yuto.
          “Apa? Tapi...” Ryosuke membulatkan matanya.
          “Sudah jangan banyak bicara. Sana pergi, dia sudah menunggu bersama kakaknya”
          “Eh? Bagaimana kalau kakaknya galak? Ba...”
          “Itu deritamu. Ganbatte. Jaa ne...!!” teriak Yuto yang langsung pergi dengan sepedanya.
          “Hehh! Yuto!”
          “Oh ya. Panggil namanya yang benar!” teriak Yuto lagi. Sedang Ryosuke masih saja terbengong-bengong ditempatnya.
          “Apa aku harus melakukannya? Hhh” gumamnya lalu mengambil sepedanya.
          #FLASHBACK_OFF

       “Hoiii !! apa yang sedang kau pikirkan?” pekik Hoshi, membuat Ryosuke sadar. “Oh. Tidak ada. Hehe” jawab Ryosuke tertawa garing.
          “Baiklah. Kukatakan sekarang tentang hal kemarin bagaimana kau bisa tahu itu sudah tidak penting bagiku. Tapi dengarkan baik-baik, kemarin hanyalah pura-pura, sampai saat ini kita tidak punya hubungan apapun, jadi lupakan hal kemarin OK. Dan... ya, sebenarnya aku benci mengatakan hal ini padamu mengingat kau adalah orang paling menyebalkan, tapi, aku tidak mau dianggap sebagai orang yang tak tahu terima kasih. Jadi, Arigatou Gozaimasu sudah membantuku kemarin” ujar Hoshi panjang lebar lalu meninggalkan Ryosuke yang masih mencoba mencerna ucapan Hoshi baru saja.
          “Hhh. Sudah kuduga seperti ini” ucapnya setelahnya. ‘Tapi, aku ingin ini tidak hanya sekedar pura-pura’ gumamnya lalu mengikuti Hoshi.
          “Ka~~!!!” teriaknya. Tapi tak mendapat respon dari Hoshi. Ia pun berhasil membarengi langkah Hoshi.
          “Un. Aku terima ucapan terima kasihmu. Tapi, aku tidak mau melupakannya. Lagipula ini menyenangkan, kan? bukankah rasanya seperti mimpi kau mempunyai pacar sepertiku, pria terpopuler di sekolah, dimana semua gadis mengejarnya. Harusnya kau bangga” ujar Ryosuke enteng.
          “Tch. Seenaknya saja. Apa gunanya populer dan di gilai para gadis kalau kau itu bodoh dan tak tahu sopan santun” balas Hoshi dengan dingin.
          “Yang penting kan itu menyenangkan. Dan, dimana ada hal yang menyenangkan disitu ada Ryosuke Yamada. Jadi, aku masih ingin melanjutkan permainan yang kau buat sampai aku bosan. OK. Jaa~~~!!!” Ryosuke mendahului Hoshi dengan senyum smirknya.
          “Orang itu! Enak saja mengatakan hal itu. Hoooi... Aku tidak peduli ucapanmu. Permainan itu sudah berakhir sepenuhnya kemarin setelah kau sudah bertemu kakakku. Dengar itu. Dasar Menyebalkan!!!!” teriak Hoshi sekuat tenaga. Ryosuke hanya tersenyum tipis mendengarnya.
          Hoshi berjalan dengan kasar menuju kelasnya.
          ......
          Kini Hoshi tengah dibingungkan dengan bekal makanannya yang begitu banyak, jika saja hari ini Yuto tidak mewakili sekolah dalam pertandingan Basket di kota pasti ia sudah berbagi dengannya. Ia melirik bangku Yuto dan mendengus kasar setelahnya. ‘Hhh. Bagaimana ini? Kalau aku tidak menghabiskannya pasti Okaasan akan kecewa. Tapi, aku tidak mungkin bisa menghabiskan semua makanan ini sendiri’ gumamnya.
          “Hai, Ka!” sapa Ryosuke sambil duduk di depan bangkunya. Ia hanya memandangnya sekilas lalu kembali ke kotak bekalnya.
          “Uh. Kau membawa bekal sebanyak ini? Kau akan menghabiskannya sendiri?” tanya Ryosuke agak bernada tak percaya. ‘Apa kuberikan padanya saja ya?’ pikir Hoshi.
          “Ambil saja kalau kau mau!” ucap Hoshi datar. “Tch. Kau mau berbagi denganku? Wah, kau ternyata diam-diam perhatian padaku” Ryosuke terkekeh kecil.
          “Kalau tidak mau ya sudah, cerewet sekali” pekik Hoshi kesal. “Oh. Kau ini selalu saja marah-marah. Baiklah, aku akan menikmatinya” Ryosuke mengadahkan tangannya pada Hoshi. “Apa?” tanya Hoshi tak mengerti. “Sumpit ! apa kau mau aku makan dengan tangan kosong?” jelas Ryosuke. “Itu kan ada sendok. Dan ini sumpit pribadiku, aku tidak mau meminjamkannya” tegas Hoshi.
          “Tapi, aku tidak biasa makan dengan sendok. Dan, aku tidak selera makan kalau tidak dengan sumpit”
          “Manja sekali”
          “Ya, sudahlah. Kalau begitu kau saja yang menyuapiku. Bukankah itu romantis?” goda Ryosuke.
          “Tidak akan pernah” Hoshi menajamkan pandangannya pada Ryosuke. ‘Enak saja seperti itu’ gerutu hatinya.
          “Un. Aku tidak berselera makan. Kau berikan saja pada yang lain” Ryosuke mendorong kebelakang kursinya dan akan beranjak. ‘hhh. Menyebalkan. Ya mau gimana lagi’ pikir Hoshi.
          “Matte.. Chotto matte!” cegah Hoshi. Ryosuke menatapnya. “Baiklah kau pakai sumpit ini” Hoshi menyerahkan sumpitnya dengan berat hati, dan mengambil sendok dihadapannya. Ryosuke tersenyum penuh kemenangan dan mulai makan. “Itadakimasu!” semangatnya. ‘Hhh. Kalau tidak karena Okaasan, aku pasti tidak akan pernah mau melakukan ini. Lihat saja,makan begitu rakusnya. Berbeda sekali dengan Yuto. Yosh. Aku akan membeli sumpit baru setelah ini’ pikir Hoshi mencoba memakan makan siangnya walaupun sebenarnya ia tidak bisa memakannya karena melihat Ryosuke. ‘Benar-benar tak punya malu. Tch’.
          ......
          Saat ini pelajaran tengah dimulai di kelas Hoshi. Entah sejak kapan Ryosuke kini duduk di bangku Yuto di sebelahnya. Benar-benar mengganggu.
          Jiraiya Usaki, guru bahasa Inggris sekaligus guru wali kelas itu tengah sibuk menyampaikan materi pelajarannya. Seperti biasanya Hoshi memperhatikan dengan seksama materi yang disampaikan gurunya. Namun tidak dengan orang di sampingnya, ia malah sibuk melipat-lipat kertas didepannya membuat origami. Hoshi hanya memandangnya cuek sesekali.
          “Baiklah. Pertanyaan terakhir sebelum pelajaran ini berakhir” ucap Usaki-sensei mengedarkan pandangannya menatap satu persatu muridnya mencari sasaran pertanyaan mematikannya. Semua hanya menunduk menghindari tatapannya,tapi tidak untuk Hoshi dan Ryosuke.
          “Ryosuke Yamada!” panggil Usaki-sensei dengan suara beratnya. “Hai. Sensei!” jawab Ryosuke santai tak lupa senyum polosnya. Semua mata memandang kearahnya, ya, dengan tatapan lega karena terbebas dari pertanyaan guru itu. Usaki-sensei mendekati bangku Ryosuke.
          “Beri contoh kalimat Past Tense digabung dengan Future Tense!” titah beliau dengan tatapan berkilat. Ryosuke tersenyum remeh, namun sebentar kemudian ia tersenyum garing. ‘Bakka. Pasti dia tidak bisa menjawab’ batin Hoshi menatap datar Ryosuke yang tengah senyum-senyum tidak jelas.
          “Sensei. Aku mengerti contoh kalimat Past Tense, contohnya .... I ate fish soup last night... tapi yang Future Tense dan penggabungan kalimatnya Hoshi Haruka yang memperhatikannya dengan jelas. Anda tahu kan Sensei, dia juara kelas, dan saya sering belajar kelompok dengannya, jadi pertanyaan itu akan di jawab olehnya. Dan nanti dia akan mengajarkannya padaku” ujar Ryosuke panjang lebar. Usaki-sensei mengernyitkan keningnya. ‘Wahh. Pandai sekali dia melempar masalah’ gerutu Hoshi sambil menatap tajam Ryosuke. Sedang Ryosuke terkikik dalam hati.
          “Baguslah kau ternyata juga sedikit memperhatikan. Kemajuan yang bagus” ucap beliau, lalu mengalihkan pandangannya pada Hoshi.
          “Hoshi, lanjutkan kalimat Ryosuke tadi !” titah beliau. Hoshi mengangguk.
          “I ate fish soup last night but I should eat Takoyaki tomorrow night” jawab Hoshi yakin. Tak ada respon dari guru yang sedikit aneh itu, beliau hanya kembali ke mejanya dan merapikan buku-bukunya. Ryosuke tersenyum jail pada Hoshi yang menanggapinya dengan tatapan datarnya.
          “Minna. Hari ini aku akan menunjuk ketua dan wakil kelas baru kalian, karena ini tahun ajaran baru” ucap Usaki-sensei dengan tatapan datar namun mematikannya.
          “Haiiiii !” jawab seluruh murid. “Aku menginginkan... Yamada Ryosuke yang menjadi ketuanya”
          “Nnneee???” pekik para murid laki-laki. “Iya sensei kami setuju !” pekik murid perempuan girang. Sedang yang ditunjuk hanya diam tanpa protes sedikit pun. Ya, begitulah resiko orang populer. Hahaha.
          “Sudah. Shut-up!” pekik Usaki-sensei menghentikan kegaduhan. “Dan untuk wakilnya, Yamada sendiri yang akan memilihnya. Tapi, harus perempuan biar adil”
          Ryosuke mengangkat kepalanya mendengar ucapan gurunya barusan. Semua siswi berebut agar dipilih oleh Ryosuke menjadi partnernya.
          ‘Apa jadinya kelas kalau dipimpin olehnya? Hhh,apa yang dipikirkan Jiraiya-sensei?’ gumam Hoshi. Ia benar-benar tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Ia memilih diam saja.
          “Pilihlah siapa yang ingin kau jadikan partner!” suruh Usaki-sensei. “Hai” Ryosuke berdiri dan menatap semua teman-teman perempuannya.
          “Pilih aku!” . “Pilih aku!” . “Pilih aku saja!” . “Pilih aku!” ya, seperti itulah keributan setelahnya.
          “Saya memilih Hoshi Haruka!” ucap Ryosuke.
          “NnEEeee ????” pekik seluruh teman perempuannya tak terkecuali Hoshi yang di tunjuk. Hoshi menatapnya penuh dendam (?)
          “Baiklah. Hoshi Haruka majulah kedepan” suruh Usaki-sensei
          “Eetooo..... Sensei. Saya tidak bisa menjadi wakil ketua. Dan saya tidak ingin” interupsi Hoshi.
          “Un....”
         
          ‘TETT...TETT...TETT’ bel pulang sekolah berbunyi sebelum Usaki-sensei menyelesaikan kalimatnya. Dan semua sudah bersorak gembira.
          “Baiklah. Kita akhiri pelajaran hari ini, masalah ini akan kita bahas kembali di pertemuan selanjutnya. Dewa Mata...” ujar Usaki-sensei mengakhiri. Lalu menatap dua murid di depannya. “Kalian ikut aku dulu” ucap beliau. Dua murid itu membungkukkan badannya sedikit lalu mengambil tasnya dan mengikuti gurunya.
          “Kau mau bermain-main denganku, ya?” kecam Hoshi sedikit berbisik. Ryosuke menunjukkan senyum remehnya.
          “Bukankah sudah kubilang tadi” ujarnya santai. Berhasil membuat Hoshi benar-benar geram.

          Tak jauh dari situ, Tsuki melihat Hoshi dan Ryosuke tengah berjalan berendeng mengikuti Usaki-sensei menuju ruang guru.
          “Ada masalah apa, ya? Un, entahlah. Oh, apa benar Hoshi-chan adalah adik dari Hikka-niichan? Jadi....?” Tsuki memandang kearah Hoshi tak percaya. “Jadi...? hwaahh... kalau sampai Ryosuke-niichan benar-benar suka dengannya, pasti Kudaime-sama tidak akan membiarkan ini terjadi” gumamnya terus memperhatikan dua orang itu. “Kasihan Hoshi-chan dalam bahaya. Aku harus membantunya, tidak boleh ada lagi korban tak bersalah dalam pertarungan ini. Kuharap Ryosuke-niichan mengerti hal itu. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi” semangatnya dengan senyum pasti. Ia pun melangkahkan kakinya menyusuri lorong kelas menuju pintu gerbang kebebasan. #Hahaha.... J

          Kembali ke dua murid yang kini tengah berada di ruang guru menghadap meja Usaki-sensei.
          “Hhh. Aku senang kalian bisa menjadi partner dalam kelas” gumam Usaki-sensei memulai penuturannya.
          Hoshi dan Ryosuke saling memandang
          “Ryosuke. Apa kau tahu kenapa aku memilihmu sebagai ketua kelas?” tanya Usaki-sensei.
          “Hai. Karena saya populer kan Sensei. Dan Sensei ingin saya lebih populer lagi dengan menjadikan saya ketua kelas” ujar Ryosuke santai. Berhasil memecahkan tawa Guru di depannya itu. Begitupula Hoshi di sampingnya. ‘PD sekali dia?’ batinnya tertawa keras. Sedang Ryosuke hanya senyum-senyum.
          “Hahaha. Hhh. Sudah. Kau masih tetap percaya diri. Tapi ingat hal ini, menjadi populer tidak terlalu penting, untuk menjadi seorang ketua kelas kau punya tanggung jawab besar. Tidak hanya sekedar mencari kepopuleran lebih, tapi kau juga harus bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana” tutur Beliau.
          “Oh... H-h-hai.” Jawab Ryosuke gagap. “Tapi, aku suka rasa percaya dirimu” tambah Usaki-sensei. Ryosuke tersenyum lebar.
          “Dan, kenapa kau memilih Hoshi sebagai partnermu?”
          “Aa. Itu karena dia orang yang pandai Sensei. Dia tanggap dalam menyelesaikan masalah” jelas Ryosuke. “ya, walaupun sifat dan sikapnya aneh. Tidak bisa bergaul lagi” tambahnya agak berbisik. Hoshi menatapnya tajam.
          “Sou da na? Bagus juga. Chotto matte... kudengar kau sangat pendiam? Dan kau tidak pernah bersosialisasi dengan teman-temanmu yang lain?” Usaki-sensei menatap Hoshi. “Nnee???” Hoshi mengangkat kepalanya, tak tahu harus berkata apa.
          “Benar Sensei. Kepribadiannya memang agak aneh. Untung saja dia punya teman sepertiku” bangga Ryosuke.
          “Hummh. Hoshi Haruka. Ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan potensimu lebih maksimal lagi. Aku tahu kau itu pandai dan bertanggung jawab. Tapi itu semua tak ada gunanya jika terus kau simpan dan sembunyikan. Majulah, kalian berdua hidupkan kelas kita. Wakatta?” semangat Usaki-sensei.
          “Haaaiii. Wakarimashita !” semangat Ryosuke. “Hai !” jawab Hoshi lemas. ‘Aku selalu menjadi korban ya? Hidupku tak pernah menyenangkan’ batinnya. Merekapun mohon ijin untuk meninggalkan ruangan para guru tersebut.
          “Hoi... Ka aku duluan ya... Jaa ne!” Ryosuke pergi mendahului Hoshi yang hanya diam dengan ekspresi datarnya. ‘Apa hari-hariku akan bertambah buruk lagi?’ rutuknya. Ia menghela nafas berat dan mengedarkan pandangannya ke sekitar tempatnya berjalan. Sepi. Hening. Hanya angin yang sesekali berhembus kuat. Bahkan Si Ryosuke sudah menghilang dengan cepat. Hoshi kembali menghela nafasnya.
          “Yabai. Keretanya?!” pekiknya tiba-tiba yang langsung berlari sekuat tenaga menuju stasiun. Kalau ketinggalan kereta pasti dia akan pulang malam untuk menunggu kereta selanjutnya.
          Tap...Tap..Tap... suara langkah kaki Hoshi memasuki gedung stasiun, nafasnya sudah hampir habis.
          PRIIITTTTTT peluit kereta sudah berbunyi tanda kereta akan segera meninggalkan stasiun.
          “Yabai... yabai...” rutuk Hoshi sambil terus berlari menuju pemberhentian kereta.
          Ia berhenti dengan kecewa. Terlambat, ya begitulah, keretanya sudah menjauh dari stasiun. “Siapa yang akan disalahkan sekarang?” gerutunya lesu sambil berjalan gontai menuju tempat menunggu. Ia sesekali melihat jam besar di depannya dan melihat jadwal pemberangkatan kereta di monitor besar tak jauh dari loket pembelian tiket. “Jam 6? Apa? Aku harus menunggu selama itu? Hhhh” ia kembali mendesah.
          “Oh. Tidak biasanya kau terlambat kereta?” sapa petugas loket yang sangat hafal dengan pelanggan setianya.
          “O.. hai. Tadi ada sedikit masalah di sekolah” jawab Hoshi seadanya.
          “Kau akan menunggu disini?” tanya petugas itu lagi. “Un. Hai” jawab Hoshi lalu mendengus pasrah.

          TIK..TIK..TIK.. detik jam terus berjalan, rasanya begitu lama bagi seorang yang sedang menunggu. Hoshi hanya melihat orang-orang berlalu lalang keluar masuk stasiun. Sesekali ia mendengar suara orang-orang yang tengah bersenda gurau dengan riangnya bersama temannya, sampai suara tawa yang keras ikut masuk ketelinganya yang kini begitu liar. 15 menit berlalu, terlihat di wajah Hoshi yang mulai bosan. Tidak biasanya ia menunggu sesuatu seperti ini, karena ia selalu menjadi orang yang tepat waktu. Hal ini menjadi perhatian penjaga loket. Ia menghampiri Hoshi sambil membawa air mineral.

          “Kamu mau minum?” tawarnya menunjukkan botol airnya.
          “Arigatou Gozaimasu” jawab Hoshi malu-malu. Bapak penjaga loket itu melihat kearah jam dinding besar, lalu kembali menatap Hoshi.
          “Aku sarankan kau naik bus saja. 3 jam bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Kulihat kau orang yang tidak suka menunggu” ujarnya. Hoshi hanya mengangguk, ia masih bingung akan menjawab apa.
          “Ya, walaupun perjalanannya lebih lama dari kereta dan biaya transportnya sedikit lebih mahal. Bukankah itu lebih baik, kamu tidak akan sampai dirumah malam-malam. Kurasa sebentar lagi akan ada bus yang lewat di halte nomor 9” tambah Bapak itu. Hoshi mulai memikirkannya. ‘Benar juga’ pikirnya.
         “Un. Arigatou Gozaimasu atas sarannya. Saya akan naik bus hari ini. Dewa mata...” pamit Hoshi, tak lupa ojiginya.
          “Sou desu, Ki o tsukeru!” kata bapak Petugas itu. Hoshi pun pergi. “ya, walaupun sedikit mahal, tak apa lah. Aku juga tidak ingin telat pulang, nanti okaasan khawatir. Ganbatte !!!”.

          Kini Hoshi tengah berjalan menuju Halte no.9 seperti saran penjaga loket tadi. Ia melewati sebuah pohon sakura di ujung jalan, di bawahnya ada sebuah bangku kayu panjang. Terlihat begitu teduh dan nyaman untuk istirahat, kelopak sakura yang berguguran berserakan di sekitarnya. “Ternyata disini ada tempat seperti ini ya?” gumamnya tanpa kehilangan senyum dibibir tipisnya itu. Ia berjalan mendekati tempat itu dan memperhatikan sekeliling. Ya, ini kali pertamanya Hoshi lewat jalan ini. Ia terlihat begitu menikmati suasana itu.
          Tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat sebuah mobil mewah tengah terparkir ditepi jalan. Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan pakaian serba hitam dan juga kacamata hitam yang dipakainya, seperti seorang bodyguard para pengusaha kaya atau orang penting. Ia sedang menunggu di dekat mobil itu. Tak lama kemudian seorang lagi yang berpenampilan sama tengah memaksa seorang anak laki-laki yang masih berseragam. Terlihat lelaki itu terus meronta dengan kesal dan sesekali menatap tajam orang-orang itu syarat akan ancaman. “Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!” pekik anak laki-laki itu.
          Mendengar itu Hoshi langsung menoleh, namun anak itu sudah masuk kedalam mobil. Ia hanya melihat 2 orang berbaju hitam itu ikut masuk.
          “Hwaa? Misterius sekali orang-orang itu” gumamnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju halte, dan mobil itu melewatinya. Ia terus berjalan,namun ia merasa seperti ada orang yang sedang mengikutinya dari belakang. Setelah ia menoleh, ternyata tak ada siapa-siapa. ‘Hhh. Cuma perasaanku saja’ pikirnya,tak lama kemudian bus yang dinantikannya pun datang, segera ia masuk kedalam.
          “Saya memastikannya baik-baik saja, Tuan” ucap seorang pemuda yang memakai masker hitam menutupi setengah wajahnya. Tatapannya datar. Setelah memastikan sambungan teleponnya ditutup oleh lawan bicaranya ia pun memasukkan ponselnya ke saku celananya. Lalu pergi dengan misterius.
~o0o~
          Di sebuah rumah yang cukup besar. Aa, tidak. Tapi rumah yang sangat besar bahkan. Mewah dan elegan. Disana-sini terlihat orang-orang berseragam hitam dengan sedikit corak merah di lengan kanannya berlalu lalang, tatapan mata mereka terlihat tajam dan selalu fokus. Semakin masuk kedalam rumah itu kita akan dimanjakan dengan pemandangan kerlap-kerlip barang-barang mewah yang berkilauan di sana-sini. Bisa dibilang rumah itu bagaikan sebuah istana. Kalian pasti sudah berpikir betapa kayanya sipemilik rumah itu.
          Di sebuah ruangan yang cukup besar. Terlihat seperti ruang kerja pribadi dengan meja dan kursi yang terletak di ujung sebelah kanan tepat menghadap pintu, dan satu set sofa putih dan meja kaca yang berframe putih senada dengan sofanya. Di belakang kursi itu terdapat sebuah dinding yang diukir dengan marmer merah yang sangat langka. Sebuah simbol bulan besar dengan api yang berkobar disekelilingnya. Dibawahnya terlihat tulisan huruf kanji yang bila dibaca berbunyi ^AKATSUKI^ yang artinya Bulan Merah. Mendengar nama itu semua orang akan tahu bahwa itu adalah sebuah Klan terkaya kedua di seluruh dunia dan juga klan yang menciptakan orang-orang yang hebat. Termasuk salah satu pemegang saham terbesar didunia, bahkan kerajaan Inggris dan Amerika masih jauh dibawahnya.
          Ditempat itu terlihat seorang pria duduk dengan bersandar disandaran kursi itu dengan tatapan tajam kearah seorang pemuda yang tengah berdiri didepannya dengan wajah tak acuhnya, tak peduli akan tatapan mengintimidasi dari orang didepannya itu.
          “Berapa kali kubilang kau harus segera masuk kekelas bisnis. Kau adalah calon penggantiku setelah ini. Kau harus berfikir dewasa. Kau ini dilahirkan sebagai seorang penguasa. Jadi lakukan apa yang kuperintahkan” tutur pria itu dengan suara beratnya yang tegas. “Kurasa Anda salah Kudaime-sama. Saya bukanlah penerus Anda. Karena kenyataannya saya hanyalah putra seorang Sekretaris di Klan ini” jelas Pemuda itu enteng. Pria itu menatapnya geram.
          “Apa yang kau katakan? Secara sah kau adalah putraku. Memang aku sengaja menitipkanmu pada Sekretaris Yamada. Dan itu sengaja kulakukan agar kau selamat dari peperangan politik ini. Kau kubutuhkan untuk merampas dunia ini dari klan Hyuga. Kau tahu kan?” serius pria itu. “Sumimasen. Saya tidak tertarik. Permisi” pamitnya lalu pergi tanpa merasa bersalah. “Ryosuke~~!!!” pekik Pria itu dengan geram menatap pemuda itu pergi begitu saja. “Tch? Apa dia benar-benar anakku?” rutuknya sambil menghenyakkan tubuhnya di kursinya.
          .....
          “Dia membutuhkanku hanya untuk bisnisnya? Hhh, dia hanya ingin memanfaatkanku” Ryosuke melemparkan tubuhnya dikursi.
          “Ryosuke-sama. Anda tidak boleh seperti itu pada Kudaime-sama, bagaimanapun...”
          “Otousan. Jangan memanggilku seperti itu. Aku ini adalah putramu” Ryosuke menghampiri pria tengah baya yang berdiri menunduk tak jauh darinya.
          “Tapi... saya hanya ayah angkat anda” kata pria itu sedikit bernada ragu. “Otousan... apa seperti ini dunia bisnis? Apa semua harus membedakan satu sama lain? Oleh karena itu aku tidak ingin masuk kesini sejak dulu” rutuk Ryosuke kembali mendesah.
          “Ryosuke-sama”
          “Otousan. Kubilang jangan memanggilku seperti itu. Panggil namaku saja seperti dulu. Onegaishimasu” pinta Ryosuke.
          “Ryosuke. Sekarang kau sudah menjadi calon pewaris tahta Klan Akatsuki ini. Tanggung jawabmu akan semakin berat, kau harus menjadi kuat dan semakin kuat. Sebagaimanapun kau berusaha menghindar kau tetap akan terjebak disini. Karena inilah duniamu sebenarnya, inilah takdirmu” ujar pria yang biasa dipanggil sekretaris Yamada.
          Ryosuke mengalihkan pandangannya keluar jendela besar di sampingnya. Ini adalah hari yang sangat dibencinya, sejak kecil ia sudah tahu bahwa hari ini pasti akan datang. Ada banyak alasan mengapa ia tidak suka dan benci dengan hal ini. Pertama, dunia ini adalah dunia yang sangat kejam, semua orang didalamnya akan mengorbankan apapun, bahkan keluarganya sendiri hanya untuk menjadi penguasa tertinggi. Kedua, dunia ini adalah dunia bagi mereka yang tak punya hati, penuh paksaan dan hanya ada dendam satu sama lain. Ketiga, adalah hal yang paling membuatnya benci dunia itu, karena dunia itu membuatnya kehilangan semua orang yang disayanginya. Ia sangat bahagia menjalani kehidupannya yang masih bebas sekarang, tapi tidak sebentar lagi. Ya, rasanya dia lebih memilih mati daripada menjadi penguasa haus harta seperti mereka. Ah, kalau bisa memilih orangtua, ia akan memilih keluarga yang sederhana namun bahagia. Itu hanyalah impian.
~o0o~
          Hoshi sudah hampir sampai di rumahnya. Hari sudah senja, ia berjalan cepat menuju rumahnya takut kalau ibunya khawatir.
          “Tadaima “ ucapnya saat memasuki rumah. Hening tak ada jawaban.
          “Okaasan...! Okaasan!” panggilnya, namun tetap tak ada respon. “apa Okaasan mencariku ? ahh, apa yang harus aku lakukan?” bingungnya sambil mencari-cari ibunya di sekeliling rumah. “Hhh, apa Okasan diculik? Mungkin? Orang yang mengejar kami 6 tahun yang lalu...” Hoshi mengingat kejadian saat ia masih berumur 12 tahun.

          #FLASHBACK_ON
       “Ayo Hoshi-chan.... Hayaku...!” pekik ibu Hoshi sambil terus berlari menggandeng tangan Hoshi yang saat itu baru menyelesaikan kursus pianonya. Hoshi yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti ibunya. Sedang di belakang mereka seorang pria setengah baya berpakaian jas coklat mengejar mereka dan terus memanggil Himemiya (Tuan Putri), dan juga memanggil nama ibunya. Disebuah gang kecil mereka berbelok dan bersembunyi di balik tumpukan kardus disalah satu kios di daerah itu. Mereka berdua berjongkok, ibu Hoshi terus mengisyaratkan agar mereka tak mengeluarkan suara. Sesekali ibunya mengintip apakah orang itu sudah pergi atau belum.
          “Dia sudah pergi. Hhh, yokatta” lega ibunya sambil menghela nafasnya. Sedang Hoshi hanya diam saja. Setelah itu mereka pun pergi dari tempat itu.
          ....
          Sesampainya dirumah Hoshi didudukkan oleh ibunya dan saat itu Hikka juga ada.
          “Hoshi-chan. Dengarkan Haha baik-baik. Mulai sekarang kau tidak boleh sembarangan mengenal orang, jangan mudah menceritakan siapa dirimu dan darimana asalmu. Dan lebih bagus kalau kau tidak mempunyai banyak teman, cukup mereka yang benar-benar kau percaya. Mengerti?” ujar Ibunya serius.
          “Hai. Tapi, kenapa? Apa karena nanti akan banyak orang yang mengejar kita seperti paman tadi?” tanya Hoshi polos. “Hmm benar. Mereka adalah orang-orang jahat yang selalu menindas dan menganiaya orang. Apalagi kamu. Kamu adalah orang spesial”.
          “hai. Aku mengerti, aku berjanji akan selalu melakukan apa yang dikatakan Okaasan” Hoshi tersenyum. “Anak pintar” puji Ibunya sambil membelai lembut rambut putrinya. Hikka hanya menjadi pendengar setia tapi dalam hatinya ia selalu merasa iri pada adiknya itu, karena ia selalu mendapat kasih sayang yang lebih daripada dirinya.
          “Hikka-kun!” panggil ibunya. “Un?” Hikka hanya mengangguk. “Kau harus selalu menjaga adikmu, ya. Apapun yang terjadi kau harus melindunginya” tutur Ibunya. “Tapi... Okasan, aku...” . “Cukup. Kau tidak boleh protes karena itu adalah tugasmu sebagai kakak. Mengerti?” . “Hai” jawab Hikka tak bersemangat.
          #FLASHBACK_OFF

          “... Ahh. Benarkah itu terjadi?” Hoshi mondar-mandir. Karena itulah alasan mengapa ia mempunyai sedikit atau bahkan tidak mempunyai teman. Ia tak ingin hidup keluarganya di penuhi bayangan akan orang-orang seperti itu, meskipun ia sendiri tidak tahu apa alasan pastinya. Tapi ia yakin bahwa ibunya selalu melakukan hal-hal yang terbaik untuk semuanya, termasuk dirinya.
          “Tadaima” ucap seseorang memasuki rumah. “Okaasan!” pekik Hoshi girang mendengar suara itu, segera ia menghampirinya. Dia semakin senang saat melihat bahwa orang itu benar-benar ibunya.
          “Hoshi-chan. Gomen, ne. Haha pulang terlambat” ucap Ibunya sambil menggantung jasnya di gantungan yang ada di pojok ruang. “Ha? Jadi, Okaasan baik-baik saja?” tanya Hoshi. “Un? Tentu saja. Memang ada apa? Haha tadi baru saja dari Cafe. Eh, chotto matte... kenapa kau masih memakai seragam? Apa kau baru saja pulang?” Ibunya balik bertanya. “Oh, yokatta. Hmmh. Sumimasen, tadi aku ketinggalan kereta, jadi aku naik bus” jelas Hoshi.
          “Nani? Tapi kau tidak apa-apa kan? Kau baik-baik saja? Ada orang yang mengikutimu?” tanya Ibunya bertubi-tubi. Hoshi masih mencoba mencerna ucapan ibunya. “Ah. Daijoubu Okaasan. Jangan khawatir” ucapnya setelahnya. “Haah. Yokatta. Baiklah, sekarang mandi lah dan Haha akan menyiapkan makan malam untuk kita” . “Hai” Hoshi langsung menuju kamarnya.
          ‘Himemiya, sumimasen’ batin Ibunya dengan tatapan bersalah pada Hoshi yang terlihat begitu riang menuju kamarnya.
~o0o~
          Seperti biasa Ryosuke selalu berangkat lebih pagi. Ya, ia menunggu Hoshi. Entah kenapa sejak pertama kali ia bertemu dengannya di stasiun itu, ia selalu memikirkannya, dan selalu ingin dekat dengannya. Tapi, anehnya saat ia mulai mendekat padanya, dia malah mengganggunya dan membuatnya kesal, dan mungkin malah membuat Hoshi membencinya. Dia sendiri juga tidak mengerti dengan sifatnya itu.
          Terlebih lagi saat ia mulai menyadari latar belakang keluarganya, di saat itu ia menjadi takut. Dunia politik, bisnis. Dunia itu seperti kekangan aturan yang tidak masuk akal. Ditambah perjodohan antar klan yang selalu menjadi tradisi. Mereka tak segan-segan menghancurkan siapapun yang melanggar hukumnya. Termasuk ayah dan ibunya. Oleh karena itu ia takut untuk mencintai seseorang, ia takut akan membuat orang yang dicintainya itu menderita.
          Selama ini dia dirawat oleh Shino Yamada, sekretaris kepercayaan keluarganya. Ya, memang hanya dia lah orang yang sangat mengerti dirinya. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya termasuk Yuto sahabatnya sejak kecil itu. Sekarang yang tahu siapa dirinya hanya Tsuki Akiyama, dia memang putri dari pamannya. Entah apa tujuan ayahnya menyuruh Tsuki sekolah ditempat yang sama, bisa jadi dia menjadi mata-mata baginya.
          Mulai sekarang hidupnya pasti tidak akan bisa bebas lagi. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Yang pasti sekarang dia harus lebih waspada.
          “Aaaa ~~!!” pekik seseorang. Ryosuke yang mengenali suara itu langsung menoleh dan mendapati Hoshi tengah tersungkur di tepi jalan, dan sebuah sepeda motor melaju cepat melarikan diri. Tanpa ba bi bu, ia berlari menolong Hoshi. Ia menerobos orang-orang yang sudah mengerumuni Hoshi.
          “Ka? Daijoubu?” khawatir Ryosuke. Hoshi hanya merintih menahan sakit dari luka bekas goresan aspal di lengan kirinya. Ia menatap Ryosuke sekilas lalu melihati lukanya yang cukup lebar. “Argghh” rintihnya sekali lagi.
          “Nak, kau temannya? Sebaiknya segera bawa dia ke puskesmas disana. Agar segera ditangani dokter” saran seorang Ibu. “Oh. Hai, Arigatou gozaimasu” jawab Ryosuke. “Ayo!” Ryosuke mencoba membantu Hoshi berdiri. “Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri” tolak Hoshi sambil mencoba berdiri. “Tapi...”
          Hoshi menatapnya tajam dan mulai berjalan meninggalkan kerumunan itu. Ia memegangi tangannya yang sakit sambil mendesis menahan rasa sakitnya. Tubuhnya masih gemetar, terlihat jelas dari cara berjalannya yang masih tertatih. Ryosuke hanya menjaganya dari belakang dan selalu was-was. ‘Hhh. Kau itu benar-benar keras kepala dan kuat’ batinnya.
          ‘Ahh, kenapa seperti ini? Apa yang ku lakukan tadi sampai aku bisa seperti ini? Semua ini gara-gara dia. Aku seperti ini gara-gara si menyebalkan Ryosuke. Ah, atau mungkin salahku sendiri?’ argument Hoshi dalam pikirannya.
          Beberapa menit yang lalu....
          “Yosh. Kembali kesekolah. Semoga hari ini bisa kuhadapi dengan baik” ucap Hoshi semangat. Ia menghirup rakus udara pagi yang segar lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar wilayah itu. Dan mendapati Ryosuke tengah duduk di bangku panjang di bawah pohon sakura yang dilihatnya kemarin.
          Entah kenapa ia melihat aura berbeda dari Ryosuke. Ryosuke terlihat begitu sedih dan tatapan matanya menatap sendu objek di atasnya. Sangat berbeda saat di kelas ataupun di saat mengganggunya. Aneh, benar-benar aneh. Ya, mungkin dia ada masalah, tapi apa peduliku. Itulah yang dipikirkan Hoshi dan saat ia berbalik tiba-tiba sebuah motor melaju cepat kearahnya dan menyerempetnya hingga tersungkur ke aspal dan lengan kirinya terluka. Setelah itu beberapa orang mengerumuninya dan Ryosuke datang.
          Off...
          .....
          Hoshi sudah mendapat tanganan dari dokter, tangannya juga sudah diperban. Selama itu Ryosuke selalu menemaninya. Aneh saja dia tidak banyak bicara atau mengganggunya seperti biasa. Tapi, hal itu justru membuatnya aneh.
          “Hehh. Kenapa kau mengikutiku terus, hah?” ketus Hoshi menatap tajam Ryusuke yang masih berdiri dibelakangnya. “Hei. Aku ini menjagamu. Kau tahu kan sekarang kita partner, aku ketua dan kau wakilnya. Aku tidak bisa kerja sendirian jadi... kalau kau seperti ini kan yang susah aku juga. Oh ya, lagipula kau kan masih menjadi pacarku. Benar kan?” jawab Ryosuke tak kalah ketus. “Hhh” Hoshi mendesah tak percaya, tidak, tapi ia sudah menebaknya kalau Ryosuke akan mengatakan hal itu.
          “kenapa aku harus terjebak dengan orang sepertimu” gerutu Hoshi sambil berjalan cepat menuju kelasnya. “Heeiii... matte...!” teriak Ryosuke mengikutinya.
         
          “nani? Mereka benar-benar pacaran? Ini gawat. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana ini? Apa aku melaporkannya? Tidak mungkin, nanti Hoshi-chan? Ahhh... “ frustasi Tsuki yang sejak tadi memperhatikan Hoshi dan Ryosuke dari balik tembok kelas 2.1.
          “Melakukan apa?” tanya seseorang mengagetkannya.
          “Oh Yuto-niichan. Aaa,,, bukan apa-apa. Aku tadi melihat tangan Hoshi diperban mungkin dia sakit, i-iya begitu” ucap Tsuki berbohong. Yuto manggut-manggut. “Apa? Hoshi?” Yuto langsung masuk kedalam kelasnya. Sedang Hoshi menghela nafasnya lega. “Aku harus memisahkan mereka” gumam Tsuki kemudian pergi.

         Hoshi duduk di bangkunya dengan hati-hati. Ryosuke masih saja mengawasinya dengan seksama. Tak lama kemudian Yuto menghampiri Hoshi dengan terburu-buru.
          “Ada apa? Kenapa tanganmu diperban seperti itu? Apa terjadi sesuatu?” tanya Yuto. “Hehe. Tidak apa-apa, aku hanya kurang hati-hati saja. Jadi jangan khawatir” Hoshi mengulas senyum tipisnya. Yuto menghela nafasnya.
          “Ya... kau memang orang yang ceroboh. Kebanyakan nglamun mungkin, sampai berjalan tidak lihat-lihat” Ryosuke terkikik. “Tch” Hoshi mengacuhkannya. “Hei Ryosuke, kenapa kau itu jahat sekali. Oh, bukankah kalian sekarang partner kelas? Jadi kalian harus bekerja sama dengan baik. Ganbatte!” Yuto memberi semangat. ‘Hhh, dia cepat sekali tahu hal itu’ Hoshi hanya mendesah.
          “Oh ya Hoshi. Gomen untuk kemarin ya, aku tidak bisa membantumu, saat itu perutku benar-benar sakit. Apa kau benar-benar berjalan kaki saat berangkat sekolah?” tanya Yuto. “I-itu? Aa.. sudah lupakan saja. Semuanya sudah selesai, ya... karena ada yang membantuku kemarin, walau sepertinya tanpa sengaja” jelas Hoshi malas. “Oh? Benarkah? Siapa?”. Hoshi melirik kearah Ryosuke yang kini sudah dikerubungi para perempuan alay. “Dia?” kejut Yuto. Hoshi hanya mengangguk. “yang penting kau tidak menderita kan?” Yuto tersenyum damai, lalu memandang kearah Ryosuke. ‘Omedetou Ryosuke, ini awal yang baik untukmu’ batinnya. Hoshi begitu senang pada sifat Yuto yang begitu baik padanya dan begitu berbeda dari teman-temannya yang lain. ‘Andai saja aku dipasangkan dengannya, mungkin aku akan menjadi orang yang paling bahagia’ gumamnya.
~o0o~
          Sebagai partner pemimpin kelas, Ryosuke dan Hoshi mendapat banyak tugas dan tanggung jawab yang harus mereka tanggung. Suka tidak suka mereka harus melakukannya. Ya,walaupun terkadang mereka sering berbeda pemikiran, tapi mereka tetap bisa menyelesaikan semua tugas mereka.
          (Yang part ini mungkin banyak aku skip ya. Cuma sebagian-sebagian aja yang aku tulis. Maaf)
         
          “Haaah. Bisakah kau membuatnya lebih rapi sedikit? Seperti ini tidak ada nilainya”
          “Kenapa? Kau itu pandai sekali meremehkan orang”
          ‘PLAAAK’ . “DIAM dan CEPAT selesaikan”
          ....
          “KASIH SAYANG KEMANUSIAAN... SEDIKIT PEMBERIAN ANDA BISA MEMBANTU BANYAK ORANG!!!”
          “Arigatou Gozaimashita. Arigatou... arigatou...”
          “Hwaah, sepertinya kita mengumpulkan banyak?”
          “Un. Kita pasti bisa membantu mereka semua. Ganbatte”. “Yeah”
          “PEMBERIAN ANDA BISA MEMBANTU BANYAK ORANG!!!”
          ....
          “Hei... berhentilah menggangguku. Kau tidak lihat aku sedang sibuk?”
          “Ohhh... Ka lucu sekali”
          “HEEEIIII !!!!!”
          ....
          “Dasar ceroboh. Kau yang mengataiku seperti itu, tapi kau sendiri juga ceroboh. Apa kau tidak bisa melihat ada kotak sebesar itu di depanmu sampai menubruknya? Bakka”
          “Arghh. Kau ini kenapa selalu berteriak-teriak dan marah-marah padaku, huh? Kau ini tak punya hati ya? Sekarang aku lagi kesakitan, arghhh”
          “Oh ya? Rasakan ini”
          “AAAARRRGHHH. SSSS”
          “Bakka”
          ....
          “Berhentilah membuat orang lain khawatir”
          “...”
          “Lain kali kalau ada masalah mintalah bantuan padaku!”
          “Kenapa? Memang kau punya kepedulian padaku? Kau itu benar-benar berbeda dari Yuto. Kau tahu itu”
          “Tch. Terserah”
          ....
          Begitulah kiranya kebersamaan Ryosuke dan Hoshi dalam menjalani tugas mereka. Dari situ mereka semakin dekat dan mengetahui sisi lain satu sama lain.
          Namun, dari kebersamaan mereka itu, ada orang yang selalu mengawasi mereka dari jauh. Dan menatap mereka berdua dengan khawatir. Tidak hanya satu orang, tapi masih banyak orang yang mengawasi mereka. Orang-orang misterius.
~o0o~
          Disebuah taman yang terletak di tengah sebuah bangunan megah seorang pria tua duduk bersantai sambil memasukkan kakinya di air kolam yang hangat. Sedang tangannya membolak-balik lembar foto. Sesekali ia tersenyum senang, lalu tertawa namun kemudian terlihat sedih.
          “Kau sudah besar sekarang? Sudah saatnya kau kembali, kakek sangat merindukanmu” ucapnya menatap rindu foto itu.
          “Maafkan kakek. Andai saja Kouta dan Mizuki....Hhh” pria tua itu menghela nafas.
          Tak lama kemudian seorang pria setengah baya menghampirinya sambil menunduk memberi hormat.
          “Hachi Hashirama-sama!” ucap orang itu. Pria tua itu hanya berdehem.
          “Sebentar lagi ada pertemuan dengan Tuan Besar dari klan Akatsuki mengenai kesepakatan perjanjian perdamaian”
          “Baiklah. Siapkan segalanya” tegas pria tua itu. “Hai. Akan segera saya lakukan. Sumimasen”
          Setelah pria tadi pergi, pria tua itu memandang ke arah kolam air hangatnya. Memandang sebuah lambang yang ada di dasar kolam. Lambang sebuah bintang emas diatas telapak tangan dan dibawahnya tertulis kanji yang dibaca HEIWA HAGEMU (Menuju Perdamaian) atau yang lebih dikenal dengan sebutan HYUGA. Dan hanya menghembus nafas berat dan berjalan masuk kedalam ruangan pribadinya.
~o0o~
          Di sebuah studio musik beberapa orang cowok, salah satunya adalah Hikka tengah sibuk berlatih. Hikka adalah seorang gitaris dan juga vocalis. Satu orang pemain drum, seorang pemain bass dan seorang lagi pemain keyboard. Mereka terus berlatih untuk pertunjukan mereka minggu depan. Band mereka bernama MOONSTAR’S BAND. Dengan musik bergenre jazz.
          “one, two, one two three four...” Hikka memulai aba-abanya. Temannya yang lain mulai memainkan musiknya.
          ♪ Just For You ~ Hey! Say! JUMP ♪
          “Bravo. Kita pasti sukses” kata pemain bass, lelaki bertubuh pendek dengan senyumnya yang manis, biasa dipanggil Daiki. Semuanya bertepuk tangan. Hikka meletakkan gitarnya.
          “Kita pasti sukses. MOONSTAR GANBARETSUGO!!” pekik Hikka memberi semangat. “GANBARE” sahut yang lainnya.
          “Baiklah, latihan kita sampai disini saja. Aku harus pulang,Jaa ne” pamit Hikka. “OK. Mata ashita” jawab Daiki dan Yuya si pemain keyboard. “Aaa. Aku ikut!” seru si pemain drum yang langsung berlari mengejar Hikka.
          Akhirnya lelaki bernama Kei itu berhasil menyamai langkah Hikka.
          “Apa kau benar-benar harus pulang dulu?”
          “Kenapa?”
          “Tidak. Hanya saja aku ingin mengajakmu minum dulu”
          “Kurasa ada hal penting. Karena kau tidak biasanya seperti ini. Baiklah tapi hanya sebentar” ucap Hikka. Kei tersenyum lalu merangkul teman baiknya itu.
          ...
          Kini mereka berdua sudah berada di sebuah kedai makanan di pinggir jalan. Mereka memesan ayam goreng dan minuman soda.
          “Ahhh...” Hikka selesai meneguk sodanya.
          “Tch. Kau masih tidak kuat minum sake?” remeh Kei. Hikka hanya tersenyum. “Uhh. Apa yang ingin kau katakan?” tanya Hikka to the point.
          “Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu” ucap Kei. “Apa?”
          “Kata adikku, Tsuki, adikmu itu sekarang pacaran dengan Ryosuke ya?” tanya Kei sedikit berbisik. “Iya. Lalu kenapa?”. Kei mendengus kasar.
          “Kau tahu aku dan dirimu berada di 2 klan berbeda kan? dan kau juga tahu bagaimana peraturan di klanku kan? hal ini tidak bisa dibiarkan” tutur Kei. Hikka mengernyitkan keningnya.
          “Matte... maksudmu hanya karena perbedaan klan kita harus memutus kisah cinta seseorang? Hanya karena status?” tanya Hikka.
          “Kau belum tahu siapa Ryosuke, dia bukan anak orang biasa seperti kita” ulas Kei serius. “Apa dia mempunyai kekuasaan?” Kei mengangguk. “Apa itu bisa jadi alasan memisahkan mereka? Ini bukan jamannya Romeo dan Juliet. Jika kita saja yang berbeda klan bisa menjadi sahabat, kenapa mereka tidak bisa? Jangan takut Kei. Jikalau itu memang terjadi, aku selalu ada dibelakang mereka berdua. Bukankah itu mimpi kita selama ini? Menciptakan perdamaian dan kehidupan tentram antar klan?” tutur Hikka.
          “Ya, kau memang benar, tapi kita hanya orang biasa, apa yang dapat kita lakukan. Hahh aku benci dunia seperti ini” frustasi Kei. “Huhh, sudahlah, yang terpenting sekarang kita harus berjuang mewujudkan mimpi itu, kita bersama. OK” . “yahh, baiklah. Tapi jaga adikmu baik-baik. Aku juga akan membantumu. Asshh bisa-bisa aku dihukum berat jika ketahuan membantu klan musuh” . “Heii, kita ini bukan musuh, kan?” . “OK. OK”.
          ‘Entah apa yang dimaksud Kei. Tapi, dengan begini Hoshi akan mengenal klan Akatsuki lebih baik. Maafkan aku Hoshi, tapi ini memang harus kau lakukan. Gomen’ batin Hikka.
~o0o~
          Hari-hari berlalu begitu cepat. Hoshi dan Ryosuke sekarang semakin dekat. Bahkan Hoshi sudah berubah menjadi sedikit terbuka tapi tetap menjaga batasan sesuai nasehat ibunya. Teman, sekarang ia sudah punya teman baik, Tsuki, Yuto dan Ryosuke, meskipun ia masih saja jahil padanya.
          ...
          “Itadakimasu!!” sorak Hoshi dan Tsuki memulai acara makan siang. Di bangku taman dekat kolam renang sekolah mereka duduk sambil menyantap makanannya.
          “Un, Hoshi-chan. Apa yang kau suka dari Ryosuke-niichan?” tanya Tsuki berbisik. Hoshi hanya diam mengunyah makanannya sambil memperhatikan Ryosuke yang tengah duduk di seberang kolam bersama Yuto. “Tidak ada sama sekali, aku justru sangat tidak menyukainya. Lihat saja dia itu tak pernah menjaga ucapannya, memandang rendah orang lain, suka berkata manis yang tak bermutu, dan terlebih lagi, dia itu bodoh” tutur Hoshi sambil manggut-manggut.
          “Aa? Lalu kenapa kau pacaran dengannya kalau kau tidak suka?”
          “Siapa yang bilang? Aku sama sekali bukan pacarnya. Hal itu dulu hanya kecelakaan dan aku tidak peduli lagi...” Tsuki menatapnya bingung.”Ah sudahlah. Lupakan saja, yang pasti dia bukan pacarku. Lebih baik juga Yuto” ucap Hoshi semakin lirih. “Apa? Yuto-niichan? Kau menyukainya?” . “Aaaa... tidak-tidak. Sudah ayo makan lagi” Hoshi tersenyum garing dan mengalihkan wajahnya menghindari tatapan tak percaya Tsuki.
          ‘Entahlah, apa yang kurasakan sekarang. Aku merasa lebih nyaman saat bersamanya’ batin Hoshi.
          ‘Jika benar seperti itu, aku tidak perlu khawatir. Tapi kalau mereka terus bersama tidak ada yang tidak mungkin kalau mereka benar-benar jatuh cinta. Dan, seandainya ada yang tahu hal ini, maka... ahh sesuatu yang buruk pasti akan terjadi’ pikir Tsuki sambil menatap Hoshi khawatir.
          ....
          Ryosuke dan Yuto mengedarkan pandangannya kesekeliling taman, namun sesekali memperhatikan Hoshi dan Tsuki yang tengah menikmati makan siangnya. Ryosuke sesekali menghela nafas.
          “Hei. Kelihatannya kau sedikit lebih dewasa sekarang. Kau sudah tidak cerewet lagi. Kurasa sering bersama Hoshi membuatmu berubah” goda Yuto, dan hanya ditanggapi senyum tipis Ryosuke.
          “Heiii, ada apa?” tanya Yuto yang melihat wajah kusut sahabatnya itu.
          “Apakah aku bisa menjadi pelindung untuknya? Mungkinkah aku bisa selalu bersamanya?” gumam Ryosuke.
          “Aah. Kau ini terlalu berlebihan. Memangnya cinta kalian adalah cinta terlarang, huh?” canda Yuto. Ryosuke menatapnya serius. “Kurasa lebih tepatnya cintaku, Hoshi bahkan membenciku” Ryosuke menunduk. Yuto merangkul sahabatnya itu. “Kurasa tidak juga, Hoshi juga seorang wanita, mengatakan membencimu hanyalah cara menutupi rasa sukanya padamu” hiburnya.
          “Hhh... walaupun jika itu benar. Akan lebih baik jika dia benar-benar tidak menyukaiku” Ryosuke memandang kearah Hoshi. “Ah, kau ini orang yang aneh. Kau bilang kau ingin memilikinya tapi kau tak ingin dia menyukaimu. Sebenarnya apa yang kau inginkan sih?” . “Karena jika dia tetap bersamaku, maka dia akan dalam bahaya” tegas Ryosuke. “ha? Ya... kalau begitu, itu tanggung jawabmu untuk selalu melindunginya”
          Ryosuke memikirkan ucapan Yuto. “Seperti itu kah?” . “Kau ini temanku. Kau kira apa tujuanku membuatmu lebih dekat dengan Hoshi selama ini? Karena aku tak ingin melihatmu kesepian. Dan apa kau tega membuat usahaku untukmu sia-sia. Huh?” Ryosuke tersenyum simpul. “Arigatou” ucapnya.
          ‘Benar kata Yuto. Aku harus terus maju, tak peduli kasta atau klan apapun kita, tujuanku hanya untuk membuat orang yang kucintai bahagia. Aku akan selalu melindunginya’ yakinnya dalam hati.
~o0o~
          Pertemuan antar klan Hyuga yang merupakan klan terkaya pertama di dunia dengan klan Akatsuki, klan terkaya kedua ini telah menjadi trending topic di semua stasiun pemberitaan dunia. Acara yang di hadiri oleh orang-orang ternama dalam dunia politik bisnis dunia itu membahas rencana perdamaian antar dua klan itu. Sebuah perdamaian yang dinantikan oleh semua orang. Pertarungan politik yang terjadi selama bertahun-tahun lamanya sejak ketua klan yang pertama akan segera berakhir.
          ‘KLIKK’ Ryosuke mematikan TV di depannya. Sekretaris Yamada menghampirinya.
          “Saatnya Anda belajar mengenai dunia politik dan bisnis” ucap beliau. Ryosuke menatap ayah angkatnya itu datar. “Benarkah ini semua? Aku rasa ini hanyalah akal licik untuk menguasai satu sama lain” ucapnya. “Sumimasen. Tidak baik berkata seperti itu. Ini adalah awal yang baik untuk kita” . “Tch. Benarkah?” remeh Ryosuke lalu pergi. Sekretaris Yamada hanya menghela nafasnya lalu mengikuti Ryosuke.
~o0o~
          “Okaasan? Kenapa aku harus berdandan seperti ini?” tanya Hoshi yang duduk didepan cermin sedang ibunya menata make-up untuknya. “Ini sudah saatnya kamu tahu semuanya” ucap Ibunya. “Apa maksudnya?” . “Hari ini kau akan bertemu orang penting, jadi kamu harus tampil cantik” . “Orang penting? Siapa?” . “Ah,nanti kamu akan tahu, nah sudah selesai. Hwahh, ternyata Himemiya sangat cantik ya” puji Ibunya membuat Hoshi semakin bingung.
          “Okaasan, sudah saatnya” panggil Hikka yang sudah menunggu di depan rumah. “Hai” jawab Ibunya. “Ayo” Hoshi pun mengikuti ibunya ke depan.
          “Oh. Hontou Kirei na “ puji Hikka saat Hoshi dan ibunya keluar. “Hahh Oniichan jangan bilang seperti itu” Hoshi tersenyum malu. “Hhh, ayo kita pergi, mobilnya sudah lama menunggu” Hikka menunjuk sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari rumah mereka. “Ha? kita naik mobil?” heran Hoshi. “Un. Ayo” merekapun pergi. ‘Sebenarnya aku akan dibawa kemana sih? Kenapa harus berdandan seperti ini?’ pikir Hoshi sambil menatap kakak dan ibunya bergantian.
          ...
          Mobil yang membawa keluarga Hoshi berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah, rumah itu dikelilingi oleh tembok yang tingginya sekitar 2 meter dengan warna cream yang elegan. Pintu gerbang berwarna putih dengan ukiran kanji ‘HYUGA’ terlihat begitu kokoh melindungi rumah itu. 4 orang penjaga selalu siap sedia diposnya untuk melayani tuannya.
          Setelah penjaga itu membukakan gerbang itu, mobil itu pun masuk. Hoshi begitu takjub melihat pemandangan sekitar rumah itu. Taman depan yang begitu indah dengan warna warni bunga dan beberapa pohon sakura serta lampu taman disekitarnya, terlihat sangat rapi dan terpelihara. Setelah melewati taman yang cukup luas itu kini ia dimanjakan oleh sebuah rumah bak istana yang didominasi warna putih dan coklat muda yang terlihat elegan dan lebih menyatu dengan alam.
          “Rumah siapa ini?” gumam Hoshi.
          Tiba-tiba seseorang berbaju coklat membukakan pintu mobilnya. Hoshi tertegun sebentar, lalu ia pun turun. Orang itu menutup lagi pintu mobilnya setelah memastikan Hoshi telah keluar. Begitu pula Ibu dan kakaknya. Setelah semua keluar mobil itu pergi. Hoshi menatap Ibu dan kakaknya bingung. “Oniichan? Ini rumah siapa?” tanya Hoshi lirih. “Ini adalah rumahmu” jawab Hikka berbisik. Hoshi memandangnya tak percaya, tapi Hikka menunjukkan senyum simpul padanya.
          “Ayo” ajak ibunya. Mereka pun masuk ke rumah itu. Mereka disambut dengan beberapa orang wanita-wanita cantik berbaju seragam dengan ramah. Memasuki rumah itu Hoshi kembali dimanjakan dengan furniture-furniture yang benar-benar mewah. Bahkan ruang tamunya sebesar rumahnya. ‘Sebenarnya ini dimana sih? Ini benar-benar bagus dan mewah sekali. Apa aku bermimpi?’ pikirnya. Ia hanya mengikuti ibu dan kakaknya. Mereka berhenti di depan sebuah pintu putih besar, ibunya terlihat berbicara sesuatu pada seorang wanita dengan seragam yang sama seperti yang tadi.
          “Kami ingin menemui Hashirama-sama” ucap Ibunya. “Hai. Tunggu sebentar” ucap wanita itu yang langsung masuk kedalam. Hoshi berdiri di belakang kakaknya, “Tenanglah, aku disini” lirih Hikka sambil memegang tangan adiknya. “Oniichan sebenarnya ini rumah siapa? Siapa yang akan kita temui?” tanya Hoshi penasaran. “Sebentar lagi kau akan tahu” jawab Hikka, Hoshi mendengus kesal karena tak mendapat jawaban pasti dari kakaknya. ‘Kenapa mereka harus merahasiakannya sih?’ gerutu hati Hoshi. Tak lama kemudian wanita tadi keluar lagi.”Silakan masuk” ucapnya. Mereka bertiga pun masuk kedalam ruangan itu.
          Entah kenapa Hoshi sangat deg degan saat memasuki ruangan itu. Atmosfer yang terasa berbeda juga cahaya lampu yang terasa sangat terang, di sekeliling ruangan itu terpajang foto-foto pria yang terlihat seperti bangsawan bersama keluarganya. Mungkin itu adalah museum keluarga.
          “Kalian sudah datang?” terdengar suara tua yang berat namun tegas. “Hai, bagaimana kabar anda Hachi Hashirama-sama?” tanya Ibunya. Pria tua yang tadinya berdiri membelakangi mereka berbalik dan memandang mereka dengan tatapan tegas. “Ya, seperti yang kau lihat Shizumi. Apa itu putramu?” tanya pria itu. “Hai. Itu putra saya” jawab Ibu Hoshi. “Saya Hikaru Yaotome. Apa kabar tuan” ucap Hikka sopan. Pria itu tertawa kecil, “kau adalah pria yang tegas dan sopan” pujinya. Hikka hanya tersenyum menanggapinya. Sedang Hoshi masih bersembunyi di balik kakaknya, sesekali ia mengintip pria itu, pria yang terlihat memiliki aura menakutkan baginya.
Kakaknya menarik tangannya agar maju kedepan. Dengan sedikit ragu ia pun maju dan masih menunduk. “Ayo ucapkan salam” bisik Ibunya.
          “Apa kabar Tuan, saya Hoshi Haruka” lirih Hoshi. Pria itu hanya diam tak merespon, ia malah mendekati Hoshi.
          “Tidak baik berbicara pada orang tanpa memandang wajahnya” ucap pria itu semakin mendekat membuat Hoshi takut, ia menggenggam erat tangan kakaknya.
          “kau sudah besar sekarang. Cantik dan lemah lembut” . “H-h-hai”
          “Ah, apa yang ku lakukan. Kalian ayo duduk dulu. Tolong bawakan minuman dan makanan untuk mereka” pria itu menunjuk tempat duduk di sebelahnya. “Arigatou Gozaimasu” ucap mereka bertiga. “Hoshi... kau duduklah disini, sebelahku”. Dengan ragu Hoshi menurutinya.
          Lama pria itu memandangi Hoshi lekat-lekat. Membuat Hoshi tak nyaman. ‘Siapa kakek tua ini? Apakah ada yang bisa menjelaskan semua ini padaku?’ gumam hati Hoshi. ‘Kenapa semua hanya diam? Okaasan? Oniichan?’ tak ada yang mendengar pertanyaan hati Hoshi.
          “Himemiya?” panggil pria itu lembut. “H-h-hai?” jawab Hoshi. “Hahhhh. Shizumi-san, arigatou gozaimashita. Kau sudah merawat cucuku dengan baik selama ini. Maaf sudah membuatmu repot” ucap pria itu berhasil membuat Hoshi sedikit terperanjat. ‘Apa maksudnya?’ batinnya. “Iie Hashirama-sama, ini adalah kehormatan bagi saya. Himemiya adalah putri yang sangat pintar, baik dan lemah lembut” ucap Ibu Hoshi merendah. “Apa maksudnya, Okaasan?” tanya Hoshi memberanikan diri. “Beliau adalah kakek kandung anda, ini adalah rumah anda. Dan saya hanya pengasuh anda, Himemiya” jawab Ibunya. “Apa?” Hoshi menatap pria itu. “Benar kau adalah cucuku. Maafkan kakekmu ini. Kakek harus membiarkanmu tinggal jauh dari keluargamu” . Hoshi tak percaya mendengarnya..
          ...
          Kini Hoshi dan kakeknya berada di ruang keluarga. Sedang kakak dan ibunya sudah lebih dulu pulang. Walaupun ia sebenarnya tidak mau, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa setelah tahu bahwa banyak hal yang membuktikan dirinya memang cucu seorang millioner. Bahkan ia belum bisa mencerna semua kejadian ini, bagaimana ini bisa terjadi, memang sulit dipahami.
          “Himemiya” ucap kakeknya. Panggilan itu sangat aneh baginya. “Sumimasen, nama saya Hoshi Haruka” kata Hoshi seadanya. Tapi mendapat respon tawa dari kakeknya. ”Hahaha. Aku tahu, tapi disini kau akan dipanggil Himemiya” katanya. Hoshi hanya mengangguk lalu mengedarkan pandangannya keseluruh ruang itu. Ia tertarik pada sebuah foto keluarga kecil, seorang lelaki dan seorang wanita yang menggendong bayi, ia merasa begitu dekat saat melihat mata wanita itu. “Kau sangat mirip dengan ibumu,kan?” gumam kakeknya, “Ya?” tanya Hoshi. “Foto itu... itu adalah putraku dan itu istri dan anaknya... mereka adalah orang tuamu” kakek itu menerawang jauh. Hoshi terus memandang foto itu, “Benarkah mereka?” gumamnya.
          “Himemiya. Alasanku mengirimmu jauh dari sini adalah untuk melindungimu. Saat hari kelahiranmu ayahmu, yang saat itu menjadi presiden utama klan ini berhasil mengungkap semua kejahatan sebuah klan. Sehingga ia mendapat gelar Pembela Kebenaran. Namun, orang dari klan yang dijatuhkan ayahmu melakukan balas dendam. Setelah kau lahir didunia ini semua orang bersuka cita dan merayakan pesta besar-besaran, aku pun sangat bahagia saat itu. Dan untuk merayakan kelahiranmu secara pribadi, ayah ibumu mengajakmu jalan-jalan, mereka pergi bersama Shikamaru, orang kepercayaannya. Namun, sebuah kecelakaan terjadi,mobil yang membawa kalian menabrak sebuah pohon dan terbakar. Setelah itu aku mendapat kabar bahwa semua penumpang mobil tewas. Saat itu harapanku telah jatuh...” kakeknya mengambil nafas.
          “Aku sudah seperti raga tak bernyawa lagi karena harapanku satu-satunya meninggalkanku. Tapi, setelah hari pemakaman orang tuamu, juga Shikamaru, seorang wanita yang mengaku sebagai istri Shikamaru datang dan membawamu padaku. Ia menjelaskan bahwa sebelum mereka pergi, mereka menitipkanmu pada istri Shikamaru sebentar karena ada urusan mendadak. Tapi naas, mobil yang mereka tumpangi ternyata telah dirusak dan menyebabkannya hilang kendali. Saat itu aku sudah berfikir bahwa ini adalah pergolakan dari klan itu. Aku memutuskan untuk tidak membiarkan ini terjadi lagi, oleh karena itu aku menyuruh istri Shikamaru untuk merawatmu, menyembunyikanmu sementara, dan melindungimu dari bahaya” tutur kakeknya. “Orang itu adalah, Shizumi-kaasan?” tanya Hoshi lirih. Kakeknya hanya mengangguk.
          Mendengar semua itu, airmata Hoshi telah mengalir begitu deras, bagaimana hidupnya yang selama ini terlihat begitu indah di penuhi dengan tragedi masa lalu seperti ini. Semuanya begitu mendadak seperti ini, apakah ia harus percaya atau tidak. “Jadi, Himemiya. Sekarang kau harus berdiri kokoh. Kau adalah harapanku satu-satunya sekarang. Hoshi Haruka adalah nama yang diberikan orang tuamu, mereka berharap kau akan menjadi bintang yang bisa menyinari semua orang dan menjadi seperti musim semi yang selalu dinanti orang serta membuat semua orang memperoleh kebahagiaannya. Kau harus mewujudkan cita-cita orang tuamu”. Hoshi hanya diam mendengarnya. “Apa aku bisa melakukannya?” gumamnya. “Tentu saja, kau adalah cucu dari Hachi Hashirama dan putri dari Ku Hashirama yang hebat, kau pasti bisa” ujar kakeknya penuh semangat dan harapan besar, Hoshi memandang foto keluarganya nanar. ‘Otousan? Okaasan?’ gumamnya dalam hati.
~o0o~
          Hari ini untuk pertama kalinya Hoshi diantar sekolah naik mobil. Ya, karena kemarin dia harus menginap dirumah kakeknya. “Ojisan, tolong berhenti disini” ucap Hoshi pada sopirnya. “Hai” sopir itu langsung menghentikan mobilnya. Hoshi pun turun, “Aku akan berjalan dari sini, anda bisa pulang” ucapnya. “Tapi, Himemiya. Sekolah anda masih jauh dari sini” kata sopir itu. “Tidak apa-apa. Oh ya, tolong bilang pada Hashirama-jiisan, aku akan pulang kerumah Shizumi-kaasan hari ini. Arigatou gozaimasu” ucap Hoshi dan pergi setelahnya. Mobil itu pun pergi.
          Di perjalanan menuju sekolahnya ia masih saja tak percaya akan kejadian kemarin, semua yang didengarnya, semua yang dilihatnya. Ia berjalan dengan langkah gontai. Menyadari bahwa ia sudah tidak punya orang tua membuatnya begitu lemah, mengetahui bahwa Ibunya dan kakaknya selama ini bukanlah keluarga kandungnya, dan karena dirinyalah Shikamaru, ayah Hikka, ayah kakak yang sangat disayanginya meninggal. “Kenapa ini terjadi padaku?” lirihnya.
          “Hoshi~~!” teriak seseorang, mendengarnya Hoshi pun menoleh. Ia melihat Yuto dan Tsuki berlari kecil kearahnya, segera ia menghapus air matanya dan mencoba tersenyum. “Ohayou” sapa Tsuki dan Yuto hampir bersamaan. “Ohayou” jawab Hoshi lembut. “Oh? Aneh, biasanya kau berangkat naik kereta tapi kenapa kau lewat sini?” tanya Tsuki. “Ah. Apa kau jalan kaki? Kau kalah taruhan dengan kakakmu lagi?” khawatir Yuto. “Tidak. Aku naik bus tadi bersama Hikka-niichan. Hehe” bohong Hoshi. “benarkah?” tanya Yuto memastikan. “Tentu saja” . “Uhh. Hikka-niichan begitu baik sampai mengantarmu kesekolah. Bukankah hari ini ia ada konser?” ucap Tsuki. Mereka berjalan berendeng menuju sekolah. “Hmm. Bagaimana kau tahu?” tanya Hoshi. “Hei, aku ini kan adik dari Inoo Kei, pemain drum terbaik di MOONSTAR, hhh kau ini” . “Benarkah?” . “Apa aku belum mengatakannya padamu?” . “Hahaha... iya aku tahu” . “Hei kalian berdua bicara sendiri. Aku dilupakan” gerutu Yuto. “Oh. Yuto-niichan, apa kau mau makan siang bersama kami nanti?” ucap Tsuki dengan gaya lucu. “Tch” semuanya tertawa.
          ...
          Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan musim panas dimulai. Sebagai wakil kelas, Hoshi dan Ryosuke harus mempersiapkan laporan rencana liburan untuk kelasnya. Kini mereka sibuk melakukan diskusi dikelasnya.
          “Minna... tolong perhatikan sebentar” ucap Ryosuke mengawali diskusi. Ia berdiri didepan ditemani Hoshi. “Hari ini kita akan memutuskan tempat untuk liburan musim panas kita. Kami punya beberapa pilihan. Kertas ini akan kutempel di papan, dan kalian tinggal memilih tempat mana yang kalian ingin kunjungi. Kita akan menetapkan tempatnya melalui pilihan terbanyak. Wakarimashita?” tanya Ryosuke. “Hai~~!!” jawab semuanya. Hoshi pun menempel beberapa kertas berisi tulisan nama tempat liburan yang terkenal di Jepang. “Silakan maju satu persatu” ucap Hoshi. “Ryo-kun, kalau kau akan memilih mana?” tanya seorang siswi yang duduk dibangku paling depan dengan centil. “Apa? Aku? Oh, aku akan memilih tempat yang sama dengan Hoshi” jawab Ryosuke. “NNEE?” pekik siswi itu lalu menatap kesal Hoshi. “Apa yang kau katakan, huh?” umpat Hoshi berbisik. “Jangan khawatir. Aku tidak akan pergi, jadi kalian silakan maju dan memilih sehingga kami bisa segera memutuskan” ucap Hoshi. Semua pun mulai maju kedepan satu persatu.
          “Benar kau tidak pergi?” tanya Ryosuke. “Benar” tegas Hoshi. “Hoshi, benar kau tidak pergi? Mana bisa begitu? Kau ini kan wakil ketua, dan penyelenggara acara ini. Bagaimana bisa penyelenggara tidak ikut?” cerocos Yuto sambil duduk di samping Hoshi. “hhh. Entahlah, aku tidak berminat sama sekali” jawab Hoshi lesu. “Benar kata Yuto, bagaimana aku bisa mengatasi semua ini sendiri? Jangan-jangan kau sengaja membuatku susah ya?” ucap Ryosuke. “Assshh. aku hanya tidak punya keinginan untuk pergi saja” . “Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Yuto. “Tidak ada” singkat Hoshi lalu berdiri dan melihat hasil voting teman-temannya. “Arigatou gozaimashita. Setelah ini kami hitung, kami akan segera mengumumkan hasilnya” ucap Hoshi mengakhiri. Ia menatap Ryosuke memberi isyarat agar mengikutinya.
          “Ok” ucap Ryosuke. “Ryosuke. Sepertinya dia benar-benar ada masalah, jangan mengganggunya terus, kau mengerti kan?” nasehat Yuto. Ryosuke mengangguk dan pergi mengikuti Hoshi. Mereka berjalan beriringan menuju ruang komputer.
          Diruang komputer begitu sepi, hanya mereka berdua. Hoshi sibuk mengetik laporan untuk rencana liburan kelas sedang Ryosuke yang menghitung datanya. Beberapa waktu mereka disibukkan dengan kegiatan itu. Lama-lama Ryosuke merasa jenuh. “Ka? Apa kau tidak haus? Aku beli minuman dan beberapa camilan dulu ya” kata Ryosuke. Hoshi hanya berdehem menimpali. Ryosuke pun pergi.
          Ryosuke berjalan menuju kantin sekolah. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya dari belakang.
          “Ryosuke-niichan” kata orang yang tak lain adalah Tsuki itu. “Ada apa?” tanya Ryosuke datar. “mau kemana?” tanya Tsuki. “ke kantin mencari minum, kenapa?” . “un aku ikut ya” . “Hm. Terserahlah” ucap Ryosuke sambil berjalan duluan dan Tsuki mengikutinya dari belakang. ‘Kurasa Ryosuke-niichan yang menyukai Hoshi-chan. Kalau begini, apa yang harus kulakukan?’ pikir Tsuki.
          Setelah membeli dua botol jus dan beberapa makanan ringan Ryosuke pun kembali. Dan Tsuki masih saja mengikutinya.
          “Oh? Banyak sekali, kau mau berbagi dengan siapa?” tanya Tsuki. “Untuk Hoshi, kami sedang menyelesaikan laporan” jawab Ryosuke seadanya. “Oh. Begitu?” gumam Tsuki. “Oh ya, Ryosuke-niichan. Apa... kau suka pada Hoshi-chan?” tambahnya agak ragu. Ryosuke menatapnya tajam. “Kenapa? Apa kau akan mengatakannya pada Tuanmu? Tujuanmu sekolah disini untuk mengawasiku kan? ya, awasi saja, aku tidak takut selama yang ku lakukan adalah hal benar. Dan aku tidak peduli aturan apapun yang di berikannya” tegas Ryosuke mempercepat jalannya. “Bukan begitu... Ryosuke-niichan” ucap Tsuki. Ia menghela nafasnya, ‘Kau membuatku diposisi sulit’ batinnya sambil menatap punggung Ryosuke yang semakin lama semakin samar dan menghilang di depan ruang komputer.
         
          “Gomen menunggu lama” ucap Ryosuke. Tapi dia tidak melihat Hoshi disana, ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, namun tak menemukannya, ia keluar dan memperhatikan sekeliling namun tetap tak menemukannya. Ia melihat semua berkasnya masih ada di tempatnya, tapi Hoshi tidak ada. “Kemana dia?” gumamnya mendesah. “Kau itu kemana saja? Lama sekali” gerutu Hoshi yang baru keluar dari ruang penyimpanan. Ryosuke tersenyum senang melihatnya, ia menghampiri Hoshi.
          “Kau dari mana?” tanyanya. “Tinta printer habis, jadi aku mengisinya. Kau itu benar-benar lama sekali” gerutu Hoshi, Ryosuke benar-benar lega melihatnya. “Gomen, gomen. Sini biar aku yang print sebaiknya kau istirahat saja. Ini, minum jus ini” Ryosuke mengambil kotak tinta yang dibawa Hoshi dan menyerahkan botol minuman yang baru di belinya. “Ya, sudah” singkat Hoshi lalu duduk. Ryosuke mulai mencetak semua data laporannya.
          Hoshi hanya memandangi Ryosuke dari tempatnya. Selama ini Ryosuke selalu jahil dan mengganggunya, tapi dia juga selalu ada setiap kali ia mengalami kesulitan. Ia selalu merasa nyaman setiap kali melihat Ryosuke. Ahh, entah apa yang dia rasakan. Pikirannya kembali melayang kepada kakeknya. ‘Apa yang akan kulakukan setelah ini? Apa aku harus mengikuti saran kakek untuk belajar bisnis keluar negeri? Apa aku sanggup? Aku merasa ini seperti mimpi saja. Hhh’ pikirnya menerawang jauh.
          “Kau ada masalah?” tanya Ryosuke yang tiba-tiba sudah ada disampingnya. “Oh. Tidak” jawabnya singkat. “Hhh. Aku ini kan pacarmu? Kenapa kau selalu menyembunyikan masalahmu dariku?” kata Ryosuke. “Heii... sudah kubilang berapa kali, kita ini tidak punya hubungan apa-apa. Berhentilah mengaku-ngaku seperti itu” kesal Hoshi. “Baiklah. Kalau begitu anggap saja aku temanmu, dan ceritakan masalahmu, jangan kau pendam sendiri” ucap Ryosuke lebih lembut. Sebentar Hoshi menatapnya tak percaya, namun kemudian ia hanya mendesah.
          “Apa kau pernah merasa kesepian? Hidup di antara banyak orang tapi kau merasa sendiri?” tanya Hoshi. “Hmm. Pernah” jawab Ryosuke singkat. “apa kau pernah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya, dan kau dituntut untuk menjalankannya?” . “Iya” . “Apa kau pernah merasa sangat bersalah pada seseorang karena suatu hal yang tak pernah kau ketahui sebelumnya?” . “Itu...” . Hoshi kembali mendesah, matanya menatap sendu objek didepannya. “Kau baik-baik saja?” tanya Ryosuke. Hoshi hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. Ryosuke menatapnya sedih.
          “Aku pernah merasa kesepian, dan kurasa aku selalu merasakan itu. Sebagaimanapun aku mencoba menghilangkannya, perasaan itu tidak pernah pergi. Aku pernah mendapat sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya tapi aku tak mau dituntut melakukannya karena itu bukan hal yang kusukai. Merasa bersalah tentang hal yang tak ku ketahui sebelumnya, aku tidak pernah mengalaminya, aku sendiri tidak tahu pernah mengalaminya atau tidak. Ya, kurasa seperti itulah” ujar Ryosuke. Hoshi yang mendengarnya masih saja diam. “Tapi kenapa hal itu justru membuatku sakit? Mendengar sebuah kenyataan hidup yang tak pernah terpikir olehku membuatku goyah. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa sekarang.” ungkap Hoshi. Bahkan airmatanya sudah mengalir begitu saja. Ryosuke tak mengerti jelas apa masalah yang dihadapi Hoshi, tapi itu terlihat begitu menyakitkan.
          Ia memegang kedua pundak Hoshi agar Hoshi menghadap kearahnya. “Apapun yang terjadi kau harus tetap maju. Pilihlah jalan yang menurutmu paling benar. Percayai hatimu, jangan pernah menunjukkan airmatamu didepan orang lain seperti ini. Mereka akan menganggapmu lemah. Kau harus kuat seperti Ka yang kukenal selama ini” ujar Ryosuke sambil menghapus airmata Hoshi dengan sapu tangannya. “Bisakah aku melakukannya” lirih Hoshi. “Kenapa tidak? Aku akan selalu ada untuk membantumu, kapanpun dan dimanapun. Aku janji” . Hoshi tersenyum mendengarnya. Setelah itu hening. Keduanya hanya diam.
          Tak berapa lama akhirnya Hoshi sadar dari emosinya. ‘Apa aku menangis didepannya tadi? Ahhh benarkah? Assh, memalukan sekali’ pikirnya sambil melirik Ryosuke yang hanya diam memandang objek didepannya. ‘Ahh, aku benar-benar melakukannya?’ . Ryosuke menatapnya dan tersenyum padanya, membuatnya salah tingkah. “Sebaiknya kita kembali ke kelas dan mengumumkan laporan ini” ucap Hoshi yang langsung pergi. “Uh, baiklah” ucap Ryosuke yang merasa Hoshi sudah lebih baik, ia pun mengikutinya. ‘Bagaimanapun, terima kasih sudah mau memberiku saran’ batin Hoshi.
          ...
          “Aku akan mengikuti acara liburan musim panas sekolah minggu depan, jadi aku tidak bisa mengikuti pelajaran bisnis itu” kata Ryosuke pada Sekretaris Yamada. “Tapi... Kudaime-sama pasti akan marah pada anda” tutur beliau. “Kukira memang itu keahliannya. Lagipula aku kesana karena aku adalah ketua penyelenggara, jadi aku harus hadir. Tolong Otousan bilang padanya. Bilang juga aku akan membawa beberapa buku tentang bisnis yang akan kubaca saat waktu luang, ya setidaknya aku tidak akan meninggalkan kewajiban belajarku” ujar Ryosuke lalu pergi. Mendengar itu Sekretaris Yamada tersenyum simpul. “Sepertinya dia sudah mulai mengerti maksud Kudaime-sama. Baguslah” gumamnya lalu pergi.
          ...
          “Hemmhh ini benar-benar enak. Okaasan memang koki yang hebat” puji Hoshi sambil melahap makanannya dengan lahap. Sedang Hikka dan Ibunya hanya menatapnya sedih. “Oh, ada apa? Kenapa kalian memandangku seperti itu? Apa ada yang salah?” tanya Hoshi.”Oh tidak. Sudah ayo makan lagi. Nah tambah ini” ucap Ibunya menambahkan sayur kemangkuk Hoshi. “Makanlah sepuasmu. Ikan emas” ucap Hikka dengan senyum manisnya.
          “Oh ya. Minggu depan aku akan ikut berlibur ke pantai untuk jadwal liburan musim panas” . “Benarkah? Bukankah kau akan ada sekolah bisnis?” tanya Ibunya. ”Iya. Tapi, aku tidak bisa tidak datang karena aku adalah salah satu penyelenggaranya. Tapi, kurasa aku masih bisa belajar disana, jadi kalian tidak perlu khawatir” . “Biar Hikka ikut denganmu, dia yang akan menjagamu” . “Iya, aku juga sudah lama tidak ke pantai” sahut Hikka.
          “Jangan khawatir, aku punya banyak teman yang menjagaku. Lagipula ini hanya satu minggu” kata Hoshi mencoba meyakinkan. “Hhh, bilang saja kau malu diantar kakakmu” gerutu Hikka. “Hei.. kenapa Oniichan bilang seperti itu? Aku justru sangat bangga punya kakak seorang superstar. Kau adalah kakak terbaik di dunia” . Hikka tersenyum sambil mengacak rambut adiknya.
          “Kau sudah memberitahu Hashirama-sama?” tanya Ibunya. “Un. Besok aku akan kesana minta ijin. Ah, walaupun dilarang aku juga akan tetap pergi. Hehe” Hoshi kembali melahap makanannya sambil nyengir. Kakak dan Ibunya pun tersenyum, entah merasa bahagia atau sedih dengan hal itu. Tapi mereka mencoba bersikap seperti biasanya.
~o0o~
        “Hmm. Aku tidak bisa melarangmu. Biar nanti beberapa orang ikut denganmu untuk menjagamu” kata kakek Hoshi. Hoshi mendesah mendengarnya. “Kumohon Ojiisama, aku masih ingin menjalani kehidupanku seperti biasa, aku tak ingin orang-orang menjauhiku, lagipula ada banyak temanku yang akan menjagaku” jelasnya. Kakeknya tersenyum mendengarnya, “Kau tak jauh berbeda dengan ayahmu. Sama-sama keras kepala. Baiklah, tapi bawalah bekal yang cukup dan selalu waspada, mengerti?” . “Hai. Aku mengerti. Arigatou gozaimasu ojiisama” girang Hoshi. “Aku harus bersiap-siap sekarang. Sampai jumpa Ojiisama” Hoshi pun pergi. Kakeknya tersenyum bahagia melihatnya. Ia menekan tombol telepon didepannya dan menempelkan gagang teleponnya ke telinganya. “Awasi Himemiya, tapi jangan sampai ia tahu” ucapnya lalu menutup teleponnya. Ia menghela nafasnya berat.
          ...
          “Apa? Bisa-bisanya dia mementingkan acara seperti itu dibanding urusan masa depannya? Dan kenapa kau membiarkannya, huh?” murka Kudaime Akatsuki pada Sekretaris Yamada. “Sumimasen Kudaime-sama, saya tidak bisa mencegah keputusan Ryosuke-sama. Dia bilang, dia harus hadir karena dia adalah ketua penyelenggara, dan dia juga bilang tidak akan meninggalkan kewajiban belajarnya” ujar Sekretaris Yamada. “Benarkah begitu?” .”Benar Kudaime-sama, saya melihat Ryosuke-sama begitu semangat. Sepertinya dia sudah mulai tertarik dengan dunia bisnis” . mendengarnya Kudaime Akatsuki itu hanya manggut-manggut, dalam hatinya ia tersenyum senang karena Ryosuke sudah mulai mengerti tujuan hidupnya.
~o0o~
          “Ohayou minna...~~!! Apa kalian sudah siapa semuanya?” tanya Ryosuke. “Haiii....~~~!!” jawab semua. “Yosh. Kalian boleh masuk kedalam bus, sesuai urutan ya” tambah Ryosuke. lalu ia mengedarkan pandangannya, sepertinya ada yang belum datang. “Dimana Ka?” tanya Ryosuke pada Yuto. “Mungkin dia benar-benar tidak akan ikut. Dia orangnya kan tidak pernah telat” pendapat Yuto. Ryosuke hanya mendesah, mungkin karena masalah itu, ya, padahal dia sangat berharap sekali Hoshi datang.
          Setelah semua teman-temannya masuk, Yuto dan Ryosuke pun ikut masuk. “Chotto matte~~!!!” teriak seseorang. Ryosuke dan Yuto menghentikan langkahnya dan melihat asal suara. “Tsuki-chan?” gumam Yuto. ‘Kenapa anak ini ikut?’ pikir Ryosuke. “Oh. Ryosuke-niichan. Yuto-niichan, apa aku telat? Gomen ne. Hhehehe” kata Tsuki sambil mengatur nafas. “Hei.. apa yang kau lakukan? Ini kan tour kelas dan kau tidak sekelas dengan kami?” tanya Yuto.
          “Heheh. Gomen, habis aku tidak punya acara. Tenang saja, aku tidak hanya menumpang kok, aku akan bayar biaya transportnya, OK” Tsuki langsung saja masuk kedalam bus. “Hei.. kau!!” pekik Ryosuke. “Hhh, sudahlah biarkan saja. Hitung-hitung dia sebagai hiburan” bisik Yuto lalu masuk. “Pasti menjadi penguntit” lirih Ryosuke ikut masuk, ia masih menunggu siapa tahu Hoshi datang. Tapi lama, ia tidak terlihat juga, teman-temannya sudah banyak yang protes. Dengan kecewa, ia pun menutup pintu dan perjalanan dimulai.
          Disepanjang perjalanan Tsuki terus saja bicara, menceritakan hal-hal lucu yang membuat suasana perjalan begitu meriah. Semua tertawa mendengar ceritanya, sesekali ia bernyanyi dengan suara yang aneh dan lucu, membuat yang lain cekikikan. “Uhuk..Uhukk... sepertinya aku butuh minum... suaraku habis” ucapnya akhirnya, semua kembali tertawa. Tsuki mengambil botol minumnya dan meneguk isinya dengan rakus. “Benar-benar hebat. 2 jam nonstop. Kuberi kau penghargaan sebagai ratu bicara” canda Yuto. “hehe... Arigatou Gozaimasu” jawab Tsuki dengan senyumnya.
          Ryosuke sejak tadi hanya diam memandang jalanan. Suara riuh teman-temannya tak ia pedulikan, tak ada yang menarik baginya saat ini. Ia membuka buku yang dibawanya. ‘The Best Businesman’ itulah judul bukunya. “Apa aku mulai tertarik hal ini?” gumamnya lirih. Disepanjang perjalanan menuju pantai hanya ia gunakan untuk membaca buku itu.
          ...
          5 jam berlalu, akhirnya pantai yang dinanti sudah mulai terlihat. Semua yang tadinya lelah dan tertidur langsung bangun dan kembali riuh. “Kita sudah hampir sampai, Yatta!” . “Hwaah, ini indah sekali” . “Un, semua ayo kita siap-siap” . “Ini adalah musim panas terbaik” . “Pilihan tempat yang tepat” . “Ryo-kun kau memang hebat” . “Yatta!!” . “Woohhooo...Beach I’m coming!!!” . begitulah kiranya kebahagiaan mereka.
          Tak berapa lama kemudian mereka sampai di pantai. Merekapun langsung turun satu persatu, sebelumnya mereka menuju ke penginapan yang sudah mereka sewa untuk seminggu kedepan. Semua menurunkan barang bawaan masing-masing, dipandu oleh Ryosuke dan Yuto. “Minna... apa semuanya sudah dibawa?” tanya Ryosuke. “Hai” jawab semua serempak. ”Baiklah, kalian boleh masuk kedalam dan memilih kamar masing-masing” tambah Ryosuke. tanpa banyak tanya merekapun langsung berendeng masuk. Yuto dan Ryosuke yang paling terakhir.
          “Oh, sebaiknya kita periksa dulu busnya, mungkin ada yang tertinggal” saran Ryosuke. ”Un. Betul juga” setuju Yuto. Mereka pun kembali masuk kedalam bus, sekedar untuk mengecek.
          “Yosh. Sudah sampai” ucap Hoshi yang ternyata sejak tadi sudah berada di dalam bus dan duduk paling belakang, ia membuka pintu, dan saat itu Ryosuke juga hampir membuka pintu yang sama. ‘DDUUKK’ alhasil jidat Ryosuke benjol. “Auhhh” rintih Ryosuke. “Ups” pekik kecil Hoshi. “Oh, Ryosuke? ada apa denganmu?” seru Yuto yang langsung menghampiri Ryosuke yang masih terduduk di tanah. Hoshi mengintip siapa yang kejedot tadi, ‘Oh?’ batinnya lalu keluar. “Gomen ne” ucap Hoshi. Yuto dan Ryosuke menatapnya tak percaya. “B-bagaimana kau bisa ada disana?” tanya Ryosuke tergagap. “I-iya. Apa kau hantu?” tambah Yuto. Hoshi mendesis kesal. “Mungkin juga. Ah sudahlah, aku mau masuk. Sekali lagi, Gomen ne” ucap Hoshi langsung pergi meninggalkan Ryosuke dan Yuto yang masih tertegun dengan hal yang dilihatnya. Beberapa detik kemudian mereka berdua tersenyum dan langsung menyusul masuk kedalam.
          ...
          Hari pertama liburan, mereka melakukan sedikit kegiatan karena mereka masih lelah setelah melakukan perjalanan. Acara akan dimulai di hari kedua.
          Hoshi dan Ryosuke melaksanakan tugas mereka dengan teratur dan sesuai rencana. Mereka berusaha keras untuk membuat acara liburan itu tidak membosankan dan menyenangkan.
          Hari ini malam keempat liburan. Hoshi duduk ditepi pantai sambil menyalakan api unggun. Ia mengedarkan pandangannya. Matahari yang telah kembali keperaduannya, langit yang mulai menggelap, titik-titik cahaya yang mulai menampakkan dirinya, deburan ombak laut berkejaran, deru angin laut yang mulai berhembus lembut, menciptakan instrument alami yang menenangkan. “Huahh... apa aku masih bisa menikmati ini?” pikirnya sambil sesekali menggosok tangannya. Kemudian ia memandangi buku disampingnya, dan pikirannya kembali ke ucapan kakeknya.
          Himemiya... dunia bisnis adalah dunia yang kejam. Apa yang kau dengar, apa yang kau lihat hanyalah sebuah muslihat, kau tidak bisa mudah mempercayai orang. Kau tidak bisa lagi bergerak dengan bebas. Jika kau sudah masuk kedalamnya kau tidak akan bisa keluar dengan mudah. Jadi kau harus menjadi kuat dan selalu waspada. Kau tidak akan tahu dari mana musuh akan menyerangmu. Tapi, diantara semua itu, yang terpenting adalah kemauan keras, usaha dan pantang menyerah. Dan sejak Ichi Hashirama, mereka selalu mendasari usaha mereka dengan kebahagiaan, karena itulah kunci kesuksesan. Jadi, kutanya sekali lagi, apa kau tetap akan maju?
          Hoshi mendesah dan kembali memandang kearah laut.
          “Kau sendiri? Mau coklat panas?” tawar seseorang. “Oh. Yuto? Arigatou” jawab Hoshi. Yuto tersenyum lalu duduk disamping Hoshi. “Pemandangan malam ini benar-benar indah. Lihat kau ada dimana-mana?” ucap Yuto. “Ha?” bingung Hoshi. Yuto menunjuk ke langit, “Hoshi... Bintang?” ucapnya, Hoshi tertawa kecil mendengarnya. “Kau ada-ada saja” katanya malu-malu. “Hehe. Oh ya, ngomong-ngomong kau dan Ryosuke semakin dekat ya. Ah, tunggu, kalian kan pasangan. Hehe, aku menanyakan hal yang tidak bermutu” . “Sebenarnya tidak. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya, hanya sebatas partner kelas, bukankah kau tahu? Seharusnya yang membantuku dulu adalah kau, tapi justru dia yang datang dan sejak itu dia selalu saja mempermainkanku seperti itu. Hhh” . “Ahh, aku yang salah ya, hahaha, ini memang cerita yang aneh” Yuto tertawa garing, sedang Hoshi menatapnya heran.
          “Hehe, Gomen ne, aku yang salah” tambah Yuto. “Tidak sepenuhnya juga” lirih Hoshi sambil memandangi kakinya. “Tapi, kenapa kau masih bertahan, maksudku tidak memberontak saja, ah maksudku..?” Yuto bingung dengan apa yang dikatakannya. Hoshi tersenyum geli, “Aku tidak tahu. Jujur saja sejak dulu aku sangat tidak suka padanya, sifat dan sikapnya yang seperti itu, dan aku sangat menyukaimu” ungkap Hoshi. “Ha? k-kau menyukaiku?” gagap Yuto. “Hmm. Kau adalah orang yang sangat baik, kau mau menjadi temanku diantara semua orang meninggalkanku” . Yuto menelan ludahnya, ‘Apa dia sedang menyatakan perasaannya?’ pikirnya. “Hehe, aneh ya? Tapi, walaupun aku tidak suka sifat dan sikapnya padaku, aku berterima kasih padanya, karena dia, aku menjadi lebih percaya diri dan memahami hal-hal yang mungkin sangat kubutuhkan nanti”. Yuto memandang Hoshi bingung. Setelah itu hening. Lama, hingga akhirnya Yuto berbicara.
          “Kurasa... dia menyukaimu. Ryosuke, dia adalah orang yang baik, ia tidak pernah menyerah meraih impiannya. Dan dia bukan orang yang mudah percaya atau menyukai seseorang. Hmmh, ya terkadang dia bersikap seperti anak-anak yang menjengkelkan, suka mengganggu dan menyebalkan. Hahaha. Tapi, itu hanya untuk menutupi kesepian dalam dirinya, aku mengenalnya sejak kecil, dia tidak punya seorang ibu, hanya seorang ayah yang bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Aku sering melihatnya merenung seorang diri. Tapi, sejak dia bersamamu, dia terlihat begitu bahagia. Ya, begitulah, kurasa dia memang menyukaimu” tutur Yuto. Mendengar itu Hoshi tak menunjukkan perubahan posisi, reaksi ataupun pandangannya, ia hanya diam, bukan karena tidak terkejut bahwa Ryosuke menyukainya,tapi karena ia merasa bahwa Ryosuke sangat mirip dengannya. “Aku juga terkadang iri padanya, kenapa dia bisa begitu mudah tertawa lepas dalam kesepiannya itu?” gumamnya.
          “Itu caranya menghilangkan kesepian itu”. Hoshi merasa sudah bicara terlalu ngelantur, ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. “Dingin sekali. Huhhff” ia mengalihkan pembicaraan dan meniup-niup tangannya sekedar untuk mendapat kehangatan. “Hahh, kau benar. Kau tidak ingin masuk? Sudah saatnya makan malam” kata Yuto menyadari keadaan. “Baiklah, ayo” ucap Hoshi sambil berdiri. Mereka berdua pun menuju penginapan bersama.
          Sedang disisi lain Ryosuke duduk di rooftop sambil memperhatikan Hoshi dan Yuto. “Rasanya sulit mendapat senyumanmu saat kau bersamaku, tapi melihatmu tersenyum seperti itu sungguh melegakan. Apa, sebaiknya aku melepasmu? Kau hanya akan menderita jika bersamaku” ia memandang nanar Hoshi dan Yuto. “Huaahhh... bintang-bintangnya begitu banyak, hhh, tapi tetap saja aku tidak bisa memilikimu” gumamnya lalu kembali membaca bukunya.
          “Oh, Ryosuke-niichan kau disini? Semua mencarimu, sudah saatnya makan malam. Ayo” ajak Tsuki. Ryosuke hanya menatapnya sekilas lalu menutup bukunya dan turun. “Hhh, dia jahat sekali padaku? Aku kan saudaranya, tapi dia selalu bersikap dingin padaku” gerutu Tsuki yang mengikuti Ryosuke.
          ~~
          Hari kelima liburan. Tidak ada permainan, tidak ada aturan, semua bebas melakukan apa yang mereka sukai. Ada yang asyik berenang, ada yang hanya bermain air di tepi pantai, ada juga yang sedang asyik pacaran, bermain pasir, naik pohon bakau dan melompat kelaut, mengumpulkan binatang-binatang laut, dan sebagainya, semua bebas. Tsuki dan Yuto juga tak melewatkan kesenangan itu, ia juga mengajak Hoshi dan Ryosuke. Mereka asyik bermain di pantai, Ryosuke dan Yuto berlomba renang, sedang Hoshi dan Tsuki berlomba membuat istana pasir seindah mungkin, ya, karena mereka tidak bisa berenang. “Yosh, sudah selesai. Bagaimana kalau kita cari bintang laut sebagai hiasannya?” pendapat Tsuki. “Ide bagus, ayo” setuju Hoshi. Mereka pun langsung mencari bintang laut disekitar situ.
          “Wuhhuu... aku menang” sorak Yuto sambil mengangkat tangannya. “Hufftt. Baiklah kuakui kehebatanmu, Yuto-sama” ucap Ryosuke dengan nada kagum dibuat-buat. Yuto tersenyum girang. “Oh? Dimana mereka?” gumamnya. Mereka berdua mengedarkan pandangannya. “Itu dia” kata Ryosuke sambil menunjuk kearah Hoshi dan Tsuki yang sibuk melakukan sesuatu ditepi pantai. Tapi, tiba-tiba sebuah ombak besar datang. “Aaaaa....” pekik Hoshi, semua terkejut dan saat ombak itu kembali Hoshi tak terlihat. “Ka?” lirih Ryosuke. “Hoshi-chan... toloongg.. toloong” teriak Tsuki panik. Hoshi terseret ombak ke tengah, “Bluup... tolong.. bullp.. to.. long” teriak Hoshi mencoba tetap berada diatas air.
          Melihat itu Ryosuke langsung berlari diikuti Yuto, ia langsung melompat kelaut dan mencoba menyelamatkan Hoshi. Dengan bersusah payah akhirnya Ryosuke berhasil membawa Hoshi kedarat dibantu Yuto dan Tsuki. “Hoshi-chan. Hoshi-chan” pekik Tsuki yang masih panik, karena Hoshi tak sadarkan diri. Ryosuke terus mencoba mengeluarkan air dari paru-parunya dengan menekan dadanya beberapa kali, namun Hoshi tetap tak sadar. “Berikan nafas buatan” usul Yuto. “Iya. Benar” sahut Tsuki. Dengan ragu Ryosuke pun melakukannya.
          “Uhukk... Uhukkk.. Hkkk, Hhhh... hhhh” air sudah mulai keluar dari mulut Hoshi ia mengambil nafas dengan rakus untuk mengisi paru-parunya dan mulai membuka matanya. “Hhh. Yokatta, Hoshi-chan” lega Tsuki. “Yokatta” gumam Yuto, Ryosuke tersenyum lega melihatnya. Hoshi mengedarkan pandangannya melihat wajah teman-temannya yang terlihat khawatir. Tatapannya terhenti pada Ryosuke yang duduk didekatnya sambil menopang kepalanya. “Apa yang terjadi padaku?” lirihnya. “Kau hampir saja tenggelam,tapi Ryosuke segera menyelamatkanmu” jawab Yuto. Hoshi kembali menatap Ryosuke, “Daijoubu?”tanya Ryosuke. Hoshi mencoba berdiri, “Eh, pelan-pelan, sebaiknya kuantar dia kepenginapan” kata Tsuki. “Baiklah” ucap Ryosuke. Hoshi pun kembali kepenginapan bersama Tsuki.
          ...
          Malam terakhir liburan. Sepertinya sudah seperti kebiasaan, Hoshi selalu menyaksikan matahari terbenam seorang diri, tapi kali ini tidak ditepi pantai melainkan diatas rooftop penginapan, entah kenapa, mungkin karena ia masih trauma dengan laut setelah kejadian yang membuatnya hampir tenggelam kemarin. Kalau saja Ryosuke tidak menolongnya, mungkin... “Hhh..” desahnya. ‘Ada baiknya aku berterimakasih padanya karena sudah menyelamatkanku, tapi...’ , ‘...hahh, ini selalu menyebalkan. Sudahlah, lupakan saja’ pikirnya lalu mengalihkan perhatiannya kebuku yang dibacanya sejak tadi.
          Ryosuke sangat terkejut ada orang di tempat yang selalu menjadi tempatnya bersembunyi dari keramaian itu. Rooftop. Setelah menyadari bahwa itu Hoshi ia pun mendekatinya dan duduk disampingnya. “Biasanya kau kepantai jam segini” ucap Ryosuke mengagetkan Hoshi dan membuat Hoshi terperanjat hingga bukunya terjatuh. “K-k-kau?” gagapnya menatap Ryosuke. “Hehhe, gomen sudah mengagetkanmu” Ryosuke mengambilkan buku Hoshi. “Oh? Kau mempelajari bisnis juga?” tambahnya setelah membaca judul buku milik Hoshi. Tanpa menjawab Hoshi merampas bukunya. Sebentar Ryosuke terdiam dengan tindakan Hoshi, namun kemudian ia tersenyum dan mengalihkan pandangannya kelaut.
          “Kau sudah baikan?” tanya Ryosuke. Hoshi tetap diam. “Hhh... ini adalah hari terakhir liburan, ya? Rasanya cepat sekali” gumam Ryosuke mencari topik lain. Masih tidak ada respon dari Hoshi. “Rencana kita kali ini sukses lagi... tidak salah aku memilihmu sebagai partner” ucap Ryosuke. “Ehh... Soal kemarin... Arigatou, kau sudah menyelamatkanku..” ucap Hoshi ragu. Ryosuke menatapnya. “Oh. Itu? Ya, lupakan saja. Asal kau baik-baik saja tak masalah bagiku” . “Tch. Jangan salah paham, aku berterimakasih karena itu suatu keharusan” ketus Hoshi. “Heheh.. kau juga jangan salah paham, aku menyelamatkanmu karena kau adalah bagian dari tour ini, sudah tugasku menjaga keselamatan semuanya. Dasar ceroboh” kata Ryosuke tak kalah ketus. “Tch. Benar-benar” umpat Hoshi.
          Hoshi melihat Ryosuke juga membawa buku tentang bisnis. “Kau juga belajar tentang bisnis?” tanya Hoshi. “Oh, iya, apa kau juga ya?” . “Hmm, apa tujuanmu mempelajarinya?” . “Aaa... ingin saja, kalau kau?” . “I-itu... ya karena aku ingin melanjutkan usaha ibuku” jawab Hoshi. Ryosuke mengangguk, ia tahu bahwa Ibu Hoshi memang mempunyai sebuah cafe. “Oh, ya. Kata orang-orang dunia bisnis itu sangat kejam. Para pebisnis sebagian besar hanya mencari kekuasaan sebesar-besarnya dan selalu menghalalkan segala cara demi mewujudkannya. Bagaimana menurutmu?” tanya Ryosuke. “Itu... ya, kurasa itu umumnya. Mereka hanya tahu untuk memperluas kekuasaannya, mereka tidak memikirkan perasaan orang lain. Bisa dibilang sikaya makin kaya, simiskin makin miskin” ujar Hoshi. “Hhh, benar”
          “Lalu, bagaimana kalau seandainya kau mempunyai kekuasaan besar dalam dunia itu? Apa kau akan seperti mereka?” kali ini Hoshi yang bertanya. “Itu?” Ryosuke berfikir sebentar. “Tidak. Aku akan membuat duniaku sendiri. Dunia yang  menjunjung tinggi perdamaian, menyelesaikan pertikaian antar klan. Menciptakan dunia yang damai dan bahagia” tuturnya. “Ya, aku setuju. Aku juga ingin membuat dunia seperti itu” . “Tapi, perjuangannya akan sangat sulit, bisa jadi kita akan gugur sebelum kita mewujudkannya. Apa kau akan tetap maju?” . “Ha? kau sendiri?” . “Aku tidak akan menyerah, sebagaimanapun terjalnya jalan yang akan kulalui, aku harus tetap maju” . “Meskipun kau sendiri?” . “Ya. Meskipun aku sendiri. Jika tidak ada orang yang bisa kupercayai. Aku akan mempercayai diriku sendiri” yakin Ryosuke. ‘Yuto benar. Dia orang yang berkeinginan kuat’ batin Hoshi menatap mata Ryosuke yang begitu meyakinkan dan penuh tekad kuat, tak terasa ia tersenyum.
          “Baiklah. Kurasa kali ini impian kita sama. Bintang dan Bulan itu yang akan menyaksikan tekad kita. Ganbatte” semangat Ryosuke. “Siapa bilang? Sok mengambil kesimpulan” jutek Hoshi. “Hhh” Ryosuke mendesah, seakan semangatnya luntur, ia hanya menunduk. Hoshi tersenyum melihatnya. “Ya, ganbatte” ucap Hoshi. Ryosuke pun tersenyum sumringah. Mereka memandang kearah langit malam yang begitu ramai dengan kerlipan bintang dan bulan sabit, mengukir harapan dibawahnya. Perlahan Hoshi mulai menaruh perasaan pada Ryosuke. Entah perasaan apa itu. Yang pasti, malam itu, Hoshi kembali melihat sisi lain Ryosuke yang berpendirian teguh.
          Star Time ~ Hey! Say! JUMP
~o0o~
          Presiden utama klan Akatsuki tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memandangi serius foto-foto di depannya. “Siapa gadis ini?” tanyanya. “Namanya Hoshi Haruka, putri dari seorang wanita bernama Shizumi Takimaru, dia teman sekelas Tuan Muda, dan dia adalah partner kelasnya” jelas seorang bepakaian hitam dan misterius. “Apa status keluarganya?” . “Keluarganya adalah seorang pemilik cafe di kota, ayahnya sudah meninggal” . “Baiklah. Kau boleh pergi”. Tanpa banyak bicara, orang misterius itu pun pergi. Sedang Presiden itu, yang tak lain adalah ayah Ryosuke hanya diam memandangi foto itu. “Ini tidak bisa dibiarkan” geramnya sambil melempar foto-foto itu kedalam laci meja didepannya.
          ...
          Kini Hoshi sudah mulai rutin mengikuti pelajaran tambahan tentang bisnis dirumahnya, maksudnya rumahnya yang sebenarnya bersama kakeknya. Ia ingin melanjutkan cita-cita ayahnya untuk menjadikan dunia bisnis sebagai tempat untuk mewujudkan perdamaian. Ia juga mempelajari tentang berbagai klan bisnis yang ada diseluruh dunia. Hingga saat ini belum ada klan yang bisa mengalahkan klan Hyuga, namun saingan terberat klan Hyuga adalah klan Akatsuki. Kakeknya bilang,klan Akatsuki adalah klan yang tidak punya perasaan, Presiden Utama klan Akatsuki tega membunuh Istri dan anak pertamanya hanya untuk mempertahankan kekuasaannya. Sepertinya, kakeknya ingin menciptakan sebuah kebencian dihati Hoshi pada klan itu. Tapi, kakeknya malah berencana menjodohkan Hoshi dengan putra kedua klan itu.
~o0o~
          Setelah pulang dari liburan musim panas itu, Hoshi dan Ryosuke sering belajar barbagai hal yang bersangkutan dengan dunia bisnis bersama-sama. Bukan karena hal apapun, tapi bila belajar sesuatu hal yang sama bersama orang yang punya kegemaran sama itu lebih menyenangkan.
          Perlahan-lahan hubungan mereka semakin serius, perasaan simpati berubah menjadi perasaan suka dan akhirnya muncul kasih sayang yang menumbuhkan cinta antar keduanya. Tapi, mereka tetap saling berdiam diri, karena mereka berfikir jika mereka bersatu, maka akan saling membahayakan. Sebenarnya, mereka belum saling mengetahui asal usul keluarga satu sama lain. Dan mereka tidak tahu bahwa mereka akan dijodohkan.
          ...
          Hari ini untuk pertama kalinya akhirnya Hoshi bisa menonton konser kakaknya secara langsung di pusat kota Kyoto. Ia datang bersama Tsuki, Yuto dan Ryosuke. Acara berlangsung sangat meriah dan spektakuler. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya benar-benar seorang bintang besar.
          Setelah acara usai, semua personil MOONSTAR dan 4 sekawan makan malam bersama di kedai ramen favorit mereka.
          “Hikka, ternyata benar yang kau katakan, adikmu sangat cantik” puji Yuya. Hoshi tersenyum malu mendengarnya. “Hahh, tentu saja. Ehh, tapi kau tidak boleh mendekatinya, nanti kau akan mempermainkannya seperti korbanmu yang lain” canda Hikka, “Oh? Jadi Yuya-niichan itu playboy?” tanya Hoshi. Semua tertawa mendengarnya. “Un. Daiki-niichan, apa kau bisa mengajariku main bass. Kau sangat keren sekali saat bermain bass tadi” ucap Tsuki. Tidak malah menjawab, Daiki hanya menggaruk kepalanya.
          “Ahh, jangan berharap, dia bahkan tidak berani mendekati wanita” sahut Kei. “HEEI... apa katamu?” geram Daiki menatap tajam Kei. “Oh, menjadi seorang Idol sepertinya menyenangkan, apa ada lowongan untukku?” tanya Yuto. Semua memandangnya. “Apa kau punya keahlian?” tanya Yuya. “Aku bisa bermain drum” . “Mana bisa, itu bagianku” sahut Kei.”Oh, aku bisa bernyanyi dengan baik” . “Apa kau yakin bisa menyingkirkan Hikka?” tanya Yuya. Yuto melirik Hikka, dan dia menggeleng. “Hhh, tidak ada lowongan untukmu” ketus Yuya. “Tck” decak Yuto. “Matte... ada posisi yang cocok untukmu” kata Daiki, “Apa?” tanya Yuto semangat. “Penari latar. Kau bisa menari?” ucap Daiki. “Bisa, eh tapi kalian kan Band bukan Boyband, memang membutuhkan penari latar?” gumam Yuto, mendengarnya semua tertawa.
          “Kau itu polos sekali. Sudah ya, sepertinya aku dan Yuya harus pergi, seperti biasa, acara tambahan” kata Daiki pamit. “OK. Hati-hati” ucap Kei dan Hikka. “Aaa, Daiki-niichan, Yuya-niichan, aku ikut kalian” pekik Yuto yang langsung berlari pergi. “Tch, dia benar-benar” umpat Tsuki. Kini mereka hanya berlima disitu.
          Ryosuke sejak tadi tidak terdengar suaranya, ia masih serius menikmati ramen kesukaannya. “Tch. Ryosuke-niichan, apa itu sangat enak? Sampai kau tidak peduli sekitarmu” komentar Tsuki saat Ryosuke telah menghabiskan ramennya. “Hehe, gomen, ini benar-benar enak” ucapnya seadanya. “Heii.. kalau makan itu jangan tergesa-gesa, lihatlah mulutmu belepotan” kata Hoshi menahan tawanya melihat wajah Ryosuke. “Benarkah?” Ryosuke menghapus nodanya dengan punggung tangannya, “Pakai ini” Hoshi menyerahkan sapu tangan untuknya. “Tck. Tck. Tck. Ternyata kalian sangat romantis” kata Tsuki. Hoshi dan Ryosuke jadi salah tingkah sendiri. “Benar kan?” tambahnya mencari persetujuan yang lain. “Iya benar. Lalu kapan kau punya pacar?” goda Kei. “Apa? Aku? Nanti juga punya” jawab Tsuki malu-malu. ”Ahh. Mana ada lelaki yang mau denganmu?” . “Oniichan” pekik Tsuki.
          “Hikka, ikut aku sebentar” ucap Kei sedikit berbisik. Mereka berduapun pergi. “Hhh. Aku mau ke toilet dulu ya” kata Tsuki yang juga ikut pergi. Hoshi dan Ryosuke hanya diam sambil menikmati minumannya, tapi entah kenapa, kali ini mereka merasa canggung untuk memulai membuka obrolan.
          Sedang Hikka dan Kei duduk didepan kedai sambil melirik kedalam sesekali. “Ayah Ryosuke sudah mengetahui hubungan mereka. Sebaiknya kau awasi terus adikmu, jaga dia, mungkin sebentar lagi mereka akan melakukan hal buruk padanya” ucap Kei lirih. “Apa maksudmu?” tanya Hikka pura-pura belum mengerti. “Pokoknya kita harus mengawasi mereka berdua, aku dan Tsuki akan membantumu” ucap Kei. “Ya, kurasa begitu, baiklah, apapun yang terjadi sudah tugas kita melindungi mereka” ucap Hikka. Mereka memandang khawatir pada Ryosuke dan Hoshi.
~o0o~
          Ini agak aneh, tidak biasanya Tsuki terus mengikuti Hoshi, kemanapun ia pergi. Hal ini membuat Hoshi tidak nyaman. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya Hoshi akhirnya. “Tidak apa-apa, aku hanya menginginkan sesuatu darimu” ucap Tsuki. “Tch. Apa?” . “Tanda tangan Hikka-niichan. Apa kau mau memintanya untukku?” . “Ya ampun, kukira apa, lalu kenapa kemarin kau tidak mau memintanya langsung?” . “Hehe, aku kelupaan karena asyik mengobrol dengannya” . “hhh, baiklah” ucap Hoshi. Tsuki menghembuskan nafas lega dan mengikuti Hoshi lagi, namun lebih jauh agar dia tidak curiga.
          Ryosuke juga melakukan hal yang sama. Ia sudah mendengar semua rencana buruk ayahnya pada Hoshi. Ia tahu alasan mengapa hal ini akan terjadi. Semua ini tak lepas dari acara perjodohan antara dirinya dan putri klan Hyuga yang tak pernah dikenalnya, dan dia menolaknya. Oleh karena itu ayahnya mencari segala cara untuk melancarkan keinginannya itu.
          Sampai sekarang Hoshi belum mau menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia berharap semua orang tidak pergi meninggalkannya setelah tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia tak ingin kehilangan teman-temannya begitu cepat, dan juga, Ryosuke. Ia merasa mulai mencintai Ryosuke sekarang. Tapi, karena perjodohan itu, ia benar-benar takut jika Ryosuke terus bersamanya maka ia hanya akan membuatnya menderita. Satu lagi yang ia pelajari dari dunia bisnis, bahwa perjodohan bisnis hanya untuk menambah kekuasaan, dan para pelaku akan melakukan apapun dan tak segan-segan menyingkirkan apapun yang menghalangi tercapainya rencana itu.
          Kini ia berjalan seorang diri menuju stasiun, seperti biasanya. “Ka~~!!” panggil Ryosuke. Hoshi pun menoleh. Ryosuke menghampirinya dan berjalan disampingnya. “Aku ingin kerumah saudaraku. Apa aku bisa bareng naik kereta bersamamu?” tanya Ryosuke. “Un. Tentu saja. Memang itu kereta milikku sampai kau harus meminta ijinku untuk menaikinya” ucap Hoshi santai. “Hehe. Benar juga. Baiklah, ayo” semangat Ryosuke. Tiba-tiba Hoshi hampir terpelest di kubangan air, untung Ryosuke langsung menangkap tubuhnya. “Oh, arigatou” ucap Hoshi langsung berdiri, dan tersipu malu. “Hati-hati” saran Ryosuke. Hoshi hanya mengangguk ‘Aishh sepatuku kotor’ kesal Hoshi sambil menatap sepatunya.  Mereka pun berjalan berdampingan menuju stasiun. Sesekali Ryosuke memperhatikan sekitar dan waspada, ia melihat gerak-gerik mencurigakan dari beberapa orang, oleh karena itu ia bermaksud memastikan Hoshi selamat sampai rumah sebelum hal itu terjadi.
          Di stasiun, mereka masih menunggu kereta mereka. Namun tiba-tiba Ryosuke merasa perutnya sangat melilit. “Ah, aku ketoilet sebentar ya” ucapnya langsung berlari. Hoshi hanya mengangguk. Ia duduk sendirian diruang tunggu. Tapi ia merasa tak nyaman karena ada banyak mata yang sepertinya tengah memperhatikannya. Ia mencoba tetap tenang. Namun tiba-tiba ada segerombolan orang berlari kearahnya dan menangkapnya. Ia mencoba melakukan perlawanan dan mencoba meminta pertolongan, tapi tidak bisa karena mulutnya dibungkam. Tiba-tiba ia merasakan dingin dihidungnya dan mencium bau yang aneh, dan tiba-tiba tubuhnya menjadi ringan, setelah itu gelap, ia tak sadarkan diri.
          Tak berapa lama kemudian Ryosuke kembali, namun ia tidak melihat Hoshi. “Ka?” gumamnya sambil mengedarkan pandangannya. Ia menemui penjaga loket. “Sumimasen, apa kereta terakhir sudah lewat?” tanyanya. “Belum, masih sebentar lagi” jawab bapak penjaga loket. “Oh, lalu apa anda melihat gadis berseragam yang duduk di ujung sana tadi?” . “Aku tidak tahu, aku baru kembali dari makan siang, dan saat aku kembali tidak ada siapa-siapa” ujar penjaga loket itu. “Arigatou Gozaimasu” ucap Ryosuke lalu pergi.
          Ia berlari kesana-sini mencari Hoshi. “Ka~~!!” teriaknya terus menerus. Wajahnya terlihat begitu panik. ‘Dimana kau? Apa benar dia sudah diculik? Ka? Ahh, kenapa tadi aku meninggalkannya? Aku harus menemukannya, harus’ tekadnya yang langsung berlari menuju rumah Yuto. “Ka... chotto matte” gumamnya.
          ...
          “Apa? Hoshi?” pekik Hikka setelah mendengar penjelasan seseorang dari teleponnya. Tanpa banyak pikir ia langsung berlari pergi. “Hikka~~! Mau kemana?”tanya ibunya menahannya. “Himemiya... dia di culik” jelas Hikka panik. “Apa? B-bagaimana bisa?” tanya Ibunya ikut panik. “Sepertinya ini sudah direncanakan. Sebaiknya okaasan dirumah saja, siapa tahu Hoshi pulang. Aku akan mencari tahu, dan aku akan sering mengabari perkembangannya. Jadi jangan khawatir” ujar Hikka langsung melesat pergi naik motornya menemui Kei. “Himemiya” khawatir ibunya.
          ...
          “Aku butuh bantuanmu sekarang. Ayo” ajak Ryosuke setelah menjelaskan apa yang terjadi. Yuto yang tadinya menganggap itu hanya lelucon akhirnya mengikuti Ryosuke. Mereka berdua mencari Hoshi bersama. Mereka kembali kestasiun untuk mencari jejak.
          ...
          “Sudah kuduga akan terjadi. Ayo” kata Kei pada Hikka. “Ayo” ucap Hikka pasti. “Tsuki, kau pergilah mencari informasi, dan segera hubungi kami jika kau sudah mendapatkannya” perintah Kei pada adiknya. “Hai. Ki o tsukeru” ucap Tsuki. Hikka dan Kei pun melesat menuju sekolah Hoshi untuk mencari tahu. “Hoshi-chan, semoga dia baik-baik saja” harap Tsuki yang langsung pergi ketempat yang dimaksud kakaknya.
          ...
          Di stasiun Ryosuke dan Yuto tak menemukan apapun. “Apa dia benar-benar diculik?” tanya Yuto. “Aku yakin, karena beberapa hari ini dia selalu diawasi orang” jawab Ryosuke. “Bagaimana kau tahu?” . “Bukan saatnya menanyakan hal itu, kita harus mencari jejak mereka”. Mereka berdua pun kembali menelusuri setiap jalan yang dilalui kemungkinan dilalui Hoshi.
          Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Kei dan Hikka. “Kalian?” pekik Hikka. “Hikka-niichan?” pekik Yuto tak kalah terkejut. “Hoshi, dimana dia?” tanya Hikka. “Dia? Aku tidak tahu, tadi dia bersamaku, dan aku meninggalkannya sebentar ketoilet lalu dia menghilang” jelas Ryosuke. “Dimana terakhir kau meninggalkannya?” tanya Kei. “Di ruang tunggu kereta” jawab Ryosuke. Hikka dan Kei segera menuju kesana. “Kami sudah memeriksa tempat itu, namun tidak menemukan apa-apa” ucap Ryosuke, mereka mengikuti Kei dan Hikka.
          Mereka berempat kembali memeriksa tempat itu dengan teliti. Mereka menemukan sebuah jejak kaki sepatu yang terlihat masih baru. “Apa saat kalian berada disini tadi, jejak ini sudah ada?” tanya Kei. “Entahlah kurasa tidak” jawab Ryosuke. “Apa tadi kalian menginjak kubangan lumpur?” tanya Kei lagi. “Tadi? Ahh, iya. Hoshi hampir terpeleset saat pejalanan menuju kesini”.
          Tap. Tap. Tap. Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. “Kata penjaga loket, lantai sekitar sini baru saja di pel sekitar 20 menit yang lalu” ucap Hikka yang baru datang. “Itu berarti sebelum kami tiba disini” gumam Ryosuke. “Lantai basah dan lumpur disepatu mudah meninggalkan jejak. Dibagian ini jejaknya sangat tebal karena sepatunya diam sehingga lumpur mengumpul tebal disini” hipotesis Hikka. “Sedang disana, terlihat tipis dan panjang seperti sepatu yang diseret yang diseret, jika dilihat dari basahnya, ini tertinggal sekitar 10 sampai 15 menit yang lalu, karena ini tipis dan cepat kering” tambah Kei. “Jejak ini mengarah kesana” ucap Ryosuke. “Tapi, setelah itu hilang disini” sahut Yuto.
          “Bisa jadi mereka mengangkat Hoshi?” simpul Ryosuke. Hikka dan Kei mengangguk. “Apa kalian tahu kemana mereka membawanya?” tanya Yuto. Semua kembali diam, sulit menentukannya karena jejak menghilang begitu cepat. Mereka berempat hanya mondar-mandir di tempat itu. Kei berjongkok memeriksa sesuatu, ia mencolek sebuah noda kuning dilantai dan menciumnya. “Aku tahu dimana dia” ucapnya seketika. Semua menatapnya.
~o0o~
          Sementara itu disebuah ruangan yang cukup gelap, hanya cahaya matahari yang muncul dari celah-celah kecil dinding ruangan. Hoshi duduk disebuah kursi dengan tangan terikat kebelakang dan mulut yang ditutup dengan kain. Perlahan kesadarannya pulih, beberapa kali ia mengerjapkan matanya, dan melihat sebuah tempat yang benar-benar asing. Ia merasakan tubuhnya kaku tak bisa digerakkan dan kepalanya masih terasa berat. Setelah ia benar-benar telah sadar, ia menyadari bahwa ia tengah diculik, dan mengingat terakhir kali ia disergap beberapa orang dan akhirnya ia sampai disini.
          Ia mencoba meronta melepaskan ikatan tangannya, dan mencoba berteriak meminta pertolongan. Tapi sia-sia. Hingga seorang yang memakai baju serba hitam dan memakai masker yang menutupi setengah wajahnya menghampirinya. Hoshi mencoba mengecamnya dan terus menatapnya tajam, namun isyarat mata orang itu seakan menertawakan ketidak berdayaannya. “Ini sebuah konspirasi yang unik” ucap orang itu sambil menatap lekat wajah Hoshi. “Ya, kurasa hidupmu akan segera berakhir setelah ini. Tunggu saja. OK” tambahnya lalu pergi lagi. “Umm...um... ummm... UMMMM” pekik Hoshi mencoba mengatakan sesuatu.
          ‘Siapa dia? Kenapa aku diculik seperti ini? Apa tujuan mereka? Tapi, aku tidak boleh mati seperti ini. Hahh, apa yang harus kulakukan? Ahh, ikatannya terlalu kuat. Hikka-niichan, Okaasan, tolong aku’ batin Hoshi penuh harap. Ia masih mencoba menggerak-gerakkan tangannya agar talinya menjadi longgar. Namun tetap sia-sia. Ia pun akhirnya hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban datang.
~o0o~
          Berita tentang penculikan Hoshi sudah terdengar di Hyuga maupun Akatsuki. Klan Hyuga segera mengirimkan para detektif untuk mencarinya, sedang klan Akatsuki dihebohkan dengan kemarahan Tuan mudanya.
          ...
          “Apa tujuanmu melakukan semua ini?” keras Ryosuke menghadap ayahnya. “Kenapa kau tidak mengerti juga? Ini adalah peringatan bagimu, bahwa tidak semua orang bisa bergaul denganmu. Bukankah sudah kubilang kau akan kujodohkan dengan putri dari Klan Hyuga” tegas ayahnya. “Tch. Apa jika aku mau melakukannya, kau akan membebaskannya? Dia sama sekali tidak bersalah. Jadi, kumohon lepaskan dia” ucap Ryosuke semakin pelan. Ayahnya menatapnya tajam dengan seringai menakutkan. “Benarkah? Kau akan melakukannya?” tanya ayahnya. Ryosuke menatap mata ayahnya, “Aku akan melakukannya. Dan kau harus berjanji melepaskannya” tegas Ryosuke. “Baiklah, kau memang pandai menentukan pilihan. Tapi asal kau tahu, ini juga untuk kebaikanmu” . Ryosuke tak peduli apa yang diucapkan ayahnya, ia langsung saja pergi tanpa pamit. “Dia benar-benar mirip dengan kakaknya” gumam ayahnya.
          ...
          2 hari berlalu, namun klan Hyuga belum juga menemukan keberadaan Hoshi, sedang 4 sekawan memang sudah menemukan daerahnya, tapi mereka belum menemukan tempat dimana Hoshi disembunyikan, mereka masih menyelidiki tempat itu dan menyusun rencana.
          Sementara itu, Hoshi tetap dalam keadaan yang sama, dia terduduk lemah, hampir 2 hari ia tak menyentuh makanan ataupun air. Memang para penculik itu memberinya makanan, tapi, disaat seperti itu ia tidak berselera, ia tidak bisa berfikir apapun, entah akan ada orang yang menyelamatkannya atau tidak.
...
Ryosuke mendapat informasi dari beberapa orang kepercayaannya tentang dimana keberadaan Hoshi, ia pun segera menuju tempat Kei dan Hikka berada.
          “Kita bisa menolongnya sekarang. Di sebuah gedung tua dekat kuil” ucap Ryosuke. “Kau? Bagaimana?” heran Kei. “Aku menemuinya” . “Jangan bilang kau mempertaruhkan ...?” . Ryosuke hanya mendesah, tanpa banyak bicara ia ditemani Yuto, Kei dan Hikka pergi ketempat itu.
          ...
          “Cepat lepaskan dia!” seru Hikka. “Siapa kau berani-beraninya menantang kami?” kata salah seorang penjaga tempat itu. “Cepat lepaskan dia!” seru Ryosuke. “Tch. Anak kecil ikut-ikutan” remeh orang itu. Mereka berdua semakin geram, merekapun langsung menyerang orang-orang itu. Akhirnya perkelahian pun tak terelakkan.
          (Bayangin saja saat Bima X dan Torga melawan para monster-monster... :z)
          Hoshi mendengar ada keributan diluar. Ia yakin pasti ada orang yang menolongnya, siapapun itu hatinya terasa sedikit lega. “Ummm...Ummm.. UMMM” teriaknya meronta, mencoba memberi tahu bahwa dia ada di dalam situ. Tak berapa lama kemudian seseorang mendobrak pintu. Hoshi merasa sangat bahagia, tapi sebentar kemudian ia kaget karena yang datang adalah orang bermasker itu. Ia melepaskan ikatan tangan Hoshi. Hoshi terus meronta-ronta. Orang itu langsung membawa Hoshi pergi dari tempat itu, dan saat itu penutup mulutnya terlepas. “TOOLOOOONGGG.... TOLOOONG AKU” teriaknya sekuat tenaga, namun orang itu kembali menutup mulutnya.
          Diluar Ryosuke dan Hikka mendengar teriakan itu. Namun musuh mereka semakin banyak, mereka terus menyerang dengan membabi buta. Tak berapa lama beberapa orang asing datang dan membantu mereka. Melihat keadaan itu, mereka berdua langsung mengejar Hoshi.
          Disisi lain, mobil yang membawa Hoshi tiba-tiba berhenti mendadak, dihadang oleh Yuto dan Kei. ‘Yuto? Kei-niichan? Kalian?’ batin Hoshi. Kei dan Yuto mendekati mobil itu. Namun tiba-tiba... ‘DUARR.. DUARR’ letupan senjata api terarah pada mereka. Hoshi hampir menjerit histeris mendengarnya, ia benar-benar takut terjadi apa-apa pada mereka. Namun tak lama kemudian terdengar letupan senjata api bertubi-tubi, dan orang yang tadi membawa Hoshi sudah kabur begitu saja. “Hoshi-chan?” pekik Kei yang langsung masuk mobil dan menyelamatkan Hoshi. “Kei-niichan?” lirih Hoshi. Dan saat itu pula, Ryosuke dan Hikka datang. “Ka? Daijoubu?” tanya Ryosuke yang masih ngos-ngosan. “O-nii-chan” pekiknya lemah dan langsung memeluk kakaknya. Ia pun tak sadarkan diri. “Hoshi... Hoshi...” pekik yang lain.
~o0o~
          Kini semua terlihat begitu terang... Hoshi mendapati dirinya tengah terbaring di ranjang dengan aroma obat di sekelilingnya. “Arghh... aku dimana?”lirihnya sambil memutar bola matanya. “Hoshi-chan? Kau sudah sadar?” pekik seorang wanita yang duduk disampingnya dengan girang. “Okaasan? Oniichan? Yuto? Tsuki?” lirihnya menyebut semua yang ada disitu. “Yokatta. Daijoubu?” tanya Tsuki. Hoshi hanya mengangguk, ia mulai ingat yang menyebabkan dirinya disini adalah kejadian kemarin, andai saja saat itu tak ada mereka, entah bagaimana nasibnya. Ia mencoba duduk, “Jangan dipaksakan, kau masih lemah” tutur Ibunya. “Benar. Istirahatlah yang cukup” tambah Hikka.
          “Semuanya. Doumo arigatou gozaimashita. Kalian sudah menolongku. Arigatou” ucap Hoshi. Semua hanya memberikan senyumnya. “Ah, yang terpenting sekarang kau sehat, kan?” kata Yuto. Hoshi tersenyum, namun matanya mencari seseorang, ‘Sepertinya kemarin dia juga menolongku? Tapi, dimana dia sekarang?’ pikirnya. Semua merasa bahagia melihat Hoshi sehat kembali. Tapi, ini menuntut semua untuk semakin waspada.
          ...
          Di ruangannya Hachi Hashirama meremas geram sebuah kertas sambil memandang tajam foto keluarga kecil putranya.
          ...
          “Haaahh...” desah Ryosuke. Ia berdiri memandang keluar jendela dengan tangan yang dimasukkan kesaku jaket yang dipakainya. “Kau akan baik-baik saja tanpa aku, kan? tsh. Aku harap akan selalu melihat senyummu” gumamnya, tatapan matanya menjadi sendu.
~o0o~
          “Kenapa dia tidak pernah datang menjengukku ya? Apa terjadi sesuatu padanya?” gumam Hoshi yang menatap keluar jendela rumah sakit. Beberapa kali dia hanya mendesah. “Tada... aku datang lagi” seru Yuto dengan senyum cerianya. Hoshi tersenyum menyambutnya. “Nah, ini... aku membawakan buah apel untukmu” ucap Yuto menunjukkan sekeranjang apel yang dibawanya. “Un. Arigatou” ucap Hoshi, lalu kembali memandang keluar.
          “Kau merindukan Ryosuke ya?” tebak Yuto. “Ha?” Hoshi menoleh kearahnya. “Aku sendiri tidak pernah melihatnya sejak kejadian itu. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Dia itu benar-benar jahat. Saat hari kau hilang dia selalu panik dan tak pernah istirahat untuk mencarimu, aku, Hikka-niichan, Kei-niichan dan juga Tsuki juga khawatir padanya. Kurasa ada suatu hal besar yang disembunyikan” gumam Yuto. “Ah, yang terpenting, cepatlah sembuh, dan kembali berkumpul dengan kami” tambah Yuto. Hoshi hanya diam mendengarnya, ‘Ryosuke? arigatou’ batinnya.
          ...
          Esoknya Hoshi sudah bisa pulang, ia di jemput oleh kakak dan Ibunya. Dan esoknya lagi dia baru boleh sekolah.
          Kini mereka tengah duduk di ruang keluarga. “Oniichan. Apa kau tahu siapa yang menculikku?” tanya Hoshi. “Entahlah, kami tidak menemukan jejak apapun tentang mereka. Aku rasa ini adalah ulah klan Akatsuki” ujar Hikka. “Sudah dari dulu klan itu menjadi musuh Hyuga” sahut Ibunya. “Benarkah? Tapi... kenapa Ojiisama malah menjodohkanku dengan orang Akatsuki?” tanya Hoshi. “Mungkin, rencana perdamaian itu hanya akal licik mereka untuk merebut kekuasaan Hyuga” . “Ojiisama juga pernah bilang seperti itu. Aku masih bingung. Oniichan, Okaasan, besok aku ingin pergi ke rumah Ojiisama untuk menanyakan hal ini” . “Baiklah. Sekarang sebaiknya kau istirahat” ucap Ibunya. “Un. Oyasumi nasai” Hoshi pun pergi kekamarnya.
~o0o~
          Hoshi menemui kakeknya di rumahnya. Melihat Hoshi datang kakeknya langsung memeluknya dengan erat. “Kau baik-baik saja?” tanya kakeknya. “Hmm. Semua juga atas bantuan dari orang-orang Ojiisama” ucap Hoshi. “Yokatta” syukur kakeknya, lalu mengajak Hoshi duduk.
          “Ojiisama. Aku mau menanyakan sesuatu padamu” kata Hoshi. “Apa?” . “Soal penculikanku itu? Apa benar itu ulah klan Akatsuki?” . “Iya, siapa lagi. Mereka sudah berencana menghilangkan penerus klan kita agar mereka bisa mudah merampas kekuasaan kita” . “Tapi, yang kubingungkan. Kenapa Ojiisama malah menyetujui perjodohan itu? Apa Ojiisama juga menginginkan aku dibunuh oleh mereka?” . “Apa yang kau katakan? Mana mungkin seperti itu? Ini Ojiisama lakukan agar Ojiisama bisa lebih mudah mencari tahu akal bejat mereka. Justru dengan begini keamananmu akan terjamin, karena semua orang akan bersimpati padamu nanti. Akan banyak orang yang melindungimu. Kau ini adalah cucuku satu-satunya. Kenapa kau bisa berfikir seperti itu” . “Sumimasen, Ojiisama. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi, jujur aku tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang membuat orang tuaku meninggal” . “Tidak akan”. Hoshi menatap kakeknya bingung. “Ini tidak akan berlangsung lama, sebatas pertunangan, dan selama itu aku akan langsung menemukan cara untuk menjatuhkan klan itu dan kau akan terbebas. Jadi, kau harus bersabar”. Hoshi tersenyum mendengarnya, namun ia merasa hatinya tak percaya dengan ucapan kakeknya itu. Ia pun hanya bisa menerimanya sekarang.
          Mereka berdua pun menikmati makan malam bersama.
~o0o~
          “Jadi, Ryosuke jarang masuk sekolah?” pekik Hoshi. Tsuki yang diajak bicara hanya mengangguk. “Dia merasa bersalah padamu” ucapnya. “Kenapa? Kenapa dia merasa bersalah?” . “Karena dia meninggalkanmu saat itu, sehingga kau diculik, dia terus saja menyalahkan dirinya” ujar Tsuki. ‘Dia benar-benar aneh. Jika memang seperti itu, seharusnya dia kan menemuiku’ pikir Hoshi. ‘Gomen, Hoshi-chan aku harus berbohong padamu’ batin Tsuki.
~o0o~
           Ini adalah hari pertama Hoshi untuk menghadiri pertemuan bisnis dan juga perkenalannya dengan para pebisnis lainnya. Ia akan bertemu banyak orang baru dan yang pasti orang yang akan dijodohkan dengannya itu. Kalau bisa memilih, ia akan berlari pergi daripada dijodohkan seperti ini. Tapi, ia menghormati kakek dan juga klannya, serta tujuannya untuk menciptakan dunia yang damai seperti impian orang tuanya.
          “Kau harus bersikap baik. Jangan menunduk, tegakkan badanmu dan selalu tunjukkan keramahan klan Hyuga” nasehat Ibunya sambil merias Hoshi. “Uhh... hai. Huhh” Hoshi terus mengatur nafasnya menghilangkan rasa gugupnya.
          ...
          Sementara itu di klan Akatsuki. Ryosuke masih duduk tenang di kamarnya, tak lama kemudian Kei dan Tsuki datang.
          “Ryosuke-sama. Saatnya anda berangkat” ucap Kei. “Un. Ryosuke-niisama. Hoshi-chan menitipkan surat untukmu” kata Tsuki, lalu menyerahkan surat itu. “Apa?” Ryosuke memperhatikan surat itu, dengan segera ia membukanya dan membacanya.

Ryosuke-kun.
Sudah beberapa hari aku tidak melihatmu. Apa kau baik-baik saja? Aku harap begitu.
Sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku kemarin. Terima kasih juga sudah selalu mengkhawatirkanku selama ini. Arigatou. Selama ini aku tidak pernah membencimu, hanya saja kau selalu menggangguku dan itu sangat menyebalkan.
Tapi, entah kenapa sekarang saat kau tidak ada aku merindukan hal itu. Ahh, agak aneh ya? Aku sendiri juga bingung dengan sikapmu dan juga perasaanku. Aku mendengar semua tentangmu dari Yuto. Tapi aku tidak terlalu percaya sebelum aku mendengarnya sendiri darimu.
Ryosuke-kun. Mungkin aku menyukaimu sekarang. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Mungkin nanti kita tidak bisa bertemu lagi, tapi aku harap, kita akan tetap menjadi teman yang baik seperti dulu. Arigatou to Gomenasai.

Hoshi Haruka *.*

          Ryosuke sangat terkejut membacanya. “Ka?” gumamnya sedih. Ini sudah terlambat sekarang. Jika saja ia mengetahuinya sejak dulu. ‘Ahhh’ teriaknya dalam hati. “Ryosuke-sama. Sudah saatnya” ucap Kei lagi. Ryosuke menatap Tsuki. “Arigatou” ucapnya. “Un. Ini pilihan terbaik” hibur Tsuki. Ryosuke pun pergi.
          Di mobil ayahnya sudah menunggunya. Ryosuke masuk kedalam mobil dengan ekspresi datar. “Bersikaplah baik di acara nanti” ucap ayahnya. Ryosuke hanya diam sambil menatap lurus kedepan. Mobil pun melesat menuju gedung pertemuan.
          ...
          Di sebuah gedung yang begitu mewah, banyak sekali orang yang sudah datang. Sebagian besar adalah para jutawan dan bangsawan. Penampilan mereka sangat glamour, mobil-mobil mewah berjajar rapi dihalaman gedung. Dari kaki hingga kepala mereka semua barang yang dipakai berharga jutaan. Seperti biasa, acara-acara seperti ini digunakan sebagai ajang pamer kekayaan.
          Mobil yang membawa Ryosuke dan ayahnya telah sampai. Segera seorang penjaga membukakan pintu untuk mereka, bahkan sebelum kaki mereka menyentuh lantai, sebuah karpet merah digelar sampai kepintu utama gedung pertemuan. Saat Ryosuke keluar semua mata tertuju padanya. Memang ini kali pertama Ryosuke muncul diacara seperti ini. Dari depan mobil hingga kedalam area utama ia selalu menjadi bahan bicaraan. Ryosuke diperkenalkan kepada semua rekan bisnis oleh ayahnya, dengan ramah Ryosuke menunjukkan senyumnya, namun dalam hatinya ia sangat malas.
          Semuanya sudah berkumpul di ruangan yang disediakan untuk menikmati hidangan sebelum acara dimulai. Tak lama kemudian pemimpin klan Hyuga yang ditunggu pun datang. Kembali semua dikejutkan dengan kehadiran seorang baru. Dia adalah Hoshi, kini semua mata tertuju padanya. Tentu saja, karena dia adalah putri yang ditunggu selama ini. Hoshi mencoba bersikap tenang dan menunjukkan senyumnya. ‘Ini benar-benar menyesakkan. Semuanya mengenakan pakaian mahal dan bermerk. Hhh, aku harus tenang’ batinnya.
          Ryosuke dan ayahnya menatap ketua klan Hyuga dan putrinya itu. “Dia?” lirih Ryosuke seakan tak percaya, begitupun ayahnya. Setelah itu semuanya memulai acara itu.
          Hachi Hashirama, memulai sambutannya dan memperkenalkan Hoshi secara resmi sebagai pewarisnya.
          ‘jadi, dia adalah putrimu Kouta? Mizuki?’ batin ayah Ryosuke. “Ka... jadi dia?” gumam Ryosuke lirih sambil terus menatap Hoshi.
          Di ujung lain, Kudaime Akatsuki juga memperkenalkan secara resmi putranya sebagai pewarisnya, yaitu Ryosuke.
          ‘Ryosuke?’ Hoshi tak kalah terkejut saat melihat itu, berkali-kali ia mengerjapkan matanya hanya untuk memastikan apa yang dilihatnya. ‘Ahh? Jadi...?’
          Acara itu dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian perdamaian dan juga perjodohan antara Hyuga dan Akatsuki. Sedang Ryosuke dan Hoshi saling menatap satu sama lain. Apakah mereka merasa senang atau malah sedih dengan semua ini. Benar-benar tidak bisa dipercaya.
          Acara itu diliput diseluruh channel TV. Tsuki, Yuto, Kei, Hikka dan semua yang kenal mereka berdua tak percaya melihatnya. Ini sebuah takdir yang aneh dan rumit. Acara itu telah menjadi trending topic dalam sekejap.
~o0o~
          Hoshi terduduk lemas dikursinya. Ia bahkan tidak bisa mempercayainya. Bagaimana bisa Ryosuke yang selama ini selalu mengganggunya, orang yang bodoh dan orang yang berhasil meluluhkan hatinya adalah pewaris klan Akatsuki yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal dan bahkan ingin membunuhnya juga. Tak terasa air mata telah membasahi pipinya. Ibu dan kakaknya menghampirinya. “Okaasan...” pekik Hoshi diantara tangisnya. Ia langsung memeluk ibunya itu. “Kenapa harus dia?” ratapnya sedih. “Ingat, Himemiya. Kau harus kuat. Apapun yang kau lakukan percayai hatimu” hibur ibunya. Mendengar kalimat terakhir ibunya, ia teringat saat Ryosuke juga mengatakan hal yang sama saat itu. “Hiks... hiks..” tangis Hoshi semakin deras. Ibunya memeluknya semakin erat, sedang Hikka yang sebenarnya sudah tahu sejak awal hanya memandang sedih adiknya itu. Kalau ditanya apa ia benci dengan Akatsuki, jawabannya adalah iya, karena mereka juga ayahnya meninggal. Tapi, selama ini ia menyembunyikannya, karena tidak semua orang Akatsuki seperti itu, seperti Kei, Tsuki dan juga Ryosuke. Entah bagaimana, hatinya mempercayai mereka.
          ...
          Begitupun di Akatsuki. Hati Ryosuke seperti tertusuk. “Bagaimana ini terjadi, Oniichan?” ratap Ryosuke pada Kei. “Ini adalah saatnya kau mengambil keputusan. Apa kau akan tetap mengikuti keinginan ayahmu atau kau ingin menjadikan ini sebagai perwujudan perdamaian yang sebenarnya?” ujar Kei. Ryosuke terdiam mendengarnya. Hatinya sangat ingin bersama Hoshi dan ia berfikir mungkin dengan begini dia akan bisa melindungi Hoshi. Dan soal penculikan Hoshi, mungkin ada kaitannya dengan hal ini juga. “Sepertinya aku akan tetap melakukannya. Aku harus melindunginya. Kurasa ini ada hubungannya dengan penculikan kemarin. Mungkin ayah sudah tahu siapa dia, dan tujuannya menculik Hoshi bukan karena aku, tapi karena Hoshi adalah pewaris Hyuga” ujar Ryosuke. “Bisa jadi. Tapi, aku menemukan sesuatu yang janggal dengan penculikan itu. Aku tidak menemukan tanda klan Akatsuki yang melakukannya” gumam Kei.
          “Apa maksudmu?” . “Entahlah, aku tidak yakin. Tapi saat itu Tsuki mendengar sendiri rencana Kudaime-sama”. Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.
~o0o~
          Benar yang dipikirkan Hoshi selama ini. Kini semua orang memandangnya berbeda, bahkan mereka takut mendekatinya setelah tahu siapa dia yang sebenarnya. Begitupun Ryosuke, semua gadis alay yang selalu mengerubunginya setiap hari kini semua menghindar. Mereka berdua seakan terasingkan.
          Hoshi juga seakan menghindar dari Ryosuke, ia masih tak percaya dengan semua ini. Ia kembali menjadi seperti dirinya yang dulu, ya, tidak akan terlalu sulit.
          Ia duduk dibangku taman sambil membaca bukunya. Tak lama kemudian Tsuki dan Yuto datang. “Hoshi-chan” sapa Tsuki langsung duduk disampingnya sedang Yuto berdiri bersandar dipohon dekat bangku itu. Hoshi hanya tersenyum, “Kalian tidak takut berada didekatku?” tanyanya. “Kenapa takut? Memang kau hantu?” canda Tsuki disambung senyum damai Yuto. “Sebenarnya. Aku ingin minta maaf, aku dulu mencoba menghalangi hubungan kalian. Aku tidak tahu kalau kau sebenarnya adalah... ahh dan maafkan aku karena selama ini aku tidak memberitahumu siapa kami sebenarnya. Itu karena kami ingin berteman seperti yang lainnya” ujar Tsuki. Hoshi memang merasa kecewa, tapi ia mencoba tersenyum, “Hnm, arigatou sudah mengatakannya. Aku juga minta maaf sudah berbohong” ucap Hoshi. “Sejujurnya ya, diantara kalian yang tidak tahu apa-apa hanya aku. Bagaimana bisa aku punya teman yang begitu dekat denganku, tapi aku tidak tahu siapa mereka. Kalian jahat sekali padaku” rutuk Yuto. “Bukan begitu” sahut Tsuki. “Hmm, kami tidak bermaksud begitu. Bagaimanapun juga Arigatou sudah menjadi temanku” tambah Hoshi.
          Ryosuke yang tengah berjalan seorang diri melihat Hoshi sedang bersama Tsuki dan Yuto. Ia pun menghampirinya.
          “Ryosuke-niichan” panggil Tsuki saat Ryosuke datang, Yuto dan Hoshi pun menoleh kearahnya. Ryosuke melambaikan tangannya.
          “Aku harus keperpustakaan mengembalikan buku” ucap Hoshi mencoba menghindar dari Ryosuke. “Oh? Tapi?” Tsuki dan Yuto menatapnya heran. Hoshi pun pergi melewati Ryosuke tanpa menatapnya. Ryosuke yang bigung dengan sikap Hoshi langsung mencegahnya dengan menarik tangannya. “Ka? Ada apa denganmu?” kerasnya. Hoshi menatapnya tajam, namun matanya berkaca-kaca. “Sudah kubilang aku benci dipanggil seperti itu. Lepaskan” berontaknya mencoba melepaskan genggaman tangan Ryosuke. Melihat hal itu, Tsuki dan Yuto memilih pergi.
          ...
          “Ada apa denganmu? Huh? Kenapa kau jadi berubah?” tanya Ryosuke. “Aku tidak berubah. Bukankah aku selalu seperti ini” keras Hoshi. “Tidak. Ini bukan dirimu” . “Kau benar-benar menyebalkan. Kumohon Berhentilah menggangguku. Kenapa kau terus menggangguku seperti ini, huh?” air mata Hoshi mulai mengalir. “Sebenarnya kenapa? Kenapa kau seperti ini?” Ryosuke merasa sesak di hatinya saat melihat airmata itu. Hoshi langsung menepis tangan Ryosuke dan pergi.
          “Aku mengganggumu karena aku ingin balas dendam padamu” teriak Ryosuke. Mendengarnya Hoshi menghentikan langkahnya dan menatap nanar Ryosuke. “Aku ingin balas dendam karena kau selalu mengganggu pikiranku saat pertama kali melihatmu. Hoshi Haruka” tambah Ryosuke. Hoshi terdiam seketika namun air matanya turun semakin deras. Mendengar hal itu hatinya benar-benar sakit. Ryosuke mendekatinya.
          “Apa kau menghindariku karena aku adalah anggota klan Akatsuki? Benar kan?” tanya Ryosuke sedikit lembut. “Hikz... Hikz... kenapa harus seperti ini? Kenapa kau harus dari klan yang membuat orangtuaku meninggal, kenapa harus kau yang menjadi musuhku?” tangis Hoshi pecah. “Aku tidak sama dengan ayahku. Bahkan aku sendiri kehilangan ibu dan kakakku karenanya. Apa kau tidak percaya padaku?” yakin Ryosuke. “Bagaimana kau bisa mempercayai musuhmu?” . “Jadi kau menganggapku musuh? Tapi aku tidak, aku menganggapmu hanya sebagai Ka yang kukenal selama ini. Ka yang kucintai selama ini” . “Kumohon hentikan. Aku tahu ini hanya akal licikmu untuk menjebakku kan? aku tahu tentang penculikanku kemarin direncanakan oleh ayahmu” . “Kubilang aku tidak seperti ayahku, dan selamanya tidak akan pernah”
          Hoshi hanya bisa menangis. “Percayalah padaku. Bukankah kita pernah bertekad untuk mewujudkan dunia yang damai dan bahagia? Apa kau lupa?” Ryosuke menatap manik mata Hoshi meyakinkan. “Apa kau akan berhenti disini? Apa kau akan menyerah hanya karena hal ini?” ucapnya. Tangis Hoshi kembali pecah. Ryosuke langsung memeluknya. “Apa aku harus percaya padamu?” lirih Hoshi. “Bukankah pernah kubilang, jika kau tidak bisa percaya siapapun, cukup percayai saja hatimu” ucap Ryosuke. hati Hoshi mulai luluh. Ia memeluk erat Ryosuke. “Kau janji tidak akan mengkhianati kepercayaanku?” tanyanya lagi. “Aku janji. Kita akan berjuang bersama untuk memewujudkan impian kita” yakin Ryosuke sambil melepas pelukannya dan menghapus air mata Hoshi. “Bukankah ku bilang jangan mudah menunjukkan airmatamu di depan orang lain” ucapnya. Hoshi tersenyum. Entah dia benar-benar akan mempercayai Ryosuke sebagai orang yang dicintainya atau sebagai orang yang dibencinya.
          Angin berhembus cepat. Bunyi gemerisik dedaunan. Akan membawa perubahan... ...
~o0o~
          Hoshi dan Ryosuke akhirnya menjalani semuanya. Namun, disisi lain, mereka menciptakan suatu kelompok tersendiri, kelompok kecil yang tidak memihak satu sama lain. Namun, itu dirahasiakan. Mereka tetap berpura-pura memihak klan masing-masing. Hal ini mereka tujukan untuk menguak semua misteri yang selama ini menjadi dasar permusuhan antar klan. Dibantu oleh, Kei, Hikka, Tsuki dan Yuto.
          Mereka berenam berkumpul di markas rahasia mereka.
          “Kurasa kecurigaanku benar. Orang-orang yang menculik Hoshi bukan bagian dari klan Akatsuki” ucap Kei. “Apa maksud Oniichan?” tanya Tsuki. “Lihat ini. Klan Akatsuki melarang keras penggunaan alkohol jenis ini” Kei menunjukkan sapu tangan yang ditemukannya ditempat Hoshi diculik dulu. Satu persatu mereka menghirup baunya. “Ini memang banyak digunakan sebagai campuran minyak wangi dan jarang orang menggunakannya dengan murni seperti ini” ucap Kei. “Bagaimana Kei-niichan bisa tahu?” tanya Yuto. “Aku dan Kei pernah bekerja di sebuah pabrik minyak wangi di Osaka dulu” sahut Hikka. Disambung anggukan Kei.
          “Aku pernah sekali mencium bau ini, tapi dimananya aku lupa” tambah Hikka. “Lalu kalau bukan dari Akatsuki, lalu siapa lagi? Yang menginginkan kematian Hoshi hanya Akatsuki....?” gumam Tsuki. Hoshi dan Ryosuke hanya diam mendengarnya. “Kalian berdua tetaplah seperti biasanya. Sampai kami menemukan siapa dalang semua ini” kata Kei. “Dan yang lainnya, kita akan terus mengawasi mereka berdua, terutama Hoshi” tambah Hikka. Semuanya mengangguk.
~o0o~
          Hari ini acara makan malam dirumah Ryosuke. Hoshi hadir sebagai tamu undangan dari Kudaime Akatsuki.
          Kini mereka bertiga duduk mengitari meja makan dengan segala macam hidangannya.
          “Hoshi-sama, kau memang sangat cantik” puji ayah Ryosuke. “Arigatou gozaimasu” ucap Hoshi. “Jadi kalian adalah teman sekelas?” . “Hai” . “Berarti kalian sangat dekat. Oh ya, kenapa kau mau menerima perjodohan ini. Apa karena kau memang sudah menyukai Ryosuke sejak dulu? Atau karena hal yang lain?” . Hoshi bingung harus menjawab apa. Ia menatap Ryosuke. Ryosuke hanya mengangguk memberi isyarat. “Saya hanya ingin mewujudkan perdamaian itu. Dan menghentikan adanya korban yang akan terbunuh lagi” jawab Hoshi dengan tegas. Kudaime tercekat saat mendengar itu. “Ahaha.. ya tentu saja. Bukankah memang itu tujuan perdamaian?” ucapnya setelahnya. “Hai”. Setelah itu mereka hanya diam menikmati makan malam itu hanya terdengar suara sendok dan juga sumpit yang menciptakan instrument yang biasa kita dengar saat makan..
          Saat Hoshi berbincang dan makan bersama ayah Ryosuke, ia tidak merasa ayah Ryosuke jahat. Tapi, itu hanya perasaan. Kenyataannya ia adalah orang yang sangat kejam yang tega membunuh keluarganya sendiri hanya demi kekuasaan. Dan dia juga yang menyebabkan orangtuanya dan juga ayah kakaknya meninggal. Dia adalah orang yang dibencinya. Dia sendiri bingung, bagaimana ia bisa hidup dengan dibenci banyak orang? Ya, mungkin karena memang dia tidak punya hati.
          Ryosuke yang sejak tadi diam, hanya memperhatikan ayahnya. Ia melihat ayahnya terus memperhatikan Hoshi seakan ingin melakukan sesuatu padanya. Ia sangat ingin mengajak Hoshi pergi dari situ, namun, ia hanya bisa diam dan membiarkan ini sesuai rencana. Ia sudah bosan dengan begitu banyak kejahatan ayahnya, dia sangat membenci ayahnya yang seperti itu. Oleh karena itu ia bersikeras untuk mengakhiri semuanya. Dia harus berusaha keras untuk itu.
~o0o~
          “Bagaimana perkembangannya?” tanya Hoshi pada kakaknya. “Kami melakukan penyelidikan lebih lanjut, dan kemarin kami berhasil menangkap si penculik itu” jawab Hikka. Hoshi memandang kakaknya seakan penuh tanya. “Penculik itu bukan dari klan kita ataupun dari klan Akatsuki. Dia dari Kazegakure (Negeri Angin)” tambah Hikka. Hoshi berfikir sebentar, seperti pernah mendengar nama klan itu. “Matte... bukankah itu adalah bagian dari klan kita? Kazegakure masuk menjadi anggota klan kita sekitar 2 tahun yang lalu. Dari buku yang pernah kubaca, klan itu tinggal didaerah terpencil sekitar Nara” gumam Hoshi. “Benarkah? Apa kau yakin?” tanya Hikka. “Kurasa begitu. Apa artinya dalang semua ini adalah klan kita sendiri?” gumam Hoshi tak percaya. Mereka berdua perpikiran yang sama. “Kita harus menyelidiki lebih lanjut lagi, Oniichan aku mohon bantuanmu” . Hikka mengangguk pasti.
          Seorang wanita mendengar pembicaraan antara mereka langsung pergi menuju ruangan Hashirama.
          Entah apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat Hashirama begitu geram.
~o0o~
          Hoshi kini hidupnya benar-benar tidak tenang, ia hanya dibayangi rasa takut, hampir setiap waktu bahaya seakan mengintainya, bahkan dirumahnya sendiri. Ia tahu bagaimana resiko memasuki dunianya ini. Tapi, yang tidak terfikirkan olehnya, banyak sekali misteri yang belum terpecahkan. Ia hanya bisa percaya dengan teman-teman dekatnya saja. Ucapan Ryosuke benar, bahwa sebagaimanapun kita mencoba menghapuskan kesepian dalam hati kita, kita tetap akan merasakannya. Ya, Ryosuke lah yang selalu memberinya semangat dan bersamanya lah ia berjuang untuk perdamaian ini.
          ...
          Kei, Hikka, Tsuki dan Yuto melakukan pertemuan dimarkas mereka. Rencana pertunangan antara Hoshi dan Ryosuke sudah terdengar dimana-mana. Di acara ini mungkin akan menjadi saat paling bagus untuk melancarkan serangan. Mereka berempat membuat rencana penjagaan untuk mereka berdua.
          “Bagaimana ini? Apa penyelidikan ini benar?” gumam Kei. “Aku juga bingung. Justru semua bukti mengarah kepada klan Hyuga. Ini tidak masuk akal jika Hyuga ingin membunuh penerusnya sendiri” gumam Hikka. “Tapi, itu bisa juga terjadi. Seperti kakak dan ibu Ryosuke-niisama. Mereka juga jadi korban dalam konspirasi rumit ini” sahut Tsuki. “Bagaimanapun caranya kita harus membantu mereka untuk mewujudkan perdamaian itu. Kita harus mengantisipasi berbagai macam serangan yang terjadi” kata Yuto. Mereka berempat pun berunding.
          ...
          Selain desas-desus petunangan mewah antar dua klan itu, juga terdengar desas-desus rencana penyerangan untuk pewaris Hyuga. Oleh karena itu, rumah kediaman Hoshi dan kakeknya dijaga super ketat, bahkan Hoshi tidak bisa keluar bahkan untuk sekolah untuk menghindari hal buruk yang akan terjadi. Dan, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh menemuinya.
          ...
          Hoshi berjalan-jalan keliling rumahnya untuk melepas kejenuhan. Dan ia menemukan sebuah ruangan kecil di ujung taman, ia pun memasukinya.    Ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku dan beberapa alat lukis. Ruangan yang bisa dibilang sebagai rumah kaca itu memang sangat indah. Ia pernah melihatnya saat pertama kali kesini namun ia tak berani memasukinya. Ia melihat banyak sekali benda-benda tua dan juga sebuah alat musik, yaitu gitar. Dan dibadan gitarnya terukir nama Kouta & Mizuki.
          Hoshi tersenyum melihatnya, mungkin ini adalah ruangan pribadi ayah dan ibunya dulu. Ia pun menuju rak buku dan mengambil sebuah buku yang terlihat seperti album kenangan. Ia duduk dikursi baca yang disediakan. Ia sangat takjub melihat isinya, semua berisi tentang kebersamaan ayah ibunya, mulai dari perkenalan mereka saat dibangku sekolah, dan bagaimana mereka saling mencintai dan menunjukkan cinta satu sama lain, pernikahan mereka, dan bahkan foto kehamilan ibunya pun ada. Terlihat begitu menarik dan indah. Ia bisa membayangkan sebesar apa cinta mereka berdua, dibalik kesibukannya, mereka masih bisa menyempatkan waktu untuk bersama. “Apa aku bisa seperti kalian?” gumam Hoshi. Dia merasa sedih karena tak pernah tersentuh oleh cinta dan kasih sayang mereka.
          “Bukankah ini? Ayah Ryosuke?” gumam Hoshi saat melihat sebuah foto, ia membolak-balik halamannya dan melihat begitu banyak orang itu disana, sepertinya ia sangat dekat dengan ayahnya, seperti seorang sahabat. Dari situ ia menyimpulkan bahwa Ayah Ryosuke dan Ayahnya adalah teman akrab sejak bangku sekolah. Bahkan ada saat acara pernikahan antara ayah dan ibu Ryosuke dimana ayah Ryosuke menjahili ayahnya dengan mencoretkan krim kue kewajahnya, dan difoto itu mereka tertawa lepas. Jika semua itu benar, lalu kenapa ayah Ryosuke tega membunuh ayah dan ibunya. Jangan-jangan benar jika yang menginginkan kematiannya bukanlah Akatsuki, tapi Hyuga sendiri dan kakeknya?. Tubuh Hoshi terasa lemas mengetahui hal itu. Bagaimana bisa ia melawan kakeknya sendiri.
~o0o~
          Hoshi bertemu Ryosuke dan juga teman-temannya sehari sebelum acara pertunangannya akan berlangsung. Mereka sudah mempersiapkan dengan matang segala macam rencana untuk melindungi Ryosuke dan terutama Hoshi. Namun, Hoshi tidak menceritakan apapun tentang apa yang dilihatnya dan didengarnya, ia memilih diam dan bermaksud menyelesaikannya sendiri.
          ...
          Hari pertunangan mereka berdua pun tiba. Acaranya benar-benar besar dan mewah, dengan lokasi outdoor dan penataan dekorasi yang sangat mengagumkan. Dengan nuansa serba putih dan lampu-lampu yang kerlap-kerlip ditambah pemandangan alam yang memanjakan mata. Kalian bisa bayangkan sendiri betapa kerennya.
          Tamu undangan pun sudah mulai memenuhi tempat itu. Tentu saja yang datang adalah para pejabat dan orang-orang terkemuka di dunia. Bahkan kaisar Jepang pun hadir disana. Disana juga mengundang beberapa artis dan band ternama di Jepang, yaitu Hey! Say! JUMP dan yang pasti MOONSTAR sebagai penambah hiburan acara itu. Tidak hanya dekorasi dan tempat saja yang mewah, namun, makanan dan juga minuman yang dihidangkan pun berkelas dunia yang dimasak oleh para koki kelas internasional yang sengaja didatangkan dari Italia. Melihat makanannya saja siapapun akan tergiur untuk mencicipinya. Selain itu penjagaan juga semakin diperketat, baik dari Hyuga maupun Akatsuki, semua mengirimkan banyak orang sebagai penjaga selama acara itu berlangsung.
          Cukup menceritakan tempat acara. Kita masuk kedalam menuju tempat rias sang Putri malam ini. Disebuah ruangan yang cukup besar banyak wanita berlalu lalang mengambil ini itu, sedang Hoshi duduk di kursi rias, dan seorang wanita dan juga ibunya tengah meriasnya. Hoshi terus menarik nafasnya dalam, mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Tak lama kemudian Tsuki datang membawakan sesuatu untuknya. “Hoshi-chan ada surat untukmu” ucap Tsuki. “Humm” Hoshi pun membacanya. Sebentar, lalu meremas kertas itu. “Semuanya sudah siap” panggil Hikka. “Iya, sebentar lagi” jawab Ibunya. Hoshi pun segera bersiap, ia didampingi Ibunya dan juga Tsuki menuju tempat acara.
          ...
          “Ah, itu dia Himemiya sudah tiba” pekik seorang wanita yang berpakaian seperti seorang wartawan, membuat para wartawan lainnya menghampirinya. Dengan sigap para penjaga mencoba menertibkan jalan yang akan dilalui Hoshi. Berbagai pertanyaan dari para wartawan itu menyerbunya. Tapi, Hoshi hanya diam, tanpa komentar. Di panggung yang disediakan Ryosuke dan ayahnya sudah menunggu di sana. Hoshi disambut kakeknya dan mereka menuju kepanggung itu bersama.
          Acara penyematan cincin pertunangan pun dimulai. Mereka bersikap seperti biasa, namun kebahagiaan mereka bukan kebohongan, mereka benar-benar merasa bahagia. Acara itu berlangsung begitu meriah. Dan dipertengahan acara Hoshi berdiri di panggung sambil memegang microfon, Ryosuke berdiri bersama para tamu dan ayahnya tak jauh dari panggung. Hikka, Kei dan Tsuki juga sudah siap ditempatnya.
          Hoshi menarik nafas dalam-dalam, dan menatap semua tamu undangan termasuk kakeknya.
          “Minna-sama... saya Hoshi Haruka putri dari Hyuga ingin mengatakan sesuatu. Jadi, saya mohon perhatiannya sebentar” ucap Hoshi. Semua bertanya-tanya apa yang dilakukan Hoshi disana. Tapi, mereka tetap memperhatikannya untuk mencari tahu.
          “Saya. Hoshi Haruka dari klan Hyuga. Menolak perjodohan ini” Hoshi melepas cincin pertunangannya. Semuanya sangat terkejut. “Ada banyak alasan kenapa saya melakukan ini. Pertama, Akatsuki adalah klan yang sangat saya benci, klan yang membuat orang tua saya meninggal 19 tahun lalu. Ayah saya, Ku Hashirama Kouta adalah seorang yang sangat berjasa dalam dunia bisnis ini, beliau sudah berhasil mengungkap kejahatan dari klan Akatsuki. Dan sampai sekarang kejahatan mereka tidak pernah berhenti. 3 minggu lalu mereka berusaha untuk menculik dan membunuh saya, dan saya punya banyak bukti tentang itu”. Semua semakin terkejut mendengarnya.
          Kudaime Akatsuki, Ryosuke, dan Hachi Hashirama, mereka tak kalah terkejut Hoshi akan mengatakan hal itu. “Perdamaian yang dikatakan selama ini hanyalah sebuah konspirasi untuk menguasai kekayaan klan kami. Dia, Kudaime Akatsuki, bahkan tega membunuh istri dan juga putra sulungnya” pekik Hoshi sambil menunjuk ayah Ryosuke yang begitu geram mendengarnya. “Kau. Beraninya kau mengatakan hal itu. Kau” geramnya. “Kenapa? Apa anda marah? Mungkin hanya itu yang anda bisa. Apa selama ini anda mengerti bagaimana rasanya kasih sayang? Bagaimana rasanya cinta? Orang kejam seperti anda tidak punya perasaan itu kan?”.
          Tidak ada yang berani bergerak dalam perdebatan itu. “Anda. Apa anda tahu apa yang dirasakan oleh putra anda selama ini? Ia menanggung beban berat karena anda. Pernahkah sekali anda bersikap manis padanya? Pernahkah anda mengucapkan selamat ulang tahun padanya? Mengucapkan selamat atas kesuksesannya? Ataupun menyanyikan lagu tidur untuknya? Apa anda pernah?” ucap Hoshi menggebu, sambil menatap Ryosuke. Ryosuke menatap Hoshi berkaca-kaca.
          “Cukup. Kau gadis lancang. Beraninya kau. Apa yang kau tahu tentangku dan keluargaku hanyalah omong kosong. Kalian jangan mendengar ucapannya. Apa kalian tahu bahwa Klan Hyuga yang selama ini terlihat baik. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang tak punya pikiran, hanya mengandalkan perasaan yang tidak berguna. Mereka adalah orang-orang yang lebih buruk dari binatang” kecam Kudaime Akatsuki.
          “Benar, tapi, apakah anda bisa mengalahkan kumpulan binatang itu? Tch, bahkan anda mencoba merampas kekuasaan para binatang itu. Kakek terdahuluku Ichi Hashirama-sama yang membangun klan ini adalah teman baik dari Iddaime Akatsuki, namun Iddaime Akatsuki yang sengaja mengianati Hyuga. Itu adalah kenyataan. Jadi, sampai kapanpun, perdamaian ini hanya akan sia-sia”.
          “Prajurit tangkap gadis itu” perintah Kudaime Akatsuki. “Lindungi Himemiya” perintah Hachi Hashirama. “Lebih baik akui saja semuanya. Maka kami akan melepaskanmu” tambah beliau.
          Tiba-tiba Ryosuke maju kedepan dan mengambil microfon. “Hentikan semua ini. Aku Ryosuke Akatsuki putra dari Kudaime Akatsuki. Mengakui semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kami. Dan juga semua yang dilakukan ayah saya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Dan kepada Hoshi Haruka, saya mengucapkan terima kasih karena telah mengungkapkan semua ini. Saya juga tidak ingin dijodohkan hanya untuk memperluas kekuasaan bisnis, saya tidak ingin seperti ayah saya yang rela mengorbankan orang lain hanya untuk kekuasaan. Bahkan dia tidak pantas disebut ayah” ucapnya.
          “Ryosuke” pekik ayahnya yang semakin terpojok.
          “Apa arti keluarga bagimu? Apa artinya Okaasama, Oniisama dan juga aku bagimu?” pekik Ryosuke menjadi. Kudaime Akatsuki terdiam seribu bahasa, mungkin hatinya tersayat saat mendengar itu dari mulut putranya sendiri.
          Kei dan Hikka menyadari ada seseorang yang mencurigakan dari kerumunan para tamu, ia segera bertindak menangkap orang itu sebelum, ...
          ‘DUAARR’
          “AAAA” pekik Hoshi yang langsung terjatuh kelantai. Semua berteriak histeris saat terdengar suara tembakan itu terdengar. Ryosuke sangat terkejut saat melihat Hoshi tergolek lemah di lantai, dengan segera ia besimpuh dan mengangkat kepala Hoshi, “Ka?” pekiknya, bahkan air matanya telah keluar melihat darah menodai gaun putih Hoshi. “Hoshi-chan?” pekik Ibu Hoshi, Hikka, Kei, Yuto dan Tsuki. Mereka terlambat. “Dia telah membunuh cucuku, tangkap dia. Himemiya~!!” pekik kakek Hoshi yang menghampiri Hoshi. Ia menopang kepala cucunya itu, ia menangis sedih. Semua orang mengecam Kudaime Akatsuki itu.
          Ryosuke dengan amarah yang berkobar menghampiri ayahnya dengan bringas. “Apa yang kau lakukan padanya, huh? Apa tidak puas kau merenggut ibu dan kakakku, dan sekarang kau merenggut orang yang kucintai hah? Kau ini... MANUSIA MACAM APA KAU??” pekik Ryosuke dengan mata menyala. Ayahnya hanya diam tak menjawab. “KEMBALIKAN DIA SEKARANG... HIKS... HIKS...” Ryosuke terduduk bersimpuh, air matanya tak bisa dibendungnya. Ia tidak tahu akan jadi seperti ini, dia benar-benar sudah kehilangan orang yang paling dicintainya. Hidupnya seakan sudah hancur sekarang, hanya kegelapan yang akan tersisa.
          Semua yang ada disitu menangis dan terus-menerus mengecam Kudaime Akatsuki. Hachi Hashirama masih meratapi kematian cucunya. Namun, dia menyeringai saat menatap wajah Hoshi yang baginya sudah tak bernyawa itu. “Ini karena kau sudah hampir menghancurkan rencanaku seperti ayahmu dulu. Maafkan kakekmu ini, Himemiya” lirihnya santai, hatinya seakan berteriak girang melihat kematian Hoshi.
          Tiba-tiba. LAP. Mata Hoshi terbuka lebar, membuat kakeknya terkejut dan melompat kebelakang. Semua sangat terkejut saat Hoshi bangun, mereka juga takut dan menganggap Hoshi adalah hantu. Begitupun Ryosuke, teman-temannya dan juga ibunya. “B-bagaimana.. bisa,, kau?” gagap kakeknya. Hoshi menatap kakeknya penuh kekecewaan dan kemarahan. Ia berjalan menuju kearah Ryosuke, ibu dan juga teman-temannya, ia tersenyum dan seolah mengatakan kalau dia tidak apa-apa. Ryosuke langsung memeluk Hoshi erat, seakan tak ingin membiarkan Hoshi pergi lagi. Setelah itu Hoshi menghampiri ayah Ryosuke.
          “Sumimasen Kudaime-sama, aku sudah membuatmu terpojok. Dan arigatou atas semuanya” ucap Hoshi. Ayah Ryosuke tersenyum hangat menerimanya, “Hmm, selesaikan semuanya” katanya. Semua kembali dibingungkan dengan perilaku Hoshi. Hoshi mengangguk dan kembali ke panggung membantu kakeknya berdiri.
          “Sumimasen Minna-sama telah membuat kalian bingung. Ini adalah rencana saya untuk membuktikan siapa yang benar-benar bersalah di sini. Sudah lama saya mencurigai kakek saya sendiri yang melakukan semua hal keji itu, semula saya tidak percaya dan ragu dengan hal itu, tapi, sekarang saya membuktikannya sendiri” ucap Hoshi, “Himemiya?” gumam kakeknya. “Di dalam dunia ini, sangat sulit mencari orang yang bisa kita percayai. Saya tidak mengira jika kakek saya sudah melakukan semua hal ini. Kecelakaan yang dialami orangtua saya, dan juga kematian istri serta putra sulung Kudaime Akatsuki, dan bahkan rencana pembunuhan saya, semua adalah perbuatannya. Saya mengetahuinya setelah mengumpulkan semua bukti yang ada dan juga penjelasan dari Kudaime-sama sendiri” Hoshi menatap Ayah Ryosuke. Kudaime Akatsuki memberikan senyum wibawanya. ‘Bagaimana mereka?’ batin Ryosuke menatap ayahnya dan Hoshi secara bergantian.
          “Dan, Ojiisama. Sumimasen karena aku sudah membuatmu malu seperti ini. Tapi perbuatanmu memang tidak bisa dimaafkan. Sumimasen” ucap Hoshi. Tiba-tiba Hachi Hashirama menodongkan pistolnya kearah kepala Hoshi. Membuat semua kembali tegang. “Jangan mendekat, atau kutarik pelatuknya” gertaknya. Ryosuke tak bisa membiarkan ini terjadi lagi, ia memberanikan diri untuk melawan. “Kubilang jangan mendekat” . “Tapi, dia adalah cucu anda sendiri” . “Dengarkan dia Ryosuke, aku akan baik-baik saja. Hal ini sudah bisa ditebak. Ia melakukan ini juga pada ayah dan ibuku dulu” ucap Hoshi . “Diamlah. Jangan banyak bicara” gertak Hashirama lagi.
          Hikka sudah berada dibelakang dan berhasil melumpuhkan Hachi Hashirama, Kudaime Akatsuki menyuruh beberapa orangnya untuk membekuk Hashirama. Hachi Hashirama terus meronta mencoba melepaskan diri. “Himemiya! Aku adalah kakekmu! Hei beraninya kau menangkapku, huh? Aku adalah pemimpin klan terkaya didunia. Lepaskan aku!” pekiknya bertubi-tubi. Ia pun dibawa pergi dari tempat itu.
          Semua berkumpul mengerubungi Hoshi. Tidak ada yang menyangka bahwa Hoshi melakukan hal itu.
          “Kau nekat sekali melakukan hal itu” ucap Kei. “Iya. Bagaimana kau bisa melakukannya sendiri?” tanya Tsuki. “Tidak. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Awas saja” geram Ryosuke. “Hehe. Gomen. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Semua ini juga berkat ayahmu, dia orang yang baik. Kau harus minta maaf padanya” ucap Hoshi. Kudaime Akatsuki menghampirinya. “Tapi, aku masih belum mengerti semua ini. Bagaimana kau dan dia...?” tanya Yuto.
          “Oh itu?...

          #Flashback_On
       Hoshi menghadap Kudaime Akatsuki dengan segala keberanian dirinya.
          “Aku datang untuk minta penjelasan tentang ini” Hoshi menunjukkan buku album kenangan yang ditemukannya. Kudaime memandangi semua fotoitu dengan nanar. “Kouta? Mizuki? Mereka adalah sahabat terbaikku. Hanya mereka yang mengerti aku. Mereka juga membantuku menguak kasus keji ayahku. Kau, memiliki mata yang sangat mirip dengan ibumu” . “Tapi, kenapa anda membunuh mereka?” . “Aku tidak membunuhnya. Sama sekali, bahkan aku saja tak tega melihatnya tersakiti. Saat itu setelah kelahiranmu, ayahmu mendapat firasat buruk tentang keluarga kecilnya itu. Ia menyuruhku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan sembunyi-sembunyi. Aku mengerahkan orang-orang kepercayaanku untuk melakukannya. Ia menyadari bahwa nyawanya dan keluarganya terancam, sehingga dia menitipkanmu pada istri sopir pribadinya. Aku mendapat kabar dari para bawahanku bahwa kakekmu, Hachi Hashirama bersekutu dengan ayahku untuk melakukan hal keji itu, dan ia menganggap ayahmu adalah penghalang baginya. Saat aku akan memberitahu ayahmu, aku terlambat. Dan itu adalah hal paling buruk bagiku, kehilangan mereka sudah seperti kehilangan keluargaku sendiri” tutur Kudaime.
          “Lalu bagaimana dengan kematian istri dan putra anda?”
          “Itu... Hhh. Mereka mati karena melindungiku. Saat itu Ryosuke masih kecil. Aku ingin menghadiri pertemuan dengan para klan bisnis lainnya. Tapi, istriku melarang, karena ia merasakan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi padaku. Dan benar saja tak berapa lama kemudian, seseorang bermasker tiba-tiba datang dan hampir menembak putraku, aku segera mengambil pistolku dan menembak orang itu untuk melindungi keluargaku. Namun, tiba-tiba putraku berlari kearahku dan istriku berlari menolongnya, padahal saat itu peluruku sudah melesat. Dan akhirnya mengenai mereka. Dan saat itu Ryosuke melihatnya. Sejak saat itulah Ryosuke membenciku. Hatiku benar-benar hancur saat itu” airmatanya telah membasahi pipinya. Hoshi merasa itu bukanlah kebohongan. Ia melihat kejujuran dimata ayah Ryosuke.
          Ia kembali merasa dilema. “Kudaime-sama. Aku masih belum yakin dengan semua ini. Tapi, apakah kau bisa membantuku untuk mengungkap semua ini?” tanya Hoshi. “Akan kulakukan apapun untuk menebus dosaku itu” tekad Kudaime...
          #Flashback_Off

          Semua kini terpecahkan. Ryosuke menatap ayahnya penuh rasa bersalah. “Sumimasen, Otousama... Sumimasen. Aku sudah membuatmu sedih selama ini” sesalnya sambil menatap mata ayahnya dalam. “Tidak apa-apa. Ayah juga minta maaf tidak pernah memperlakukanmu dengan baik selama ini” ucap Kudaime yang langsung memeluk putranya itu erat. Ia menatap Hoshi dan tersenyum seakan ingin mengucapkan terima kasih padanya.
          Setelah itu, acara pertunangan itupun diulang.
          “Dengan ini. Kami mengumumkan, bahwa tidak ada lagi klan Akatsuki ataupun Hyuga. Yang ada hanyalah Koigakure, negara yang bahagia, tanpa perpecahan dan persaingan lagi. Ini adalah impian yang selalu kami, aku dan Kouta bicarakan. Dan berkat mereka semua, akhirnya ini terwujud” kata Kudaime Akatsuki. Semua bersorak gembira.
~o0o~
          Kini impian untuk mewujudkan dunia yang damai dan bahagia telah terwujud. Hoshi dan Ryosuke berhasil melakukannya dengan baik. Mereka melewati jalan-jalan terjal itu bersama, dan tentunya sedikit bantuan dari teman-temannya. Ryosuke kini menjadi pemimpin Koigakure (Negara yang dipenuhi cinta) bersama Hoshi. Kisah cinta mereka benar-benar penuh liku. Saat pertama mereka saling membenci, dan akhirnya cinta itu tumbuh semakin besar dan semakin besar lagi.
          Sedang ayah Ryosuke kini duduk tenang dirumahnya, karena ia sudah pensiun. Kei dan Hikka melanjutkan pekerjaan mereka menjadi Idol Dunia yang sangat terkenal. Dan akhirnya Yuto bisa masuk Idol Group Hey! Say! JUMP seperti impiannya untuk menjadi artis, tapi terkadang ia mengeluh karena tidak bisa tidur cukup dengan jadwal yang sangat padat. Dan saat itu, Tsuki yang kini menjadi pacarnyalah yang menegurnya dan tak bosan menceramahinya.
          Haaahhh... bukankah hidup ini indah jika didasari dengan kebahagiaan dan rasa syukur atas apa yang sudah kita miliki.

∞∞∞ END ∞∞∞

Hwaah. Gimana ceritanya? Gaje ya? Aneh?. Pokoknya jangan lupa commentnya. Arigatou uda membaca dan mengoment ceritaku. See u ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biasakan untuk memberi komentar untuk posting kami. sebagai bahan koreksi kami untuk menghidupkan blog ini. Let's Comment ^^